Jakarta — Dietisien Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung, Yesi Herawati S.Gz, mengatakan pangan lokal yang tersedia di sekitar tempat tinggal dapat menjadi substitusi yang setara untuk memenuhi kebutuhan gizi seimbang dengan biaya terjangkau.
Menurut Yesi, pilihan pangan lokal seperti telur, tempe, ikan, sayur hijau, dan buah umumnya mudah ditemukan serta harganya lebih ramah di kantong. Ia menekankan bahwa makanan bergizi tidak harus mahal, selama komposisinya seimbang sehingga kebutuhan gizi anak dapat terpenuhi.
Yesi menjelaskan konsep “Isi Piringku” sebagai acuan pemenuhan gizi untuk anak. Dalam satu porsi makan, setengah piring diisi sayur dan buah, seperempat piring diisi makanan pokok seperti nasi atau kentang, dan seperempat piring lainnya diisi lauk sumber protein, antara lain daging, ayam, ikan, telur, tahu, dan tempe.
Ia menambahkan, idealnya seluruh unsur nutrisi dalam satu piring terpenuhi. Namun, menu tidak harus selalu sempurna pada setiap waktu makan, selama jika ditotal dalam sehari kebutuhan gizi harian anak tetap tercukupi.
Jika ketersediaan pangan di daerah tempat tinggal tidak lengkap, Yesi menyarankan orang tua melakukan substitusi secara cerdas dengan memilih pengganti yang setara dari sisi nilai gizi. Misalnya, ketika daging sapi atau ayam sulit didapat, sumber protein dapat diganti dengan telur, tahu, atau tempe yang lebih mudah ditemukan dan terjangkau. Jika beras sulit diperoleh, makanan pokok dapat diganti dengan kentang, ubi, singkong, atau jagung. Sementara bila buah tertentu sulit ditemukan atau harganya mahal, dapat diganti dengan buah-buahan lokal.
Meski mengandalkan pangan lokal, Yesi menganjurkan agar menu harian tetap diupayakan memenuhi gizi seimbang, yang terdiri atas sumber energi (nasi atau umbi), protein (telur, tempe, atau ikan), serta sayur dan buah jika tersedia. “Tidak harus lengkap di setiap makan, yang penting terpenuhi dalam sehari,” ujarnya.

