Cara memasak dan menyimpan makanan ikut menentukan kualitas gizi yang diterima anak setiap hari. Metode yang kurang tepat dapat menurunkan kandungan nutrisi, sehingga kebutuhan gizi anak berisiko tidak terpenuhi secara optimal.
Dietisien Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung, Yesi Herawati, mengatakan teknik memasak berpengaruh besar terhadap kualitas nutrisi yang dikonsumsi. Ia mengingatkan bahwa memasak sayur atau makanan terlalu lama (overcooking) dapat merusak protein serta vitamin yang sensitif terhadap panas, seperti vitamin C dan beberapa vitamin B.
Untuk menjaga kandungan gizi, Yesi menyarankan metode yang lebih ramah nutrisi, seperti mengukus atau merebus dalam waktu singkat. Menurutnya, sayuran cukup dimasak hingga layu dan tidak perlu terlalu lama.
Ia juga mengingatkan agar air rebusan tidak dibuang karena dapat mengandung vitamin yang larut selama proses memasak. Selain itu, bahan makanan tidak perlu dipotong terlalu kecil sebelum dimasak, dan mengupas kulit buah atau sayur secara berlebihan dapat mengurangi kandungan nutrisi.
Pada tahap penyajian, Yesi menyarankan agar makanan tidak dipanaskan berulang kali atau digoreng terlalu lama. Ia menilai kebiasaan menghangatkan makanan berkali-kali dapat menurunkan kandungan gizi dan berisiko terhadap keamanan makanan.
Dari sisi penyimpanan, makanan dianjurkan disimpan pada suhu yang tepat, tertutup rapat, serta tidak bercampur dengan bahan lain untuk mencegah kontaminasi bakteri.
Yesi menambahkan bahwa pola makan anak juga berperan dalam kecukupan gizi. Konsumsi makanan instan yang tinggi gula, garam, dan lemak masih sering terjadi dan dapat meningkatkan risiko penyakit degeneratif seperti hipertensi, penyakit jantung, dan diabetes.
Kurangnya variasi menu turut membuat asupan gizi tidak seimbang. Ia menyebut rendahnya konsumsi sayur dan buah dapat menyebabkan asupan vitamin, mineral, dan serat tidak tercukupi. Sementara itu, penggunaan gula, garam, dan penyedap berlebihan dapat membuat anak lebih menyukai rasa yang kuat.
Yesi menegaskan pemenuhan gizi sejak dini berperan penting bagi tumbuh kembang anak, mulai dari kondisi fisik hingga kecerdasan, serta berpengaruh terhadap risiko gangguan metabolik di masa depan.

