BERITA TERKINI
Dua Restoran Mai Tran di Tampere Jadi Titik Temu Kuliner Vietnam dan Selera Nordik

Dua Restoran Mai Tran di Tampere Jadi Titik Temu Kuliner Vietnam dan Selera Nordik

Dua restoran Vietnam di Tampere, Finlandia—Bistro DinDín dan Obanh Vietnamese Kitchen—menjadi contoh bagaimana kuliner dapat berperan sebagai ruang pertemuan budaya di Eropa Utara. Kedua tempat makan ini dimiliki oleh Mai Tran, yang disebut surat kabar Finlandia Aamulehti sebagai salah satu tokoh menonjol dari gelombang pemilik restoran imigran di Finlandia, yang turut “mengisi kesenjangan tenaga kerja dan memperkaya kancah kuliner lokal.”

Bistro DinDín merupakan usaha pertama Mai Tran di Tampere. Restoran ini mengusung konsep masakan Vietnam modern dengan memadukan semangat tradisional dan gaya Eropa. Menu utamanya berfokus pada hidangan yang dikenal luas sebagai “tulang punggung” kuliner Vietnam, seperti pho, bihun, lumpia, dan semur daging sapi. Namun, pendekatan yang diambil tidak berhenti pada pelestarian rasa, melainkan juga penyesuaian agar selaras dengan pasar Nordik.

Fleksibilitas terlihat dari pilihan menu yang mencakup opsi vegan dan bebas gluten—kebutuhan yang disebut semakin umum di Finlandia saat ini. Perpaduan antara menjaga akar budaya dan merespons selera lokal membantu Bistro DinDín cepat menempatkan diri di pusat kota Tampere dan menjadi tujuan yang diminati warga setempat.

Sementara itu, Obanh Vietnamese Kitchen menempuh arah berbeda dengan menonjolkan konsep makanan jalanan Vietnam. Restoran ini dirancang untuk menghadirkan cita rasa yang disebut otentik, terutama melalui banh mi, serta ragam hidangan jalanan lain. Kesederhanaan dan kecepatan menjadi fokus ruang dan menunya, tanpa menghilangkan karakter yang melekat pada masakan tersebut.

Banh mi ditempatkan sebagai inti model bisnis Obanh Vietnamese Kitchen, disertai menu seperti lumpia, bihun, nasi, dan tumis. Menurut Aamulehti, restoran ini tidak hanya menyasar pelanggan Vietnam, tetapi juga menargetkan penduduk lokal melalui penyesuaian rasa yang halus, sambil tetap mempertahankan “jiwa” hidangan.

Dalam perjalanannya, Mai Tran disebut menghadapi tantangan khas pasar kuliner Finlandia yang menuntut. Biaya operasional tinggi, regulasi ketat, serta persaingan industri makanan menjadi hambatan yang harus dilalui untuk membangun usaha. Tantangan lain yang disebut paling berat adalah perbedaan preferensi rasa, mengingat masakan Vietnam kerap menggunakan unsur seperti saus ikan dan herba yang tidak selalu sesuai dengan kebiasaan makan masyarakat Eropa Utara.

Kondisi itu mendorong penyesuaian menu agar keseimbangan antara otentisitas dan aksesibilitas tetap terjaga. Di sisi lain, Mai Tran juga diuntungkan oleh tren yang lebih luas, yakni pertumbuhan pesat masakan Asia di Eropa. Masakan Vietnam—dengan karakter hidangan yang ringan, kaya sayuran, dan dinilai seimbang secara nutrisi—disebut kian menarik bagi konsumen Finlandia yang menggemari gaya hidup sehat.

Lebih dari sekadar membuka restoran, salah satu aspek penting perjalanan Mai Tran adalah upaya mempertahankan identitas kuliner Vietnam di lingkungan internasional. Hal ini tercermin dalam pelestarian resep pho tradisional, mulai dari kaldu tulang hingga penggunaan rempah-rempah khas.

Pada akhirnya, Bistro DinDín dan Obanh Vietnamese Kitchen tidak hanya diposisikan sebagai unit bisnis. Keduanya dipandang sebagai “titik sentuh” yang mempertemukan komunitas Vietnam dan pengunjung lokal—tempat kuliner menjadi medium untuk bercerita tentang identitas, ingatan, serta proses integrasi komunitas imigran di negara beriklim dingin.