JAKARTA — Industri makanan dan minuman (food and beverage/F&B) nasional terus tumbuh dan menjadi salah satu sektor yang dinamis di Indonesia. Perubahan perilaku konsumen yang semakin mengutamakan pengalaman bersantap (experiential dining), inovasi produk, serta integrasi teknologi dan gaya hidup mendorong pelaku industri untuk terus beradaptasi.
Merespons perkembangan tersebut, Café & Brasserie Expo Jakarta 2026 (CBE 2026) dijadwalkan berlangsung pada 7–10 Mei 2026 di JIEXPO Kemayoran, Hall C1 dan C3. Pameran ini mengusung tema “Taste Circle” dengan tagline “FnB & Lifestyle in One Roof”, dan dirancang sebagai platform yang tidak hanya berfungsi sebagai pameran dagang, tetapi juga ruang kolaborasi lintas sektor.
CBE 2026 akan mempertemukan pelaku industri kuliner, hospitality, wirausahawan, hingga komunitas lifestyle dalam satu ekosistem yang saling terhubung dari hulu ke hilir—mulai dari bahan baku hingga pengalaman konsumsi.
Lebih dari 120 brand dijadwalkan berpartisipasi, mewakili empat pilar utama industri kuliner modern: kopi, teh, cokelat, serta wine & spirits. Selain itu, pameran juga menghadirkan kategori Health & Lifestyle serta Support & Tech untuk menjawab kebutuhan industri yang kian kompleks dan terintegrasi dengan teknologi digital.
Project Manager CBE 2026, Luhur Tri Atmojo, menyebut pameran ini dirancang sebagai ruang interaksi yang mendorong lahirnya ide baru dan kolaborasi strategis antarpelaku industri. “CBE 2026 adalah ‘networking bowl’ tempat berbagai sektor bertemu dan menciptakan peluang baru. Di sini, kopi bisa berkolaborasi dengan teknologi, artisan tea bertemu desain interior, dan inovasi F&B bertumbuh melalui ekosistem yang saling terhubung,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Jumat (1/5).
Luhur juga menyampaikan tren kolaborasi di industri F&B meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Data yang disampaikan menunjukkan kolaborasi brand di sektor ini naik hingga 114 persen dalam dua tahun terakhir. Sementara itu, sekitar 42 persen konsumen disebut lebih tertarik pada pengalaman makan yang tidak hanya berfokus pada rasa, tetapi juga pada interaksi, suasana, dan storytelling yang ditawarkan.
Penyelenggaraan CBE 2026 mendapat dukungan Kementerian Ekonomi Kreatif dan Kementerian Perindustrian, serta didukung Gabungan Produsen Makanan Minuman Indonesia (GAPMMI). Dukungan tersebut menegaskan pentingnya sinergi antara pemerintah dan pelaku industri untuk mendorong pertumbuhan sektor F&B yang berkelanjutan.
Sejumlah asosiasi industri juga dilibatkan. Ketua Umum Asosiasi Teh Spesial Indonesia, Ronald Gunawan, menilai CBE dapat menjadi momentum untuk memperkenalkan kualitas teh artisan Indonesia yang dinilai memiliki potensi besar di pasar global. “Melalui pameran ini, kami ingin menghadirkan pengalaman rasa, cerita, dan kualitas teh Indonesia yang mampu meningkatkan positioning café dan brasserie sebagai destinasi premium,” katanya.
Dari sektor wine & spirits, Presiden Indonesian Sommelier Association, Togu Sahat Nainggolan, menyebut CBE berperan sebagai jembatan edukasi bagi pelaku industri untuk memahami standar konsumsi yang lebih bertanggung jawab dan berkelas.
Sementara itu, Ketua Asosiasi Cokelat Bean to Bar Indonesia, Olivia Putri Prawiro, menekankan pentingnya memperkenalkan konsep bean-to-bar guna meningkatkan nilai tambah cokelat lokal di pasar café dan brasserie. “Ini adalah kesempatan untuk mengangkat cokelat asli Indonesia sebagai produk premium dengan kualitas yang mampu bersaing di tingkat internasional,” ujarnya.
Salah satu keunggulan CBE 2026 adalah penyelenggaraannya yang berbarengan dengan FLEI Business Show 2026 dan MoreFood Expo Indonesia 2026. Kolaborasi ini memungkinkan pengunjung mengeksplorasi tiga pameran dalam satu kunjungan, mulai dari mencari pemasok, menjajaki peluang franchise, hingga melihat inovasi terbaru dalam rantai pasok makanan.

