Es Krim Zangrandi, Warisan Rasa dari Surabaya Sejak 1930

Es Krim Zangrandi, Warisan Rasa dari Surabaya Sejak 1930

Yuwan tampak bersiap menyantap es krim pesanannya di Graha Es Krim Zangrandi, Surabaya. Ia sempat menahan diri agar es krim tidak cepat mencair saat mengambil foto, kebiasaan yang kini lazim dilakukan sebelum makanan diunggah ke media sosial.

Setelah menyuap Noodle Ice Cream, Yuwan menyebut rasanya segar. Es krim vanila berbentuk seperti pasta bergelombang itu dipilihnya dengan saus cokelat tanpa tambahan kacang. Meski sederhana, ia mengaku menikmati rasanya. “Enak, sepertinya ada yang beda dengan es krimnya,” ujarnya.

Yuwan mengatakan sudah beberapa kali berkunjung ke Graha Es Krim Zangrandi yang berada di Jalan Yos Sudarso No 15, Embong Kaliasin, Genteng, Surabaya. Ia kerap mengajak teman atau tamu dari luar kota. Salah satu menu yang biasa ia pilih adalah Banana Split, perpaduan es krim chocolate crush dengan stroberi-kopyor yang disajikan bersama buah pisang.

Es Krim Zangrandi dikenal sebagai salah satu destinasi wisata kuliner di Surabaya. Usaha ini berdiri pada 1930, sebelum Indonesia merdeka. Es krimnya dibuat menggunakan resep Nyonya Roberto Zangrandi, atau Mevrouw Zangrandi, yang berasal dari Italia.

Dengan resep tersebut, Roberto Zangrandi mendirikan restoran es krim bernama R. Zangrandi–Ice Cream Zangrandi–Tutti Frutti. Saat itu tersedia tiga pilihan menu, yakni Tutti Frutti, Macedonia, dan es krim Soda, dengan pilihan rasa vanila, cokelat, stroberi, dan moka.

Pada 1960, Roberto Zangrandi beserta keluarga memutuskan kembali ke negara asalnya. Restoran dan resepnya kemudian dijual kepada pengusaha wine, Adi Tanumulia. “Ini sudah generasi ke-3 dari Adi Tanumulia,” kata Public Relation Officer Hanifah Siswanti.

Di tangan pemilik berikutnya, ragam varian rasa pun bertambah dan masih dapat dinikmati hingga kini. Di antaranya raspberry, chocolate crush, coconut, lychee, rum raisin, serta mocha chocho flake. Zangrandi juga menempati bangunan yang diresmikan sebagai Cagar Budaya pada 2017.

Di Graha Es Krim Zangrandi, menu yang disebut menjadi favorit hingga saat ini adalah Tutti Frutti. Bentuknya tidak seperti es krim pada umumnya dan lebih menyerupai potongan kue, sehingga bagi sebagian orang tampak kurang menarik saat pertama dilihat. Namun, rasa menu ini disebut menjadi keunggulannya.

Tika, salah satu pengunjung, mengaku tak menyangka pilihan temannya lebih enak dibanding pesanannya. “Enak, seperti ada rasa buahnya,” katanya. Dengan suasana ruangan yang klasik, ia menilai Tutti Frutti dapat membawa imajinasi ke era kolonial, ketika es krim ini sudah dijajakan dan dinikmati sejak zaman Belanda.

Hanifah menjelaskan, salah satu kunci rasa es krim Zangrandi terletak pada penggunaan krim kocok atau slagroom yang terbuat dari putih telur yang difermentasi. Namun, tidak semua es krim menggunakan rum dan slagroom. Ia juga menyebut es krim Zangrandi tidak menggunakan bahan pengawet, sehingga rasanya terasa berbeda dan lebih mudah meleleh.

Selama pandemi, jam operasional Graha Es Krim Zangrandi dibuka pukul 10.00 hingga 21.00 WIB. Sebelumnya, tempat ini buka hingga pukul 22.00, dan sampai pukul 23.00 saat akhir pekan. Pengunjung dan karyawan juga mengikuti kebiasaan baru, seperti mencuci tangan dengan sabun sebelum masuk, menggunakan masker, dan duduk berjarak. Karyawan diwajibkan memakai alat pelindung diri, serta area kasir diberi sekat pelindung.

Hanifah berharap Zangrandi dapat terus berekspansi dan berkembang lebih besar. Selain lokasi di Jalan Yos Sudarso, Zangrandi juga dapat ditemui di Pasar Atum Mall, Surabaya. Harga es krim dibanderol sekitar Rp30 ribu hingga Rp69 ribu.