BERITA TERKINI
ESB Lanjutkan Roadshow Kopdar Racik Bisnis F&B ke Bali, Dorong Pelaku Kuliner Andalkan Data Real-Time Hadapi Lipstick Effect

ESB Lanjutkan Roadshow Kopdar Racik Bisnis F&B ke Bali, Dorong Pelaku Kuliner Andalkan Data Real-Time Hadapi Lipstick Effect

PT Esensi Solusi Buana (ESB) melanjutkan roadshow nasional “Kopdar Racik Bisnis F&B” ke Bali setelah sebelumnya digelar di Bandung dan menjaring lebih dari 1.000 pelaku usaha kuliner. Di Bali, kegiatan ini mengusung tema “Meramu Strategi Tepat, Bisnis Kuliner Semakin Kuat” dan diarahkan sebagai ruang edukasi bagi pelaku usaha makanan dan minuman untuk meningkatkan daya saing melalui pemanfaatan teknologi serta data operasional secara real-time.

ESB—yang disebut sebagai penyedia ekosistem teknologi F&B terintegrasi terbesar di Indonesia dan peraih penghargaan Forbes Asia 100 to Watch 2025—memilih Bali sebagai kota kedua karena karakter pasarnya yang dinilai unik. Selain menjadi destinasi wisata dunia, pelaku usaha kuliner lokal juga berhadapan dengan persaingan merek internasional, perubahan perilaku konsumen, serta dinamika daya beli masyarakat.

Dalam kegiatan tersebut, ESB mendorong pelaku usaha mengoptimalkan digitalisasi operasional berbasis data untuk menjaga margin keuntungan dan meningkatkan efisiensi bisnis. ESB menilai kondisi industri F&B saat ini berada dalam situasi yang kontras: ekonomi Indonesia masih tumbuh positif, namun daya beli masyarakat—terutama kelas menengah—mengalami tekanan.

Tekanan itu, menurut ESB, turut memunculkan fenomena lipstick effect, yakni kecenderungan masyarakat menunda pembelian barang bernilai besar dan mengalihkan pengeluaran pada kesenangan sederhana seperti minum kopi atau makan di luar. Fenomena ini dinilai tetap membuka peluang bagi industri kuliner, meski pelaku usaha masih menghadapi tantangan, termasuk kenaikan harga bahan baku.

ESB mengutip proyeksi USDA yang memperkirakan konsumsi kopi domestik Indonesia pada periode 2026/2027 mencapai 4,83 juta kantong. Sementara di Bali, prospek sektor F&B disebut masih menjanjikan. Gubernur Bali Wayan Koster mencatat penerimaan Pajak Hotel dan Restoran (PHR) hingga Mei 2026 mencapai sekitar Rp2,89 triliun, naik sekitar Rp300 miliar dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Capaian itu menunjukkan sektor hospitality Bali tetap tumbuh dan dinilai menjadi peluang bagi pelaku usaha yang mampu beradaptasi.

Co-Founder & CEO ESB, Gunawan, mengatakan pelaku usaha tidak lagi bisa mengandalkan pengelolaan bisnis secara manual di tengah konsumen yang semakin selektif dan fluktuasi harga bahan baku global yang dapat menggerus margin.

“Masyarakat dan wisatawan di Bali tetap aktif berkuliner di luar, namun kini mereka jauh lebih selektif dalam menilai kesesuaian harga dan kualitas yang didapatkan. Di saat yang sama, fluktuasi harga bahan baku global menjadi tantangan yang menggerus margin keuntungan secara tidak kasat mata. Karena itu, digitalisasi operasional berbasis data real-time bukan lagi sekadar nilai tambah, tetapi menjadi fondasi penting menjaga ketahanan bisnis,” ujarnya dalam keterangan resmi, Kamis (25/6/2026).

Untuk mendukung kebutuhan tersebut, ESB memperkenalkan tiga solusi digital yang terintegrasi, yakni ESB POS untuk pengelolaan transaksi kasir dan operasional harian, ESB Order berupa sistem pemesanan mandiri berbasis QR Code yang diklaim dapat memangkas antrean hingga 40 persen, serta ESB Core (ERP) untuk manajemen inventori yang memantau stok secara real-time dan membantu mengurangi pemborosan bahan baku.

Sejumlah pelaku usaha turut membagikan pengalaman mereka terkait digitalisasi. Pemilik Kopi Jenar Bali, Mas Munir, mengatakan penggunaan sistem digital membantu mengatasi masalah ketidaksesuaian stok antara catatan dan kondisi di lapangan.

“Sebelum menggunakan ESB, tantangan terbesar saya adalah stok yang sering tidak sesuai antara catatan dan kondisi di lapangan. Sekarang setiap cangkir kopi yang terjual otomatis mengurangi stok sesuai gramasi. Waste lebih mudah dipantau dan kebocoran bisa diminimalkan,” katanya.

Founder 2080 Burger, Heru Dwi Soesilo, menyampaikan bahwa sistem pemesanan digital membantu meningkatkan kualitas layanan, terutama saat jam sibuk.

“Saat jam sibuk, antrean panjang sering membuat pelanggan berpindah ke tempat lain. Dengan ESB Order, pelanggan cukup memindai QR Code, memesan, dan langsung membayar melalui e-wallet. Proses menjadi lebih cepat dan perputaran meja meningkat tanpa harus menambah mesin kasir,” jelasnya.

Kopdar Racik Bisnis F&B merupakan bagian dari program edukasi berkelanjutan ESB yang direncanakan berlangsung di 10 kota besar sepanjang 2026, dari Medan hingga Makassar. Program ini juga menggandeng komunitas bisnis seperti PKID dan TDA, serta sejumlah asosiasi kuliner daerah.

Dalam pelaksanaannya, ESB turut didukung mitra strategis, antara lain BCA sebagai Official Payment Partner melalui integrasi OCEAN by BCA dengan ESB POS, GoApp yang menghadirkan solusi Customer Relationship Management (CRM) berbasis kecerdasan buatan untuk meningkatkan loyalitas pelanggan, serta IWARE sebagai penyedia perangkat keras pendukung operasional.

Gunawan menegaskan kemampuan mengelola data operasional menjadi faktor penting bagi pelaku industri kuliner ke depan, selain kualitas produk. “Keberlanjutan industri F&B di Bali kini tidak hanya bertumpu pada produktivitas di dapur, tetapi juga pada seberapa optimal pelaku usaha mengelola data bisnisnya. Keunikan cita rasa lokal yang dipadukan dengan pengelolaan berbasis teknologi akan membuat bisnis kuliner semakin kompetitif,” ujarnya.