Bepergian ke tempat baru kerap identik dengan berburu makanan khas daerah. Namun, tidak sedikit pelancong yang justru memilih menu yang sudah akrab—misalnya makanan cepat saji internasional—ketimbang mencicipi kuliner lokal.
Menurut ulasan yang dilansir dari Geediting pada Senin (28/4), kecenderungan ini dapat dipengaruhi faktor kepribadian dan psikologi. Berikut beberapa ciri yang disebut kerap muncul pada orang yang jarang mencoba kuliner khas warga lokal saat traveling.
1. Takut pada hal yang tidak diketahui
Bagi sebagian orang, mencoba makanan baru berarti keluar dari zona nyaman. Mereka merasa lebih aman dengan makanan yang sudah dikenal. Dalam perspektif psikologi, hal ini dikaitkan dengan naluri bertahan hidup: sesuatu yang familiar dianggap lebih “aman”, sementara kuliner asing dipersepsikan penuh ketidakpastian.
2. Ingin menjaga semuanya tetap dalam kendali
Ada pula tipe pelancong yang merasa perlu mengendalikan banyak hal, termasuk urusan makan. Saat bepergian, mereka bisa menghabiskan waktu lama untuk mencari restoran dengan menu yang sudah mereka kenal. Dalam konteks ini, keengganan mencoba makanan lokal dipandang sebagai bagian dari kebutuhan untuk tetap merasa terencana dan terkendali.
3. Terlalu peka terhadap rasa dan bau
Tidak semua orang memiliki toleransi yang sama terhadap sensasi rasa dan aroma. Sebagian orang lebih sensitif, sehingga makanan dengan bau menyengat atau rasa yang kuat dapat terasa berlebihan. Karena itu, penolakan terhadap kuliner tertentu bisa terjadi bukan karena tidak suka berpetualang, melainkan karena respons indera yang lebih intens.
4. Mencari kenyamanan lewat hal-hal yang familiar
Saat traveling, banyak aspek terasa baru—mulai dari bahasa, budaya, hingga lingkungan. Dalam situasi seperti itu, sebagian orang memilih sesuatu yang akrab untuk memperoleh rasa nyaman. Salah satu cara yang kerap diambil adalah tetap makan menu yang familiar meski sedang berada di destinasi baru.

