BERITA TERKINI
DKR Hadir di Dekat Bastille, Usung Street Food Afrika dan Resep Afrodescendant

DKR Hadir di Dekat Bastille, Usung Street Food Afrika dan Resep Afrodescendant

Sebuah alamat baru untuk masakan Afrika hadir di Paris. DKR resmi dibuka di arondisemen ke-11, tak jauh dari Bastille. Tempat ini diprakarsai oleh saudara Djikine bersama grup BMK, yang sebelumnya menginisiasi BMK Paris-Bamako (2017) dan BMK Folie-Bamako (2020).

Melalui DKR, grup tersebut melanjutkan eksplorasi kuliner Afrika dan afrodescendant dengan pendekatan urban dan kontemporer, namun tetap berpijak pada cita rasa benua. Jika dua restoran sebelumnya memberi penghormatan terutama pada rasa-rasa Mali sesuai asal-usul saudara Djikine, DKR memperluas cakupan dengan menampilkan beragam ekspresi masakan “afro”.

Menu restoran ini berangkat dari inspirasi Dakar, lalu diperkaya pengaruh wilayah lain di Afrika serta Antilles, sebagai cerminan budaya diaspora. Perbedaan lain yang sejak awal ditekankan adalah fokus pada street food. Meski begitu, saat kunjungan dilakukan, hidangan yang dicicipi dinilai lebih nyaman disantap dengan pisau dan garpu ketimbang dimakan sambil berjalan.

Suasana hangat terasa sejak penyambutan, didukung tim yang ramah dan komunikatif dalam menjelaskan hidangan yang mungkin belum akrab bagi sebagian pengunjung. Menu disusun bersama chef Diadié Diombana, dengan pendekatan yang mengulas kembali sejumlah spesialis tradisional ikonik melalui sentuhan modern. Pilihannya dibuat ringkas: tiga pembuka, tiga hidangan utama, dua menu ayam (ayam panggang ala Dakar atau ayam goreng dengan saus bissap ala Abidjan), serta dua hidangan penutup.

Sejumlah hidangan disebut telah teruji sejak pembukaan dan mendapat respons dari kalangan pencinta kuliner maupun warga sekitar. Cita rasa banyak bermain pada paduan manis dan gurih. Ayam menjadi bahan utama dalam berbagai variasi, sekaligus satu-satunya daging yang tersedia di menu—pilihan yang bisa saja membingungkan bagi penggemar daging sapi atau ikan.

Dari kategori pembuka, kéléwélés (3,90€–5,90€)—pisang plantain dengan saus Ghana—disebut sebagai salah satu yang patut dicoba, dengan tekstur renyah di luar, lembut di dalam, serta karamelisasi yang pas. Sensasi serupa juga hadir pada sayap ayam marinasi yang dilapisi tepung dan digoreng (4,90€ untuk 3 potong, 7,90€ untuk 6 potong), yang bisa dinikmati langsung dengan tangan.

Untuk hidangan utama, yassa sénégalais (12,50€) dihadirkan dalam versi mangga yang segar. Ada pula widjila malien (11,90€) dengan saus manis-pedas khas, serta mafé (12,50€) yang dipadukan dengan rempah dan sentuhan madu. Semua hidangan disajikan bersama nasi putih yang cukup lekat, ditemani sayuran panggang musiman.

Di bagian penutup, tersedia antara lain ngalakh sénégalais (4,50€), sajian manis berbasis pasta kacang tanah, pasta hazelnut, selai, susu kental manis, dan buah baobab. Namun, porsi yang disajikan disebut cukup besar sehingga pada kunjungan tersebut tidak semua penutup sempat dicoba.

Catatan: uji coba ini dilakukan dalam konteks undangan profesional. Pengalaman pengunjung bisa berbeda.