Konsumsi ultra-processed food (UPF) atau pangan olahan berlebih disebut terus meningkat seiring promosi yang kian menarik. Berbagai strategi pemasaran—mulai dari produk kolaborasi edisi terbatas, penggunaan logo kartun, hingga iming-iming hadiah seperti photocard—dinilai membuat masyarakat semakin terbuka menerima UPF.
Ika Nindyas Ranitadewi, policy analyst for Food and Nutrition CISDI (Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives), menilai perilaku konsumen sangat dipengaruhi pemasaran pangan. Menurutnya, promosi dan bahasa marketing yang kuat turut mendorong penerimaan masyarakat modern terhadap UPF.
Ia menambahkan, UPF kerap terasa nikmat dan mudah diperoleh, bahkan relatif lebih murah dibanding makanan yang “riil dan sehat”. “Akses memperoleh UPF sangat mudah dan rasanya sangat enak sehingga mengacaukan sinyal kenyang dalam tubuh,” kata Ika dalam gelar wicara di Plaza Unair pada 24 September 2026.
Dalam kesempatan itu, Ika menyampaikan CISDI telah melakukan riset dan studi terkait pangan sehat. Upaya tersebut mencakup dorongan penerapan cukai Minuman Berpemanis Dalam Kemasan (MBDK), kajian elastisitas harga terkait cukai, penerapan label dalam kemasan, serta peran label kemasan yang dinilai berkontribusi jangka panjang terhadap PTM (penyakit tidak menular).
Ia juga menyinggung perkembangan advokasi cukai MBDK. “Terkait implementasi cukai MBDK, prosesnya sudah cukup panjang. Kami sudah mengadvokasikannya kurang lebih selama 10 tahun. Namun, karena terakhir ada pergantian pejabat di Kementerian Keuangan, saat ini kami masih dalam proses penjajakan kembali,” ujar Ika.
Isu cukai MBDK turut menjadi perhatian Ni Made Sukartini, dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Unair. Made menekankan cukai merupakan pajak yang dikenakan pada barang tertentu yang konsumsinya perlu dibatasi dan peredarannya perlu diawasi.
Menanggapi pandangan bahwa konsumsi merupakan urusan individu karena dibeli dengan uang sendiri, Made menyatakan logikanya tidak sesederhana itu. Ia menilai dalam 10–20 tahun terakhir, PTM terbukti memicu angka kematian yang sangat tinggi sehingga diperlukan campur tangan pemerintah untuk mengendalikannya.
Menurut Made, instrumen cukai dapat memengaruhi keputusan konsumen saat berbelanja. Ketika harga MBDK naik karena cukai, konsumen akan mempertimbangkan kembali harga dan dampaknya bagi kesehatan. “Perubahan perilaku penting agar ketika daya beli masyarakat meningkat, mereka tidak kembali ke pola makan yang tidak sehat,” tegasnya.