BERITA TERKINI
Eat Out with Marriott Bonvoy kembali di Vietnam, mengubah “makan di luar” menjadi perjalanan kuliner lintas kota

Eat Out with Marriott Bonvoy kembali di Vietnam, mengubah “makan di luar” menjadi perjalanan kuliner lintas kota

“Makan di luar” kian bergeser dari sekadar pilihan praktis pengganti masakan rumahan. Bagi banyak orang, aktivitas ini menjadi cara bertemu, mencari pengalaman, sekaligus menelusuri sebuah kota melalui rasa, suasana, dan cerita di balik dapur. Tren tersebut tercermin dalam kembalinya program Eat Out with Marriott Bonvoy di Vietnam, yang menempatkan restoran hotel bukan hanya sebagai fasilitas bagi tamu menginap, melainkan sebagai ruang pengalaman kuliner bagi komunitas penikmat makanan.

Berdasarkan informasi program, Eat Out berlangsung pada 1 Juni hingga 30 September 2026 dan ditujukan khusus bagi anggota Marriott Bonvoy. Program ini menawarkan menu set dan prasmanan di sejumlah restoran jaringan hotel dan resor Marriott International di Vietnam, dengan dua pilihan harga yang diumumkan: VND 790.000 net dan VND 1.490.000 net. Namun, program ini juga dapat dibaca lebih luas sebagai upaya restoran menyampaikan kisah tentang masakan lokal, musim, teknik memasak, hingga pertukaran budaya melalui pengalaman bersantap.

Jangkauan Eat Out meliputi berbagai kota dan destinasi, mulai dari Hanoi, Hai Phong, Da Nang, Nha Trang, Cam Ranh, Ho Chi Minh City, Can Tho, Binh Duong hingga Phu Quoc. Dalam konteks budaya kuliner, sebaran ini menyerupai peta mini Vietnam kontemporer: Utara dengan nuansa urban yang elegan, wilayah Tengah yang kuat dengan karakter laut, dan Selatan yang lebih terbuka dengan pertemuan berbagai pengaruh.

Di Hanoi, French Grill di JW Marriott Hotel Hanoi menghadirkan menu tiga hidangan yang mencantumkan sup velouté, salmon Norwegia, serta hidangan penutup berbahan mangga. Restoran ini disebut pernah ditampilkan dalam Panduan Michelin, yang menandai bagaimana kuliner hotel di Vietnam semakin dilihat melalui tolok ukur internasional. Masih di Hanoi, Oven D'or di Sheraton Hanoi Hotel memilih format prasmanan makan siang dengan ragam bahan seperti lobster Nha Trang, foie gras Prancis, dan daging sapi Wagyu panggang. Pengalaman prasmanan di sini tidak hanya soal variasi, tetapi juga kebebasan pengunjung bergerak di area dapur terbuka, mengamati teknik memasak, dan menentukan ritme menikmati hidangan.

Di Vietnam Tengah, program ini menampilkan dua wajah yang berbeda. Nuansa resor tepi pantai muncul di Sheraton Grand Danang Beach Resort & Spa melalui La Plage, yang membawa pilihan rasa Mediterania seperti salad Yunani, lobster Provençal, dan cokelat Valrhona yang terinspirasi French Riviera. Sementara itu, suasana Da Nang yang lebih muda dan energik disorot lewat menu tujuh hidangan di M45 Rooftop Bar & Omakase, Courtyard by Marriott Danang Han River. Elemen seperti ruang atap menghadap Sungai Han, daging sapi Wagyu panggang arang, dan koktail yang terinspirasi Da Nang menegaskan bahwa pengalaman bersantap kini juga melibatkan pemandangan, suara, cahaya, dan emosi—bukan hanya rasa.

Kisah laut berlanjut di Nha Trang dan Cam Ranh. Feast di Sheraton Nha Trang Hotel & Spa menawarkan prasmanan makan malam bertema Tokyo, mencakup sushi, sashimi, ramen, dan tempura, sambil tetap menghadirkan sentuhan lokal melalui konter makanan laut segar dari Nha Trang. Perpaduan ini mencerminkan kecenderungan wisata kuliner: masakan internasional hadir berdampingan dengan bahan-bahan lokal yang menjadi pijakan utama.

Di Cam Ranh, Clay Craft di JW Marriott Cam Ranh Bay Resort & Spa mengambil pendekatan berbeda dengan menonjolkan warisan rasa Vietnam. Menu yang disebut antara lain lumpia kepiting cangkang lunak Cam Lam, ayam pot tanah liat, dan sup manis biji teratai kerajaan. Hidangan-hidangan tersebut tidak ditekankan sebagai pertunjukan kecanggihan, melainkan sebagai bentuk penceritaan—memadukan rasa akrab dengan pengalaman baru ketika disusun dalam format menu hotel.

Di Kota Ho Chi Minh, Nikura di JW Marriott Hotel & Suites Saigon menampilkan gaya Nikkei, yakni interpretasi cita rasa Peru dengan teknik Jepang. Sajian seperti ceviche, salmon Atlantik, sashimi, dan hidangan penutup kontemporer digambarkan sebagai cerminan kemampuan kota menerima hal baru. Sementara Saigon Café di Sheraton Saigon Grand Opera Hotel memilih prasmanan makan siang yang lebih mudah diakses, dengan pilihan seperti udang segar, sushi buatan tangan, daging sapi panggang, ham ala Italia, serta stasiun memasak langsung. Dalam format ini, prasmanan diposisikan bukan sekadar soal banyaknya pilihan, melainkan juga panggung untuk menyaksikan proses—hubungan antara bahan, api, pisau, keterampilan, dan waktu.

Di Phu Quoc, Tempus Fugit di JW Marriott Phu Quoc Emerald Bay Resort & Spa menawarkan pengalaman bersantap di tepi laut dengan dua pilihan menu yang terinspirasi masakan Barat dan Amerika Latin, termasuk fillet mignon daging Wagyu dan lobster panggang utuh. Sementara Il Tramonto di Sheraton Phu Quoc Long Beach Resort menghadirkan cita rasa Italia lewat hidangan pembuka Italia dan pasta segar buatan tangan. Dalam suasana pulau, makan digambarkan sebagai bagian dari pengalaman resor: lebih lambat, lebih luas, dan kaya sensasi.

Rangkaian contoh tersebut menunjukkan bagaimana Eat Out with Marriott Bonvoy sejalan dengan perubahan cara orang memaknai kuliner di Vietnam: pengunjung tidak hanya bertanya “apa yang dimakan”, tetapi juga “di mana makan”, “cerita apa yang dibawa makanan”, “dari mana bahan berasal”, dan “kesan apa yang tertinggal setelahnya”. Meski demikian, program ini tetap berada dalam kerangka komersial jaringan hotel internasional, sehingga penting dipahami secara proporsional tanpa mengubah pengalaman bersantap menjadi slogan.

Seiring Vietnam semakin dikenal di peta kuliner regional, program seperti Eat Out dapat menjadi salah satu pintu masuk untuk mengakses ragam gaya makan yang tersebar di berbagai kota. Dari sup ala Prancis di Hanoi, prasmanan bernuansa Jepang di Nha Trang, hidangan kepiting cangkang lunak di Cam Ranh, hingga makan malam tepi pantai di Phu Quoc, perjalanan rasa ini menegaskan satu hal: kuliner bukan semata urusan kenyang, melainkan cara sebuah destinasi menampilkan dirinya melalui cita rasa, kenangan, dan kreativitas.