Di tengah maraknya bumbu instan kemasan yang memenuhi rak minimarket, bumbu basah curah masih bertahan dan tetap memiliki penggemar di Balikpapan. Lapak penjual bumbu basah masih mudah ditemui, salah satunya di kawasan Jalan S. Parman, Gang Guntur.
Sejak pagi, pembeli datang silih berganti untuk membeli berbagai racikan bumbu, seperti bumbu opor, rendang, semur, soto, gulai, hingga sayur santan. Bumbu-bumbu tersebut disajikan secara sederhana, diletakkan dalam baskom plastik berukuran besar, lalu ditakar sesuai permintaan pembeli.
Dari sisi harga, bumbu basah curah tergolong terjangkau. Per bungkusnya dibanderol mulai sekitar Rp5 ribu, bergantung pada jenis dan jumlah yang dibeli.
Sejumlah pembeli menilai cara ini lebih praktis dibanding harus membeli dan mengolah bumbu satu per satu, mulai dari bawang merah, bawang putih, kemiri, ketumbar, kunyit, jahe, lengkuas, hingga cabai, sebelum dihaluskan sendiri. Praktisnya bumbu basah dinilai membantu warga perkotaan seperti Balikpapan yang banyak menghabiskan waktu untuk bekerja, sehingga tidak selalu memiliki waktu menyiapkan bumbu dari awal untuk memasak satu menu.
Di sisi lain, kehadiran bumbu instan kemasan di supermarket dan minimarket turut mengubah kebiasaan sebagian masyarakat. Produk kemasan menawarkan masa simpan lebih lama, kemasan yang rapi, serta informasi komposisi yang jelas. Penggunaannya pun mudah, cukup dibuka, ditumis, lalu masakan siap diolah.
Meski demikian, bumbu basah curah masih menjadi pilihan bagi sebagian warga. Jaenab, warga Balikpapan yang ditemui saat membeli bumbu di kawasan Jalan S. Parman, mengatakan bumbu basah lebih sesuai dengan seleranya. “Kalau bumbu basah rasanya lebih pas. Praktis juga, tinggal masak. Harganya masih masuk,” ujarnya, Sabtu (4/7/2026).

