PT Esensi Solusi Buana (ESB) menggelar Kopdar Racik Bisnis F&B di Bali sebagai bagian dari roadshow nasional bertajuk “Meramu Strategi Tepat, Bisnis Kuliner Semakin Kuat”. Kegiatan ini menjadi pemberhentian kedua setelah Bandung yang sebelumnya mencatat lebih dari 1.000 pendaftar pengusaha kuliner.
Bali dipilih karena posisinya sebagai destinasi wisata internasional yang kompetitif, di mana pelaku usaha domestik bersaing dengan merek mancanegara di tengah perubahan daya beli. Melalui forum ini, ESB menargetkan pelaku usaha kuliner lokal dapat mengamankan margin dan memperkuat daya saing dengan memanfaatkan data operasional real-time serta efisiensi sistem digital end-to-end.
ESB menilai industri F&B saat ini berada dalam situasi paradoks. Di satu sisi, ekonomi Indonesia mencatat pertumbuhan 5,61 persen pada Triwulan I-2026. Namun di sisi lain, data menunjukkan kelas menengah menyusut dari 47,9 juta orang pada 2024 menjadi 46,7 juta orang pada 2025, dengan proporsi terhadap total penduduk turun dari 21,4 persen pada 2019 menjadi 16,6 persen pada 2025. Tekanan daya beli ini memunculkan fenomena lipstick effect, ketika konsumen menahan belanja besar dan mengalihkan pengeluaran pada “kesenangan kecil” harian seperti kopi.
Fenomena tersebut tercermin dari proyeksi konsumsi kopi domestik Indonesia pada 2026/27 yang, berdasarkan laporan USDA, diperkirakan tetap tumbuh menjadi 4,83 juta kantong atau sekitar 290 ribu ton. Meski kenaikan harga biji kopi disebut sempat menekan margin pelaku usaha dan menggeser preferensi konsumen ke varian kelas menengah-bawah, permintaan pasar secara umum dinilai masih kuat.
Di Bali, potensi pasar F&B juga disebut tetap solid. Gubernur Bali Wayan Koster mencatat aktivitas ekonomi dan tingkat hunian hotel masih menunjukkan kinerja positif meski kunjungan wisatawan sempat turun tipis akibat kekhawatiran dampak konflik global dan perlambatan ekonomi. Ketahanan sektor pariwisata itu, menurut catatan yang disampaikan, terlihat dari penerimaan Pajak Hotel dan Restoran (PHR) hingga Mei 2026 yang mencapai sekitar Rp2,89 triliun, naik sekitar Rp300 miliar dibanding periode yang sama tahun 2025 di kisaran Rp2,6 triliun.
Co-Founder & CEO ESB, Gunawan, mengatakan bahwa pada era lipstick effect, peluang pertumbuhan di pasar F&B Bali terbuka bagi pelaku usaha yang memiliki sistem operasional tepat. Ia menilai masyarakat dan wisatawan tetap aktif berkuliner, tetapi semakin selektif dalam menilai kesesuaian harga dan kualitas. Di saat yang sama, fluktuasi harga bahan baku global disebut dapat menggerus margin tanpa disadari, sehingga pengelolaan manual dinilai memiliki keterbatasan dalam merespons pasar yang bergerak cepat.
Menurut Gunawan, digitalisasi operasional berbasis data real-time bukan sekadar nilai tambah, melainkan fondasi untuk menjaga ketahanan bisnis dan keberlanjutan usaha di tengah kompetisi. Untuk itu, ESB memperkenalkan tiga infrastruktur digital terintegrasi dari hulu ke hilir, yakni ESB POS untuk manajemen kasir dan pencatatan transaksi, ESB Order untuk pemesanan mandiri berbasis scan-order-pay yang diklaim dapat memangkas waktu antrean hingga 40 persen, serta ESB Core (ERP) untuk visibilitas stok dan inventaris real-time serta deteksi erosi margin.
Tantangan operasional tersebut diakui Mas Munir, pemilik Kopi Jenar. Ia menyebut persoalan yang kerap dihadapi adalah ketidakakuratan stok bahan baku, ketika catatan menunjukkan persediaan masih ada tetapi di lapangan sudah habis. Munir mengatakan integrasi ESB POS dan ESB Core (ERP) membantu setiap penjualan otomatis memotong gramasi stok secara presisi, sehingga angka waste dapat terlihat dan potensi kebocoran bisa ditekan.
Dari sisi pelayanan, Founder 2080 Burger Heru Dwi Soesilo menyoroti masalah antrean panjang saat musim liburan atau jam sibuk yang dapat membuat pelanggan berpindah ke tempat lain. Ia menjelaskan bahwa dengan ESB Order, pelanggan dapat memesan dan membayar melalui pemindaian QR di meja, sehingga waktu antrean disebut dapat terpangkas hingga separuhnya dan perputaran meja meningkat tanpa menambah mesin kasir. Heru menambahkan, teknologi ini dinilai tidak mengurangi kehangatan pelayanan, karena staf memiliki lebih banyak waktu untuk berinteraksi dengan pengunjung.
Kopdar Racik Bisnis F&B disebut sebagai inisiatif edukasi berkelanjutan ESB yang dirancang sebagai forum diskusi, mentoring, dan bedah studi kasus bagi pemilik usaha, pendiri, serta pengambil keputusan. ESB menyatakan rangkaian roadshow ini akan berlangsung sepanjang 2026 dan mencakup 10 kota, dari Medan hingga Makassar.
Program tersebut juga membuka ruang kolaborasi dengan komunitas bisnis lokal seperti PKID, TDA, serta asosiasi kuliner di berbagai daerah, dengan dukungan mitra strategis. Dalam kegiatan ini, BCA menjadi mitra pembayaran resmi melalui ekosistem OCEAN by BCA, termasuk integrasi EDC dan QRIS dengan ESB POS untuk pencatatan transaksi dan rekonsiliasi. Selain itu, GoApp dihadirkan sebagai solusi CRM yang menggabungkan sistem loyalti dan analitik data untuk mendorong repeat order, sedangkan IWARE menyediakan perangkat keras yang ditujukan untuk mendukung kelancaran operasional.
Menutup pernyataannya, Gunawan menekankan bahwa keberlanjutan industri F&B di Bali tidak hanya bertumpu pada produktivitas dapur, tetapi juga pada optimalisasi pengelolaan data operasional. Ia menyebut pelaku usaha perlu menyelaraskan sistem internal agar autentisitas rasa lokal dapat dipadukan dengan tata kelola teknologi berstandar internasional untuk meningkatkan daya saing.

