Berwisata kuliner ke Pasar Kliwon, Kudus, kerap dianggap belum lengkap tanpa mencicipi es dawet. Di antara penjual yang dikenal luas, Es Dawet Moro Seneng menjadi salah satu yang legendaris dan telah bertahan puluhan tahun.
Pada Kamis (20/1) menjelang pukul 14.00, saat cuaca mendung, warung Es Dawet Moro Seneng tampak tetap melayani pembeli di belakang Pasar Kliwon Kudus. Lokasinya berada di Gang Jayan, Mlati Lor, di sisi timur pasar. Warga setempat juga kerap menyebutnya sebagai “es dawet kliwon”.
Warung kecil untuk singgah sejenak
Warung Es Dawet Moro Seneng tidak berukuran besar. Ruangannya sekitar empat meter persegi, berupa satu ruangan tanpa sekat. Di bagian depan dan samping tempat penjual, tersedia kursi panjang bagi pelanggan yang ingin minum di tempat. Konsepnya memang ditujukan untuk pengunjung pasar yang sekadar mampir.
Menu yang disajikan antara lain es dawet dengan gula aren. Dalam penyajiannya, dawet dituangkan ke gelas, kemudian ditambah santan kental dan gula merah kental, lalu diberi serutan es di atasnya.
Warisan keluarga sejak 1970
Pemilik warung, Sugiono (42), mengatakan usaha tersebut merupakan warisan dari ayahnya yang meninggal pada 1993. Ia menyebut warung itu telah ada sejak sekitar 1970.
“Bapak dulu berjualan sejak masih single sampai menikah pada tahun 1972 dan saya teruskan sampai sekarang,” kata Sugiono.
Menurut dia, Es Dawet Moro Seneng menyediakan dua varian, yakni dawet dengan sirup rasa frambos dan dawet gula aren. Pembeli juga bisa memesan tanpa es. Sugiono menyebut seluruh bahan diproduksi sendiri, termasuk sirupnya.
Dua lokasi berjualan dan ratusan porsi per hari
Sugiono menuturkan, Es Dawet Moro Seneng hanya beroperasi di dua lokasi: warung di Gang Jayan dan satu lagi di dalam Pasar Kliwon lantai dua. Ia dan adiknya berbagi giliran menjaga, dengan Sugiono saat itu bertugas di Gang Jayan, sementara adiknya menjaga warung di dalam pasar.
- Warung Gang Jayan: sekitar 300–500 porsi per hari
- Warung di dalam pasar: sekitar 300 porsi per hari
Sugiono menjelaskan, pembeli di warung dalam pasar umumnya berasal dari pengunjung yang sedang berbelanja. Sementara di Gang Jayan, pelanggan datang dari berbagai kalangan, termasuk mereka yang sengaja membeli tanpa harus masuk ke area pasar.
Menjaga resep dan kualitas
Sugiono mengaku sudah membantu orang tuanya berdagang sejak kelas 4 SD pada 1989. Sejak 2000, ia memegang penuh usaha tersebut bersama adiknya. Ia menilai kunci ketahanan usaha adalah menjaga kualitas dan mempertahankan resep yang sama sejak era 1970-an.
“Yang membuat tetap bertahan ya kita jaga kualitas. Juga yang membuat bertahan ya Allah Subhanahu Wa Ta’ala,” ujarnya.
Pernah pindah akibat kebakaran pasar
Perjalanan usaha ini juga mengalami pasang surut. Pasar Kliwon Kudus pernah mengalami kebakaran pada 1995. Saat itu, warung yang semula berada di dalam pasar harus pindah ke Gang Jayan. Setelah pasar direnovasi, warung di dalam pasar dibuka kembali, sementara lokasi di Gang Jayan tetap beroperasi hingga kini.
Sugiono mengatakan, kedua warung jarang libur demi menjaga pelanggan. Ia menyebut bahkan saat pandemi pun tetap buka.
“Saya tidak ada libur mas. Kalau sudah punya langganan rasanya eman kalau mau libur. Bahkan pandemi pun tetap buka. Saya tetap buka buat menjaga langganan agar nggak lari ke yang lain,” katanya.
Lima karyawan dan produksi sendiri
Ketika Sugiono meninggalkan warung untuk salat zuhur, pelayanan dilanjutkan karyawan. Salah satunya Agus (39), yang telah bekerja sekitar 20 tahun. Ia mengatakan total ada lima karyawan: dua bertugas di Gang Jayan, dua di dalam pasar, dan satu khusus memasak dawet.
Agus menambahkan, meski terkenal, Moro Seneng bukan penjual dawet pertama di Pasar Kliwon. Ia menyebut ada penjual lain dengan nama berbeda dan berasal dari daerah yang sama.
Menurut Agus, ayah Sugiono berasal dari Welahan, Jepara, sedangkan ibunya dari Nganguk, Kudus. Dawet tersebut dibawa dari Welahan ke Pasar Kliwon hingga kemudian dikenal di Kudus.
Pelanggan setia sejak awal 1990-an
Di warung itu, salah satu pelanggan, Muslihatin (57), mengaku sudah berlangganan sejak 1992. Ia berasal dari Tambakromo, Pati, dan biasa datang ke Pasar Kliwon untuk kulakan pakaian bersama anaknya.
Muslihatin mengingat perubahan harga es dawet dari Rp750 per gelas hingga kini Rp5.000. Ia juga menyebut pernah mengalami dua peristiwa kebakaran yang terjadi di Pasar Kliwon.
Alasan ia tetap setia, menurutnya, karena rasa dawet yang “legi” dan “nyamleng”. “Rasanya itu enak dan nyamleng mas,” ujarnya.
Makna nama “Moro Seneng”
Di kalangan pelanggan, nama “Moro Seneng” kerap dimaknai sebagai harapan agar siapa pun yang datang merasa senang. Ada pula candaan bahwa ketika masuk ke warung, masalah seolah hilang—meski “berbeda lagi” setelah keluar.
Menjelang pukul 16.00 saat gerimis mulai turun, warung bersiap tutup. Sejumlah pelanggan masih memilih membungkus minuman untuk dibawa pulang, termasuk membeli beberapa bungkus tambahan untuk dinikmati bersama keluarga.

