Purwokerto – Kesulitan reproduksi disebut kian banyak dipengaruhi pola hidup yang menjauh dari kebiasaan alami. Penggunaan bahan kimia dalam berbagai produk serta pola makan dengan gizi yang tidak seimbang dinilai dapat berdampak pada kesehatan reproduksi.
Hal itu disampaikan dr. Arfelina Sugiarto, M.D dalam program Obrolan Kesehatan Pro 2 RRI Purwokerto bertema “Gizi Seimbang untuk Reproduksi yang Baik”. Ia menekankan, gizi bukan satu-satunya penyebab infertilitas atau ketidakmampuan menghasilkan keturunan, sehingga persoalan gizi tidak bisa langsung dijadikan kambing hitam.
Menurutnya, gaya hidup juga menjadi faktor yang dapat memengaruhi kesuburan. Beberapa contoh yang disebut antara lain jarang berolahraga, merokok, serta konsumsi jenis makanan tertentu yang bisa memengaruhi fertilitas.
Terkait kebutuhan gizi pada masa kehamilan, dr. Ina menjelaskan perbaikan gizi saat hamil dan setelah hamil pada prinsipnya serupa. Sementara untuk aktivitas fisik, olahraga tetap dapat dilakukan dengan menyesuaikan kondisi kehamilan. “Kalau soal gizi saat hamil dan sesudah hamil bisa dikatakan sama saja, tetapi untuk porsi berolahraga sendiri tetap bisa dilakukan dengan menyesuaikan kondisi janin,” ujarnya.
Untuk mendeteksi lebih dini kemungkinan gangguan reproduksi, ia menyarankan masyarakat memeriksakan diri ke dokter, terutama bila mengalami menstruasi yang tidak normal atau nyeri saat berhubungan intim. Pemeriksaan sejak awal dinilai penting agar penanganan dapat segera dilakukan, salah satunya melalui perbaikan gizi.
Dengan demikian, gizi seimbang disebut berperan dalam menjaga kesehatan reproduksi, namun perlu disertai gaya hidup sehat. Pemeriksaan dini juga diperlukan agar gangguan reproduksi bisa ditangani lebih cepat.

