Can Tho terus menarik minat wisatawan internasional melalui pengalaman sederhana yang dekat dengan kehidupan warga setempat. Di sejumlah ruas pedesaan seperti komune Nhon Ai serta kawasan Ba Lang dan An Binh, pelancong mancanegara kerap terlihat bersepeda menyusuri jalan yang rindang, menyusuri jalur air, hingga berhenti untuk berbincang dengan penduduk.
Vo Thi Mai Lan, warga Cai Rang, mengatakan pemandangan wisatawan asing bersepeda sudah menjadi hal biasa. “Setiap pagi ketika saya keluar rumah, saya melihat begitu banyak wisatawan internasional bersepeda bolak-balik di depan rumah saya,” ujarnya.
Rute pedesaan ini diminati karena menawarkan kombinasi lanskap hijau, kebun buah yang melimpah, serta akses transportasi air yang memudahkan wisatawan menjangkau pasar terapung Cai Rang, pabrik mi, dan desa-desa kerajinan tradisional. Jalur tersebut kerap dipilih operator tur dan pemandu untuk memperkenalkan suasana pedesaan sekaligus interaksi dengan warga.
Antoine, wisatawan asal Prancis, menyebut bersepeda di kawasan itu menjadi pengalaman yang menyenangkan, terutama karena udara segar dan momen kecil yang berkesan. Ia mencontohkan pengalamannya mencoba menyeberangi “jembatan monyet”. “Itu menantang, tetapi sama sekali tidak menakutkan; saya berhasil menyeberanginya dan mengambil beberapa foto yang indah. Saya menghargai hal-hal biasa ini ketika mengunjungi tempat baru,” katanya.
Ricard, juga dari Prancis, menyampaikan kesan serupa. Menurutnya, tantangan menyeberangi jembatan monyet mungkin hal biasa bagi warga, tetapi menjadi pengalaman menarik bagi wisatawan. Ia juga menyoroti keramahan penduduk yang kerap tersenyum dan menyapa saat berpapasan. “Saya akan sangat mengingat hal ini setelah perjalanan ini,” ujarnya.
Selain kawasan pedesaan, Pulau Son juga disebut semakin populer di kalangan wisatawan internasional berkat ruang hijau dan pengalaman yang dinilai unik. Bui Thuy Lieu, pemilik kebun pomelo Phuong My di Binh Thuy, mengatakan wisatawan asing menyukai pengalaman “pijat bebek”, bahkan ada yang enggan beranjak pulang.
Rosalie, wisatawan asal Amerika Serikat, mengaku merekam pengalamannya untuk ditunjukkan kepada putrinya. Ia menggambarkan suasana yang damai dengan keberadaan hewan-hewan seperti ikan, bebek, hingga kerbau. “Hubungan antara manusia dan hewan sangat harmonis. Saya terkejut dengan hal itu,” tuturnya.
Huynh Thi Bich Tuyen, Direktur Mekong Silt Ecolodge di An Binh yang melayani wisatawan internasional, menilai para tamu dari berbagai negara memiliki satu kesamaan: ingin merasakan sisi paling otentik dari tempat yang mereka kunjungi. Ia mengatakan pendekatan layanan tidak semata soal fasilitas, melainkan membangun perjalanan bersama tamu dan warga, melakukan aktivitas yang akrab, serta menyambut tamu layaknya kerabat. Menurutnya, ikatan emosional semacam itu membuat sebagian wisatawan memperpanjang masa tinggal atau kembali berkunjung.
Di luar pengalaman budaya dan interaksi sosial, kuliner juga dipandang sebagai faktor penting dalam membangun kedekatan dengan wisatawan internasional. Huynh Thi Bich Tuyen menyebut masakan Vietnam populer di kalangan wisatawan asing dan, dengan pendekatan yang tepat, dapat menjadi saluran promosi yang efektif.
Namun, ia menekankan perlunya fleksibilitas dalam penyajian agar sesuai kebiasaan dan kebutuhan tamu internasional. Ketertarikan wisatawan, menurutnya, tidak hanya pada hidangan yang sudah dikenal seperti pho, banh mi, dan lumpia, tetapi juga pada ragam kuliner tradisional seperti kecap ikan, pasta beras fermentasi, tahu fermentasi, dan kecap asin. Karena itu, Mekong Silt Ecolodge mengembangkan restoran Dua Dining untuk memperkuat identitas kuliner Vietnam yang ditujukan bagi wisatawan asing, sekaligus memperkenalkan kekhasan Can Tho dan Delta Mekong.
Sejumlah pelaku usaha perhotelan juga menilai kuliner sebagai pintu masuk potensial untuk menarik wisatawan, termasuk pengunjung internasional dan kelas atas. Vo Xuan Thu, Direktur Hotel Victoria Can Tho, menyebut pihaknya mengadakan program promosi kuliner lokal seperti Buffet & BBQ - Street Food serta Escoffier Gastronomic Weekend. Program terakhir disebut bertujuan meningkatkan pengalaman dan nilai produk pertanian Can Tho dan Delta Mekong sesuai standar santapan mewah.
Bertrand Philippe, wisatawan asal Prancis, mengatakan keluarganya telah tiga kali berkunjung dan kembali ke Victoria Can Tho. Ia menilai masakan menjadi salah satu hal yang paling ia hargai selain suasana dan layanan resor. “Hidangannya memiliki unsur lokal tetapi disiapkan dengan standar internasional,” ujarnya.
Di TTC Can Tho, kuliner lokal diperkenalkan kepada berbagai segmen wisatawan dengan mengedepankan kue-kue tradisional. Direktur TTC Can Tho, Pham Thi Thanh, mengatakan pihaknya mendekatkan hidangan otentik “Vietnam Barat” kepada wisatawan sebagai cara mempromosikan kekayaan rasa Can Tho.
Sementara itu, Nguyen The Ngoc, Direktur Ngan Long Home & Camp Con Son, menyebut kegiatan kuliner selalu disertakan dalam paket pengalaman wisata untuk menambah daya tarik ketika wisatawan mengenal hidangan lokal Can Tho, terutama bagi pengunjung internasional.
Di tingkat kota, Festival Kue Tradisional Selatan dinilai turut memperkuat merek kuliner Can Tho. Vu The Binh, Ketua Asosiasi Pariwisata Vietnam, menyebut festival tersebut sebagai kegiatan budaya kuliner penting bagi industri pariwisata. Ia menilai aktivitas menikmati makanan merupakan kebutuhan besar wisatawan dunia, dan Vietnam dapat memanfaatkan kekuatan itu. Menurutnya, festival di Can Tho membuka peluang besar untuk mengembangkan pariwisata kuliner lokal.
Berbagai pengalaman berbasis budaya lokal, keramahan masyarakat, dan kekayaan kuliner menjadi faktor yang membuat wisatawan lebih lama mengingat destinasi yang mereka kunjungi. Pada saat yang sama, hal itu dinilai dapat mendorong kunjungan ulang maupun rekomendasi dari mulut ke mulut, yang menjadi dasar pengembangan pariwisata lokal berkelanjutan.

