BERITA TERKINI
Dubai Chewy Cookie Viral di Korea Selatan, Diburu karena Tekstur Kenyal dan Isian Pistachio

Dubai Chewy Cookie Viral di Korea Selatan, Diburu karena Tekstur Kenyal dan Isian Pistachio

Fenomena kuliner baru tengah ramai dibicarakan di media sosial dan kafe-kafe modern, terutama di Korea Selatan. Dessert bernama Dubai Chewy Cookie muncul sebagai tren viral yang menarik perhatian pencinta makanan, bukan hanya karena rasanya, tetapi juga pengalaman visual yang menyertainya.

Meski menyematkan nama “Dubai”, kudapan ini disebut sebagai inovasi yang berkembang pesat di Korea. Istilah lokal yang digunakan adalah dujjonku, gabungan kata Dubai dan istilah Korea jjondeuk yang berarti kenyal. Penamaan tersebut merujuk pada karakter utama kukis ini, yakni teksturnya yang lengket dan sangat chewy.

Keunikan Dubai Chewy Cookie terletak pada lapisan luar yang kenyal, umumnya dibuat dengan marshmallow atau adonan lengket. Sementara bagian dalamnya diisi kombinasi pistachio dan kadayif, sejenis pastry tipis yang renyah. Kontras antara kulit yang chewy dan isian yang berlapis menjadi daya tarik yang kerap ditonjolkan dalam konten video.

Popularitas dessert ini dilaporkan melonjak sejak akhir 2025 dan berlanjut hingga awal 2026. Permintaan meningkat di berbagai kanal penjualan, termasuk jaringan convenience store dan kafe, seiring banyaknya unggahan yang mempopulerkan tampilan dan sensasi saat kukis dibelah.

Dalam beberapa bulan terakhir, salah satu media juga mencatat lonjakan pencarian kata kunci terkait dessert ini hingga puluhan kali lipat. Tren tersebut turut terlihat dari kemunculannya dalam daftar pencarian teratas di aplikasi belanja makanan dan layanan pengiriman daring. Sejumlah versi produk bahkan disebut terjual habis hanya dalam hitungan hari, mengindikasikan permintaan yang melebihi pasokan.

Meski begitu, sebagian konsumen menilai harga Dubai Chewy Cookie relatif tinggi. Namun, hal itu tidak menyurutkan minat pembeli yang penasaran dengan kombinasi tekstur dan rasa yang dianggap berbeda dari kukis pada umumnya.

Faktor visual menjadi salah satu pendorong utama penyebaran tren ini. Video pendek di platform seperti TikTok dan Instagram sering menampilkan momen saat kukis dibelah, memperlihatkan lapisan pistachio dan kadayif yang kontras dengan bagian luar yang kenyal. Potongan visual semacam ini dinilai mudah menarik perhatian dan memicu efek viral.

Di sisi lain, tren ini juga memunculkan kritik. Di komunitas online, sejumlah warganet mempertanyakan apakah popularitasnya lebih didorong efek viral daripada kualitas rasa. Ada pula yang mengaku mencoba hanya karena tren media sosial, sementara sebagian lainnya menilai kombinasi tekstur dan bahan terasa berlebihan.

Terlepas dari pro dan kontra, Dubai Chewy Cookie menunjukkan bagaimana perpaduan budaya kuliner global dan kreativitas lokal dapat melahirkan produk yang cepat menyebar lintas komunitas. Di Korea, bahkan restoran yang bukan berfokus pada dessert disebut ikut memasukkan varian ini ke dalam menu, menandakan dampak tren makanan viral terhadap industri kuliner.

Dengan basis penggemar yang kuat dari konten digital dan budaya cafe hopping, Dubai Chewy Cookie menjadi contoh bahwa makanan kini tidak hanya dinilai dari rasa, tetapi juga dari estetika dan keterlibatan komunitas online. Sejumlah tempat masih terus menghadirkan variasi baru, sehingga tren ini diperkirakan belum mereda dalam waktu dekat.