BERITA TERKINI
Da Nang Dorong Nilai Budaya Kuliner Lokal untuk Perkuat Daya Tarik Wisata

Da Nang Dorong Nilai Budaya Kuliner Lokal untuk Perkuat Daya Tarik Wisata

Para anggota Klub Pariwisata Adat Son Tra di Da Nang, Vietnam, tengah berkampanye untuk mengembangkan sekaligus memperjelas kriteria budaya adat dalam hidangan lokal yang mereka temui. Upaya ini diarahkan untuk menonjolkan nilai-nilai berkelanjutan yang berakar pada budaya setempat, sekaligus memperkuat daya tarik pariwisata.

Ketua Klub Pariwisata Adat Son Tra, Tran Van Thang, mengatakan bahwa wisatawan umumnya mencari koneksi emosional saat mengunjungi tempat baru. Dalam situasi ekonomi yang kompleks, menurutnya, industri pariwisata perlu menilai secara tepat nilai emosional yang dapat ditawarkan kepada pengunjung agar mereka bertahan lebih lama dan terdorong untuk kembali. Di titik inilah, nilai budaya kuliner lokal dinilai dapat menjadi katalis penting.

Salah satu contoh yang disorot datang dari kisah sebuah restoran yang diceritakan Asosiasi Koki Kota Da Nang. Restoran tersebut didirikan oleh seorang warga Kanada yang memilih tinggal di Da Nang dan membuka usaha di kawasan An Thuong (Ngu Hanh Son). Saat merekrut koki, pemilik restoran menyampaikan bahwa pelanggan utamanya adalah orang Eropa yang umumnya makan sarapan dan makan siang, sehingga restoran hanya beroperasi hingga pukul 14.30 setiap hari. Ia meminta para koki meramu bahan-bahan lokal menjadi sajian yang memadukan gaya Eropa dan Vietnam agar pelanggan merasa lebih terhubung dengan masakan tersebut.

Para koki kemudian berkolaborasi menciptakan konsep dapur interaktif yang menggabungkan masakan Eropa dan Vietnam dengan bahan-bahan yang seluruhnya bersumber dari Da Nang. Hasilnya mengejutkan banyak pengunjung karena melahirkan cita rasa unik dari bahan yang sebenarnya akrab bagi masyarakat setempat.

Salah satu koki menggambarkan inovasi itu melalui pemanfaatan pasta ikan teri yang murah dan umum dikenal di Vietnam. Bahan tersebut difermentasi, direndam dalam minyak zaitun, lalu digunakan sebagai topping pizza untuk wisatawan. Sajian itu disebut-sebut menghadirkan pengalaman makan ala versi Eropa dari Omakase, dan pengunjung dikatakan tidak bosan menikmatinya.

Setelah beroperasi selama dua tahun, restoran tersebut membuka lokasi baru di Hoi An. Kedua lokasi dilaporkan selalu ramai pengunjung, meski biaya rata-rata hidangan berbahan lokal mencapai 800.000 VND per orang, yang tergolong tinggi dibanding menu restoran lain.

Thang menilai, ketika kuliner lokal dapat direpresentasikan dengan baik, wisatawan dapat terdorong membayar lebih dan bersedia tinggal lebih lama. Ia juga mengamati bahwa sebagian wisatawan bahkan meminta perpanjangan visa dari tiga bulan menjadi enam bulan untuk menetap lebih lama di Vietnam.

Di sisi lain, pemandu wisata independen sekaligus ahli pariwisata rekreasi dan petualangan di Da Nang, Dao Dang Cong Trung, menekankan pentingnya pariwisata berfokus pada eksplorasi emosi wisatawan. Menurutnya, wilayah Da Nang–Quang Nam memiliki kekayaan cerita kuliner dan budaya yang besar. Meski tidak sepopuler Hanoi atau Hue, kuliner Quang Nam disebut sebagai tempat lahir pengalaman rasa yang mengesankan dan dapat meninggalkan kesan kuat bila dieksplorasi dengan tepat.

Cong Trung menilai bahan makanan apa pun, ketika diolah oleh tangan penduduk lokal, dapat menjadi hidangan khas. Ia mencontohkan bagaimana pelancong yang mencicipi hidangan otentik Quang Nam—seperti sup jagung manis Cam Nam, mi Phu Chiem Quang, dan pho singkong Que Son—mengaku terpikat oleh bahan yang segar dan renyah serta cita rasa yang unik.

Ia juga mencatat munculnya kelompok-kelompok anak muda yang antusias terhadap budaya kuliner lokal, mulai dari wilayah utara Lien Chieu dengan desa nelayan Nam O yang dikenal dengan aroma saus ikan dan pasta udang kering, hingga dusun Tam Thanh (Tam Ky) yang memiliki mural dan cerita tentang pembuatan pasta ikan kering.

Selain komunitas, terdapat pula individu yang disebut berdedikasi menjaga cita rasa kampung halaman. Di antaranya warung mi Quang milik Le Thi Thu An di Duy Nghia, Duy Xuyen, yang telah memasak mi Quang selama 40 tahun menggunakan sekam padi; serta Huynh Van Muoi di Son Tra, yang selama bertahun-tahun mempromosikan dan melestarikan gaya serta teknik pembuatan saus ikan dari kampung halamannya.

Rangkaian kisah ini dinilai membuka peluang bagi pelaku industri pariwisata untuk mengembangkan pariwisata budaya di Da Nang melalui nilai-nilai kuliner, dengan menceritakan “jiwa” dari cita rasa setempat agar wisatawan dapat merasakan dan mempercayainya.

Menurut Cong Trung, kesan yang paling lama tertinggal pada wisatawan sering kali berasal dari pengalaman yang mereka dapat melalui apa yang dicicipi, dicium, dan didengar. Karena itu, ia menilai akomodasi wisata dan agen perjalanan perlu menjalin hubungan dengan individu maupun organisasi yang mengeksplorasi, meneliti, dan memperkaya budaya kuliner lokal.

Ia menambahkan, sebesar apa pun investasi perusahaan, pariwisata tetap membutuhkan nelayan, petani, dan pedagang kaki lima untuk menyampaikan kisah-kisah yang mereka yakini dan nikmati kepada wisatawan agar pariwisata dapat berkembang secara berkelanjutan.