Kuliner daerah terus menjadi daya tarik, baik bagi warga setempat maupun wisatawan. Dari Kabupaten Cilacap, salah satu hidangan yang dikenal luas adalah Brekecek Pathak Jahan, olahan berbahan dasar kepala ikan jahan yang dimasak dengan racikan rempah khas.
Perwakilan Paguyuban Mas Mbak Cilacap, Arifudin Zuhri, menyampaikan bahwa Brekecek Pathak Jahan tidak sekadar makanan, melainkan bagian dari identitas dan kebanggaan masyarakat Cilacap. Menurutnya, hidangan ini mencerminkan kearifan lokal dalam memanfaatkan sumber daya laut sekaligus menunjukkan kreativitas mengolah bahan pangan menjadi sajian yang bernilai ekonomi.
Arif menjelaskan, istilah “brekecek” memiliki makna filosofis dalam bahasa Banyumasan. Kata “brek” berarti meletakkan, sedangkan “kecek” berarti mencampur. Makna tersebut merujuk pada proses memasak yang menggabungkan berbagai bumbu dan rempah.
“Brekecek itu artinya dicampur dengan berbagai bumbu khas seperti cabai, jahe, dan rempah lainnya. Biasanya juga ditambahkan kemangi untuk mengurangi bau amis,” ujar Arif dalam Spada Pro 2 RRI Purwokerto, Minggu (12/04/26).
Ia menambahkan, “pathak” berarti kepala. Dengan demikian, Brekecek Pathak Jahan merujuk pada olahan kepala ikan jahan yang dimasak dengan bumbu rempah kuat, menghadirkan cita rasa pedas, gurih, dan segar. Kuliner ini disebut telah diakui secara resmi oleh pemerintah daerah sejak 2014 sebagai salah satu kekayaan kuliner lokal Cilacap.
Meski bahan utamanya kepala ikan jahan, brekecek juga dapat dimodifikasi menggunakan bahan lain, seperti ayam atau jenis ikan berbeda, menyesuaikan selera. Namun, pelaku usaha kuliner disebut tetap mempertahankan penggunaan kepala ikan jahan untuk menjaga keaslian.
Dari sisi pengolahan, proses pembuatan brekecek dimulai dari penanganan ikan untuk mengurangi bau amis, kemudian dimasak dengan campuran bumbu seperti cabai, jahe, daun jeruk, dan kemangi. Hidangan ini umumnya disajikan dengan sedikit kuah, meski ada pula variasi yang menghadirkan kuah lebih banyak.
Tak hanya hadir sebagai santapan harian, Brekecek Pathak Jahan juga kerap disajikan dalam kegiatan budaya di Cilacap, termasuk tradisi Larung Laut. Kehadirannya dalam tradisi tersebut menunjukkan peran kuliner dalam memperkuat identitas budaya daerah.

