Bank Indonesia (BI) mengemas kampanye pembayaran digital dengan pendekatan yang lebih dekat dengan masyarakat melalui program QRIS Jelajah Indonesia (QJI) 2026. Alih-alih mengandalkan seminar atau sosialisasi di ruang pertemuan, BI mengajak generasi muda menjelajahi Bali, berburu kuliner, mengenalkan budaya lokal, sekaligus mengedukasi wisatawan tentang penggunaan QRIS.
QJI 2026 merupakan kompetisi yang berlangsung sepanjang Juli dan Agustus dan digelar serentak di seluruh Indonesia. Di Bali, kegiatan ini diikuti 41 tim dengan total 123 peserta.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, Achris Sarwani, mengatakan pendekatan tersebut dipilih agar edukasi sistem pembayaran digital terasa lebih menarik dan mudah diterima. “Kalau hanya sosialisasi biasa mungkin kurang menarik. Karena itu kami mengajak anak-anak muda langsung merasakan pengalaman menggunakan QRIS sambil mengeksplorasi kuliner dan budaya Bali,” ujar Achris saat membuka QJI 2026 di Lapangan Bajra Sandhi, Denpasar, Sabtu (4/7/2026).
Selama empat hari pelaksanaan, yakni 4, 5, 11, dan 12 Juli, para peserta ditantang menyelesaikan tujuh misi yang tersebar di sejumlah lokasi di Bali. Misinya mencakup transaksi menggunakan QRIS, memperkenalkan makanan tradisional, mendukung pelaku UMKM, mengecek operasional money changer, mengedukasi wisatawan terkait QRIS Cross Border, hingga mencoba layanan QRIS Tap di Trans Metro Dewata dan pusat perbelanjaan.
Setiap tim juga diwajibkan membuat konten media sosial selama menjalankan misi. Menurut Achris, konten kreatif dari para peserta diharapkan menjadi sarana promosi kuliner lokal sekaligus memperluas literasi masyarakat mengenai pembayaran digital. “Tugas mereka bukan sekadar menyelesaikan misi. Mereka juga harus menceritakan pengalaman itu melalui media sosial sehingga semakin banyak masyarakat yang mengenal QRIS,” katanya.
BI menilai kompetisi ini juga dapat memberi manfaat langsung kepada pelaku usaha kecil. Merchant kuliner yang menjadi lokasi misi akan memperoleh promosi melalui konten peserta. Selain itu, merchant terbaik akan mengikuti penilaian tingkat regional untuk memperebutkan penghargaan QRIS Star.
Kepala Divisi Implementasi Sistem Pembayaran, Pengawasan Sistem Pembayaran, dan Pelindungan Konsumen BI Provinsi Bali, Hero Wonida, menyampaikan bahwa QJI tidak semata-mata mencari pemenang lomba, tetapi juga memperkuat ekosistem pembayaran digital. “Tidak hanya peserta yang berkompetisi, merchant juga akan dinilai. Harapannya mereka mendapat eksposur lebih luas, kredibilitas meningkat, dan pada akhirnya penjualannya ikut bertambah,” ujarnya.
Hero juga meminta peserta memanfaatkan kegiatan ini untuk memahami beragam inovasi sistem pembayaran yang dikembangkan BI. Peserta akan dikenalkan pada layanan seperti QRIS, QRIS Cross Border, BI-FAST, Kartu Kredit Indonesia (KKI), hingga program pelindungan konsumen. “Rasakan sendiri pengalaman menggunakan seluruh inisiatif Bank Indonesia. Jangan hanya mengejar nilai lomba, tetapi pahami manfaatnya sehingga nanti bisa menjadi agen edukasi di masyarakat,” kata Hero.
Untuk memacu semangat peserta, BI menyiapkan hadiah total puluhan juta rupiah. Juara pertama akan memperoleh Rp15 juta, juara kedua Rp12,5 juta, dan juara ketiga Rp10 juta. Tiga tim terbaik dari Bali selanjutnya akan mewakili provinsi ini pada kompetisi tingkat regional Balinusra bersama perwakilan dari Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur.
Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah Provinsi Bali, Luh Ayu Aryani, menilai konsep kompetisi tersebut efektif untuk memperkenalkan potensi daerah kepada masyarakat luas. Ia berharap peserta mampu menghasilkan konten yang menarik sekaligus mengangkat citra Bali melalui informasi positif. “Media sosial memiliki kekuatan luar biasa untuk mempromosikan daerah. Karena itu saya berharap peserta membuat konten yang kreatif sekaligus menunjukkan wajah Bali yang sebenarnya, bukan menyebarkan informasi yang menyesatkan atau hoaks,” ujarnya.
Menurut Luh Ayu, promosi digital berperan penting membantu UMKM naik kelas. Konten yang dibuat peserta dinilai dapat memperkenalkan kuliner khas Bali kepada calon wisatawan sekaligus membuka peluang pasar yang lebih luas bagi pelaku usaha lokal. Ia menambahkan, transformasi digital akan memberi manfaat maksimal jika dijalankan melalui kolaborasi berbagai pihak, mulai dari pemerintah, Bank Indonesia, perbankan, pelaku usaha, komunitas, akademisi, hingga masyarakat.
Melalui QJI 2026, BI berharap digitalisasi ekonomi, pariwisata, budaya, dan UMKM dapat berjalan beriringan, sehingga perkembangan transaksi digital di Bali tetap sejalan dengan upaya menjaga identitas lokal.

