Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sukabumi menegaskan penanganan stunting tidak dapat hanya mengandalkan intervensi medis. Perubahan pola asuh serta meningkatnya kesadaran kolektif masyarakat dinilai menjadi kunci untuk menekan angka stunting secara berkelanjutan di wilayah tersebut.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sukabumi, Masykur Alawi, mengatakan pihaknya menggencarkan edukasi gizi melalui berbagai jalur, mulai dari penguatan peran Posyandu, kelas ibu hamil, hingga kunjungan langsung ke rumah warga.
“Kami terus melakukan kampanye gizi seimbang, pentingnya ASI eksklusif, serta pola makan sehat bagi ibu hamil dan balita,” ujar Masykur, Senin (20/4/2026).
Dalam pelaksanaannya, Dinkes membangun sinergi dengan kader kesehatan, penggerak PKK, tokoh masyarakat, serta pemerintah desa dan kecamatan. Kolaborasi ini dilakukan agar pesan kesehatan lebih mudah diterima dan dipraktikkan oleh warga.
Salah satu upaya yang dijalankan adalah menggelar demo memasak Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) berbasis pangan lokal secara rutin. Menurut Masykur, langkah tersebut bertujuan menunjukkan bahwa pemenuhan gizi berkualitas tidak harus mahal.
“Kami tunjukkan bahwa pangan lokal yang ada di sekitar keluarga bisa menjadi solusi gizi yang murah namun sangat efektif untuk tumbuh kembang anak,” katanya.
Masykur menyebut kolaborasi antara puskesmas, Posyandu, dan Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) telah berjalan. Namun, ia mengakui masih terdapat tantangan, mulai dari kondisi geografis Kabupaten Sukabumi yang luas dengan akses ke wilayah terpencil, keterbatasan jumlah kader, hingga faktor ekonomi keluarga.
Meski demikian, Dinkes menyatakan tetap mengoptimalkan strategi jemput bola dan penguatan edukasi di tingkat akar rumput. “Tantangan memang ada, mulai dari geografis hingga ekonomi. Namun dengan kolaborasi total dari semua pihak, kami optimistis angka stunting di Kabupaten Sukabumi akan terus mengalami penurunan signifikan,” ujar Masykur.

