Mariatul Qiptiyah, perempuan kelahiran Pasuruan pada 13 November 1993, dikenal publik melalui aktivitasnya di TikTok dengan nama Kiki Jupe. Sebelum menekuni dunia usaha, ia pernah bekerja sebagai guru honorer dengan penghasilan ratusan ribu rupiah per bulan.
Kini, Mariatul mengelola usaha di sektor makanan dan minuman (F&B) yang menawarkan berbagai jajanan kekinian untuk kalangan anak muda. Ia menyebut usahanya telah berkembang dan mempekerjakan sekitar 100 karyawan.
Perubahan karier dari guru honorer menjadi pengusaha, menurut keterangannya, tidak terjadi secara instan. Ia membangun usaha secara bertahap dengan mempelajari kebutuhan pasar, menjaga kualitas produk, memperkuat pelayanan, serta membangun hubungan dengan pelanggan.
Mariatul juga menjelaskan bahwa Kiki Jupe dan Mariatul Qiptiyah merujuk pada orang yang sama. Nama Kiki Jupe digunakannya sebagai identitas publik di media sosial, khususnya TikTok, sementara Mariatul Qiptiyah merupakan nama asli yang dipakai dalam kehidupan pribadi dan administrasi resmi.
Ia mengatakan keterbukaan itu disampaikan agar masyarakat tidak menganggap keduanya sebagai dua sosok berbeda. “Nama asli saya Mariatul Qiptiyah. Kiki Jupe adalah nama yang saya gunakan di TikTok dan dalam aktivitas media sosial. Keduanya merujuk kepada orang yang sama,” ujarnya.
Menurut Mariatul, penggunaan nama publik tersebut membantunya membangun identitas yang mudah dikenali oleh audiens. Namun, ia tetap berupaya terbuka mengenai identitas aslinya sebagai bentuk tanggung jawab kepada masyarakat dan para pengikutnya.
Sebelum menjalankan bisnis kuliner, Mariatul bekerja sebagai guru honorer. Pada masa itu, ia menyebut penghasilannya terbatas sehingga harus mengatur keuangan secara cermat untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. “Saya pernah menjadi guru honorer dengan gaji ratusan ribu rupiah setiap bulan. Saat itu, saya harus mengatur penghasilan dengan sangat hati-hati agar kebutuhan sehari-hari tetap dapat terpenuhi,” katanya.
Ia menilai pengalaman menjadi guru memberi banyak pembelajaran, termasuk kedisiplinan, kesabaran, kemampuan berkomunikasi, dan rasa tanggung jawab dalam bekerja. Pengalaman menghadapi beragam karakter murid, menurutnya, turut membantunya memahami cara berkomunikasi dengan orang lain—kemampuan yang kemudian diterapkan saat melayani pelanggan, mengelola karyawan, dan membangun hubungan kerja dalam bisnis.

