Dupa Bhutan dan Resep 350 Tahun: Tradisi Harian untuk Ritual, Ketenangan, dan Penghidupan

Dupa Bhutan dan Resep 350 Tahun: Tradisi Harian untuk Ritual, Ketenangan, dan Penghidupan

Di sebuah kantor di Thimphu, ibu kota Bhutan, Nado menunjuk gambar seorang perempuan bertelanjang dada yang berdiri dengan satu kaki di ladang bunga. Sosok itu memakai mahkota emas dan kalung rubi serta zamrud, sementara tangan kanannya memegang dupa. Menurut Nado, itulah Dugpoema, dewi Buddha persembahan dupa.

Nado mengatakan ada keyakinan bahwa Sang Buddha pertama kali menciptakan dupa, lalu para murid menyebarkannya ke berbagai tempat. Ia merasa berada pada jalur yang sama. Dari keyakinan itu, ia mengajak melihat bengkel pembuatan dupa miliknya, Nado Poizokhang, yang disebut sebagai yang tertua dan terbesar di Bhutan.

Bengkel dupa yang memasok rumah, biara, hingga istana

Di kerajaan pegunungan Himalaya ini, produk Nado Poizokhang—berupa dupa batang dan bubuk—banyak dicari untuk kebutuhan rumah tangga maupun biara. Nado juga menyebut raja Bhutan meminta dupa dari bengkelnya untuk dibakar di dalam tembok istana kerajaan.

Nado menekankan kemurnian bahan sebagai alasan dupa buatannya dihargai. Ia menunjukkan gudang yang berisi rempah-rempah kering, tumbuhan, dan pepohonan. Menurutnya, semua bahan yang dipakai 100% organik, mulai dari dahan juniper—bahan dasar dalam semua dupa Bhutan—hingga bunga jatamansi yang menghasilkan minyak esensial beraroma spikenard.

Ia mengatakan sebagian pembuat dupa lain mungkin memakai bahan kimia atau bahan bermutu rendah untuk menekan biaya, namun hal itu dinilai dapat melemahkan sifat penyembuhan dan memicu efek seperti sakit kepala atau rasa gelisah saat dibakar. Di bengkelnya, ia menegaskan fokus utama adalah kualitas.

Panen dari dataran tinggi dan keyakinan tentang karma

Banyak tanaman obat dan daun yang digunakan Nado dipanen oleh penggembala yak nomaden di dataran tinggi. Nado menyebut cara ini membantu memastikan bahan bebas racun dan kontaminan, sekaligus memberi penghasilan tambahan bagi para penggembala.

Dalam pandangannya, proses itu juga berkaitan dengan perbuatan baik yang “menggerakkan riak karma baik” bahkan sebelum sebatang dupa dibuat atau dibakar.

Nado menilai waktu panen sebagai faktor kunci. Ia menyebut periode optimal adalah bulan setelah Thrue-Bab, Hari Hujan yang Terberkati, yang menandai berakhirnya musim hujan. Pada masa itu, katanya, matahari menghangatkan daun dan kelopak bunga setelah “diberi makan” hujan berbulan-bulan, menghasilkan parfum yang kaya—unsur yang ia anggap penting agar dupa dan bubuk bekerja sebagaimana mestinya.

Ritual dua kali sehari dan dua bentuk pemakaian

Di Bhutan, persembahan aroma dan asap memiliki sejarah panjang dan makna budaya yang kuat. Nado mengatakan dupa tradisionalnya dibakar dua kali sehari—saat memulai dan mengakhiri hari—sebagai ritual yang nyaris wajib.

Hingga kini, dupa digunakan seperti yang telah dilakukan selama berabad-abad dalam dua cara utama: bubuk atau batang. Versi bubuk disebut lebih berasap dan dibakar di atas bara api di rumah, biara, dan kuil.

  • Untuk ritual: digunakan sebagai persembahan kepada para dewa serta sebagai fumigan untuk membersihkan ruang dan benda suci, menenangkan roh jahat, dan membasmi energi negatif.

  • Untuk terapi: Nado mengatakan asap beraroma dapat menyehatkan pikiran, menstimulasi indra, menghadirkan kesenangan, dan mendorong ketenangan mental. Ia juga menyebut resepnya diklaim membebaskan energi yang tersumbat serta membantu menyembuhkan berbagai jenis penyakit.

Resep rahasia yang berakar pada formula 350 tahun

Nado menyebut formula alami untuk kesehatan dan kebahagiaan yang ia buat sebagai rahasia yang hanya diketahui olehnya dan putrinya, Lamdon. Ia menjelaskan dasar resepnya merujuk pada formula yang dikenal luas dari biara Buddha Tibet Mindrolling di India yang berusia lebih dari 350 tahun.

Namun ia mengaku telah mengadaptasi resep tersebut, salah satunya karena jumlah kunyit dalam formula asli dinilai terlalu besar sehingga membuat dupa menjadi mahal dan sulit dijangkau orang kebanyakan. Ia juga mengatakan mencampurkannya dengan resep lain dari aliran Buddha Drukpa Kagyu dengan menambahkan parfum dan memaksimalkan kekuatan penyembuhannya.

Menurut Nado, dupa “biasa” buatannya menggunakan sekitar 30 bahan, sementara versi untuk upacara keagamaan penting menggunakan 108 bahan. Angka 108 disebutnya sebagai keberuntungan bagi umat Buddha, dan versi khusus itu hanya dapat dibuat pada hari suci berdasarkan grafik astrologi Buddha.

Dari penggilingan, fermentasi, hingga ekstrusi

Proses produksi dimulai di ruang penggilingan, tempat bahan seperti kulit kayu, rempah, serpihan kayu, bunga, dan daun ditaburkan untuk digiling. Nado mengatakan para pekerja mengetahui kira-kira bahan yang digunakan, tetapi tidak mengetahui proporsi yang tepat. Ia juga menegaskan mereka tidak mengetahui isi “cangkir” yang ia masukkan pada tahap akhir.

Ia mengungkap bubuk untuk pembakaran langsung dicampur dengan jamu tambahan agar menghasilkan lebih banyak asap sebelum dikemas. Sementara bubuk untuk dibuat menjadi batang dicampur dengan air, madu, dan pewarna ungu alami hingga menjadi adonan, lalu difermentasi perlahan dalam tong besar sampai seminggu.

Nado menyebut tong fermentasi itu seperti “peti harta karun” dan mengatakan banyak orang ingin mendapatkan “kekayaan” di dalamnya. Selama fermentasi, adonan diawasi ketat karena mudah rusak. Ia menekankan banyak tahap dilakukan dengan tangan, karena yang dikerjakan adalah “karya”, bukan produksi massal.

Tahap berikutnya berlangsung di ruang ekstrusi. Gyenzang, salah satu dari 12 pekerja produksi perempuan, memindahkan segenggam adonan fermentasi ke mesin yang mengubah pasta seperti tanah liat menjadi gulungan dupa lunak dalam hitungan detik. Ia mengatakan pembuatan dupa seharusnya dilakukan “dari hati” dan menyebut pekerjaan itu mereka cintai.

Rekan kerjanya, Yeshey, menyebut pekerjaan tersebut memberdayakan karena memberi penghasilan dan kemandirian dari suami maupun keluarga, serta meningkatkan rasa percaya diri. Ia juga mengatakan para pekerja senang membayangkan perbuatan baik dan energi positif dalam proses pembuatan akan diteruskan kepada produk dan orang yang membakarnya.

Setelah diluruskan, dupa dikeringkan di loteng, dipotong sesuai ukuran, lalu diikat menjadi bundel untuk dipasarkan. Nado mengatakan bengkelnya membuat sekitar 20.000 dupa dan 350 kilogram bubuk per bulan. Ia menyebut produk mereka kini diekspor hingga China, Amerika Serikat, dan Inggris.

Antara bisnis dan pengabdian

Meski menjadi sumber penghidupan, Nado menegaskan uang tidak mendahului kepentingan spiritual dari pekerjaannya. Ia menyebut pembuatan dupa telah menjadi bagian dari ajaran Buddha yang ia jalani sebagai pengabdian selama lebih dari 50 tahun, dan ia menyebutnya sebagai panggilan hidup.

Dalam perjalanan menuju pusat Thimphu, Nado bercerita bahwa ia bergabung menjadi biarawan pada usia 15 tahun dan tinggal selama 10 tahun. Ia mahir kaligrafi dan pernah direkrut ketika Raja Bhutan ketiga meminta kanon Buddha ditulis dengan aksara emas. Setelah tugas itu selesai, ia ingin menemukan pekerjaan yang sama memuaskannya—menggabungkan kreativitas dan sesuatu yang sakral—yang kemudian membawanya ke jalan pembuatan dupa.

Ritual keluarga, pasar, dan praktik di biara

Di Pasar Petani Centenary, lantai dasar dipenuhi buah dan sayuran, sementara tingkat atas berisi berbagai produk dupa yang disebut memiliki kegunaan seperti meredakan sakit perut, membantu relaksasi, dan membantu melakukan pengusiran setan.

Di salah satu kios, seorang perempuan bernama Choden mengatakan ia rutin membakar dupa Nado di kuil dekat rumahnya dan membeli persediaan dupa wangi yang segar. Ia menggambarkan kebiasaannya membakar tiga batang dupa pada pagi hari dan tiga batang pada malam hari.

Menurut Choden, ia merasa tidak lengkap jika tidak melakukannya. Ia menyebut ritual itu diwariskan dari nenek moyangnya dan sudah ia turunkan kepada anak-anaknya. Baginya, membakar dupa sama pentingnya dengan makanan, air, dan udara, serta menjadi praktik yang mempersatukan semua orang—kaya maupun miskin.

Perjalanan kemudian berlanjut ke sebuah biara yang dipasok dupa oleh Nado. Di ruang doa yang terang, seorang biksu mengayunkan alat dupa hingga asap aromatik menyebar. Ia mengatakan puja—upacara pembersihan dengan menggunakan bubuk pembakaran—membantu menghilangkan energi negatif dari ruangan dan membuatnya merasa bersih secara spiritual, fisik, dan mental. Dupa, katanya, membantu memfokuskan pikiran untuk berdoa dan berkembang sebagai manusia.

Di koridor ruang belajar, sekelompok biksu duduk bersila dengan buku doa, masing-masing dengan dupa di sisi mereka. Seorang biksu bernama Wangchuk menyatakan keyakinannya bahwa dalam satu dupa terdapat kekuatan besar. Ia menambahkan, dupa dapat menghilangkan pertanda buruk dan rintangan dari jalan kehidupan, mendorong orang bersikap lebih baik satu sama lain, dan menjadi “kunci” yang membuka pintu menuju kebahagiaan.