Dinas Pariwisata (Dispar) Bali menilai pameran Food, Hotel, and Tourism Bali (FHTB) menjadi langkah penting untuk mengangkat citra kuliner Bali sekaligus memperkuat peran kuliner sebagai daya tarik utama pariwisata di Pulau Dewata.
Kepala Dispar Bali I Wayan Sumarajaya mengatakan, kegiatan tersebut turut mendukung posisi Bali sebagai destinasi pariwisata budaya. Menurutnya, pameran yang mempertemukan penyedia produk kuliner serta perlengkapan hotel, restoran, dan kafe (horeka) dengan pembeli akan membantu memenuhi kebutuhan penunjang sektor pariwisata.
Sumarajaya juga mendorong agar penyelenggara menambah porsi produk lokal Bali yang ditampilkan. Ia mencontohkan arak Bali yang disebut sudah mulai masuk dalam pameran, dan berharap ke depan produk lokal lain seperti buah-buahan dapat ikut dipajang agar dilihat oleh hotel dan pelaku usaha, sekaligus memberi manfaat bagi masyarakat lokal.
Dispar Bali mengklaim kuliner Bali memiliki karakter khas, unik, dan berbeda dari daerah lain sehingga dinilai berpotensi menjadi destinasi wisata kuliner dunia. Sumarajaya menambahkan, pelaku usaha kuliner lokal disebut telah dibina dengan standar yang jelas, termasuk produk pertanian yang diproduksi secara organik dan berkualitas.
Ia berharap penyelenggaraan FHTB dapat meningkatkan kualitas kekayaan wisata kuliner Bali dan berdampak positif terhadap perkembangan UMKM serta perekonomian masyarakat.
Sementara itu, Portfolio Director FHTB Meysia Stephanie menjelaskan pameran tersebut telah memasuki penyelenggaraan ke-14 di Bali. Karena digelar dua tahun sekali, ia menyebut pelaksanaannya telah berjalan selama 28 tahun.
Pada 2026, pameran dijadwalkan berlangsung di Bali Nusa Dua Convention Center pada 28–30 April 2026. Penyelenggara menargetkan keterlibatan 250 penyedia (sellers) dan 14.000 pembeli (buyers) untuk menghubungkan pelaku usaha dengan kebutuhan pariwisata, mulai dari kuliner, perlengkapan horeka, hingga teknologi.
Meysia menyampaikan peran pameran sebagai penghubung agar industri kuliner dan perhotelan tetap mengikuti inovasi, termasuk perkembangan teknologi pada mesin kopi serta penggunaan material yang disebut lebih berkelanjutan untuk perlengkapan hotel.
Dukungan agar produk lokal mendapat ruang lebih besar juga disampaikan Ketua Komisi II DPRD Bali Agung Bagus Pratiksa Linggih. Ia menyebut pernah menjadi eksibitor FHTB sekitar 10 tahun lalu dan merasakan manfaat dari ajang tersebut. Kini, ia mendorong agar FHTB ke depan semakin menggandeng industri kecil menengah (IKM) dan usaha kecil menengah (UKM).
Bagus Linggih mengusulkan agar pada penyelenggaraan berikutnya Dispar Bali memiliki satu stan khusus untuk mewadahi beragam produk lokal. Menurutnya, masyarakat Bali telah banyak berinvestasi pada adat istiadat sehingga semestinya dapat menikmati hasilnya di daerah sendiri.

