BERITA TERKINI
Dede Yusuf Apresiasi UMKM Pacitan yang Olah Batok Kelapa Jadi Wadah Kuliner Bernilai Ekonomi

Dede Yusuf Apresiasi UMKM Pacitan yang Olah Batok Kelapa Jadi Wadah Kuliner Bernilai Ekonomi

Anggota DPR RI Dede Yusuf Macan Effendi mengapresiasi inovasi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Pacitan, Jawa Timur, yang memanfaatkan limbah batok kelapa sebagai wadah hidangan kuliner bernilai ekonomis.

Apresiasi itu disampaikan Dede Yusuf melalui unggahan di Instagram saat ia menikmati sarapan di warung Soto Bathok 99, di sela kunjungan kerjanya ke Pacitan yang dikenal sebagai Kota 1001 Goa.

Dalam kunjungan tersebut, Dede Yusuf hadir sebagai narasumber Bimbingan Teknis Nasional (Bimteknas) Anggota Fraksi Partai Demokrat DPRD provinsi serta kabupaten/kota se-Indonesia yang digelar di Museum & Galeri SBY-Ani, Pacitan.

Dede Yusuf menilai penggunaan batok kelapa sebagai mangkuk hidangan bukan sekadar unsur estetika, melainkan menunjukkan bergeraknya industri kreatif di tingkat daerah. “Kali ini saya nyobain makan Soto Ayam Batok yang khas dan unik di Pacitan, dalam rangka mengisi materi Bimtek Nasional DPRD,” kata Dede Yusuf dikutip dari akun Instagramnya.

Menurut legislator Partai Demokrat itu, langkah pelaku UMKM tersebut merupakan contoh cerdas dalam memanfaatkan barang bekas. Batok kelapa yang umumnya dibuang dan menjadi sampah, kini memiliki nilai tambah sekaligus menjadi daya tarik bagi konsumen.

“Saya suka ide kreatif begini, menjadikan barang daur ulang menjadi penghasil rupiah. Artinya, satu batok kelapa yang biasanya dibuang, ini dimanfaatkan untuk mencari uang,” ujarnya.

Selain soto, Dede Yusuf juga menyoroti menu lain seperti es buah yang disajikan menggunakan batok kelapa. Ia menilai, dalam bisnis kuliner saat ini pelaku usaha tidak hanya dituntut menghadirkan rasa yang lezat, tetapi juga menawarkan kekhasan dan kreativitas.

Dede Yusuf berharap inovasi daur ulang yang dilakukan pelaku usaha soto di Pacitan dapat menginspirasi UMKM di daerah lain untuk terus menggali potensi ekonomi dari barang-barang di sekitar. “Ini salah satu contoh bahwa kalau kita mau efisiensi, kita harus kreatif, kita harus produktif,” pungkas Wakil Ketua Komisi II DPR RI tersebut.