Bisnis kuliner Rasa Juara bermula dari pemanfaatan ruang kosong di lantai dasar sebuah ruko di kawasan Pasir Kaliki, Bandung. Dari langkah sederhana itu, UMKM asal Bandung ini berkembang hingga produknya kini masuk ke berbagai minimarket.
Pendiri Rasa Juara, Christ Abraham, memulai usaha pada 2015 tanpa rencana besar. Saat itu, ia mencoba berjualan nasi goreng seharga Rp15 ribu yang menyasar pekerja kantoran di sekitar lokasi. Konsep yang diusung pun sederhana, menghadirkan jajanan seperti cireng rujak hingga nasi goreng ala food court.
Di antara menu yang dijajakan, seblak yang kini menjadi andalan sempat diragukan. Christ bercerita, ia pertama kali mengenal seblak dari istrinya. “Kebetulan istri saya kenal seblak. Dia bilang, ‘ini ada makanan sampah’, karena semua dicampur. Saya pertama lihat bingung ini makanan apa, kerupuk dibasahin. Ternyata setelah dicoba rasanya very rich. Dari situ kita coba masukin ke menu,” kata Christ saat ditemui di Bandung, belum lama ini.
Seiring waktu, usaha yang berawal dari dapur ruko tersebut terus berkembang. Momentum penting datang pada 2018 ketika Christ mengikuti program food startup di Surabaya. Dari pengalaman itu, ia mulai melirik pengembangan produk dalam bentuk kemasan.
Perjalanan menuju produk kemasan tidak langsung berjalan mulus. Kemasan awal yang masih sederhana dengan stiker seadanya sempat menuai kritik. Namun, fase tersebut menjadi bahan pembelajaran bahwa membangun merek di industri FMCG tidak hanya soal menjual produk, melainkan juga menyangkut kualitas, rasa, serta cara mengomunikasikan produk kepada konsumen.
Kini, Rasa Juara dikenal sebagai salah satu UMKM yang berhasil mengembangkan seblak kemasan. Produknya telah menembus minimarket dan tersebar ke ribuan titik di Indonesia.

