BERITA TERKINI
Dokter Gizi IPB: Pola Makan Sehat Usai Lebaran Bisa Meniru Intermittent Fasting

Dokter Gizi IPB: Pola Makan Sehat Usai Lebaran Bisa Meniru Intermittent Fasting

Usai menjalani puasa selama sebulan, kebiasaan makan banyak orang dapat berubah, mulai dari pilihan makanan hingga waktu makan. Guru Besar Ilmu Gizi IPB University, Prof Hardinsyah, menilai momen puasa bisa dijadikan titik awal untuk membangun pola makan ideal yang berkelanjutan, baik dari sisi kesehatan maupun spiritual.

Menurut Hardinsyah, puasa seharusnya menjadi momentum untuk detoksifikasi tubuh. Ia menyebut masyarakat dapat menjadikan puasa sebagai patokan pola makan ideal secara spiritual dan gizi.

Untuk menjaga kesehatan tubuh setelah Ramadhan, Hardinsyah menyarankan penerapan pola makan dengan pendekatan yang mirip intermittent fasting. Intermittent fasting merupakan pola makan yang bergantian antara puasa dan makan, dengan fokus utama pada pengaturan waktu makan, bukan semata-mata jenis makanan.

Pola makan pascapuasa tersebut diharapkan dapat membantu menurunkan lemak tubuh sekaligus menekan risiko penyakit metabolik, seperti diabetes. Namun, Hardinsyah menegaskan bahwa konsistensi menjadi tantangan utama dalam mempertahankan pola makan sehat setelah Ramadhan.

Ia mengatakan, mempertahankan pola makan ideal membutuhkan mindset dan tekad yang kuat. Setelah bulan puasa, ujian untuk mengubah mindset dinilai lebih serius. Karena itu, ia menganjurkan agar intermittent fasting dibiasakan dan dipraktikkan tanpa mengharapkan pahala.

Dalam penerapannya, transisi menuju pola makan sehat dapat dimulai dengan membiasakan sarapan pagi untuk menekan risiko kolesterol. Selanjutnya, makan siang dapat dilewatkan atau dikurangi porsinya, disertai kebiasaan mencukupi kebutuhan air putih dan berolahraga pada sore hari.

Hardinsyah juga mengingatkan agar konsumsi makanan berlemak, manis, dan instan dikendalikan. Ia menyarankan kebiasaan mengurangi makanan berlemak dan manis serta makanan instan dapat dilatih saat menjalani puasa Syawal.

Selain itu, konsumsi buah-buahan segar disebut dapat membantu menekan keinginan mengonsumsi makanan tinggi lemak dan gula. Buah dinilai mampu memenuhi kebutuhan energi sekaligus menyediakan serat dan vitamin.

Pengaturan jenis dan porsi makanan juga perlu diperhatikan. Hardinsyah menyebut porsi protein dapat diperbanyak dibandingkan karbohidrat, dengan tetap menyesuaikan kebutuhan masing-masing individu, termasuk anak-anak dan ibu hamil.

Ia menambahkan, apabila berat badan menurun hingga mencapai kondisi normal, maka perlu dipertahankan. Namun, jika setelah sekitar dua minggu lingkar pinggang kembali bertambah, pola makan perlu disesuaikan lagi.