BERITA TERKINI
Festival PAN Soroti Larisnya Kuliner Lokal NTT dan Pentingnya Diversifikasi Pangan Berbasis Budaya

Festival PAN Soroti Larisnya Kuliner Lokal NTT dan Pentingnya Diversifikasi Pangan Berbasis Budaya

Kuliner lokal Nusa Tenggara Timur (NTT) disebut laris di Festival PAN (PANFES). Namun kegiatan tersebut dinilai bukan sekadar perayaan makanan, melainkan bagian dari gagasan yang menautkan budaya dengan politik ketahanan pangan.

Dalam pandangan yang disampaikan, ketahanan pangan dianggap perlu dimulai dari budaya makan. Penyeragaman konsumsi masyarakat dari berbagai daerah untuk bergantung pada satu jenis biji-bijian dinilai dapat meningkatkan kerentanan pangan. Jika budaya makan dibuat seragam, risiko ketika terjadi gangguan pasokan juga disebut menjadi lebih tinggi.

Gagasan itu dikaitkan dengan pelajaran dari India. Disebutkan, mantan Rektor Universitas Indonesia Prof. Ari Kuncoro pernah menulis refleksi pada masa sulit pandemi Covid-19 mengenai fenomena sejumlah negara yang mampu menghadapi kemacetan atau hambatan (bottleneck) dalam rantai pasok beras dunia.

Dalam tulisan tersebut, Prof. Ari Kuncoro mempertanyakan mengapa India tidak mengalami inflasi harga pangan yang ekstrem seperti sejumlah negara lain, meski India memiliki jumlah penduduk yang sangat besar. Jawabannya, menurut paparan itu, tidak semata karena India merupakan salah satu produsen beras terbesar dunia yang menguasai sekitar 40% rantai pasok global.

Disebutkan bahwa kunci utamanya terletak pada kebudayaan dan selera makan masyarakat India yang telah mendiversifikasi preferensi pangan pokok. Masyarakat India tidak hanya bergantung pada beras, tetapi juga memiliki tradisi mengonsumsi gandum, milet, dan berbagai biji-bijian lain yang mengakar dalam keseharian.

Dengan kebiasaan makan yang beragam tersebut, ketika terjadi hambatan global pada distribusi beras, harga pangan di India disebut tidak langsung bergejolak hebat. Inflasi pangan atau volatile food dinilai lebih terkendali karena masyarakat memiliki alternatif pilihan makanan pokok.

Melalui konteks itu, festival kuliner seperti PANFES dipandang dapat menjadi ruang untuk memperkuat kembali keragaman pangan berbasis budaya, sekaligus menegaskan bahwa ketahanan pangan tidak hanya berkaitan dengan produksi, tetapi juga dengan pola konsumsi yang beragam.