BERITA TERKINI
Berawal dari Modal Rp2 Juta, Seblak Chacha Berkembang Jadi Enam Cabang di Ciamis

Berawal dari Modal Rp2 Juta, Seblak Chacha Berkembang Jadi Enam Cabang di Ciamis

Aroma gurih kencur berpadu pedas cabai menyambut pengunjung di outlet Seblak Chacha di Dusun Karacak, Desa Handapherang, Kecamatan Cijeungjing, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Di lokasi ini, antrean nyaris tak pernah putus. Pelajar, mahasiswa, hingga ibu rumah tangga bergantian menunggu semangkuk seblak yang kini dikenal sebagai salah satu kuliner ramai di Ciamis.

Cabang Karacak disebut menjadi salah satu yang paling padat dikunjungi. Selain menawarkan konsep prasmanan dengan beragam pilihan topping, outlet ini juga menyuguhkan pemandangan hamparan sawah yang menambah daya tarik. Di balik keramaian tersebut, ada kisah Helmi Kasim (49) dan istrinya, Lastri Sulastri (42), warga Jalan Karanggedang, Kelurahan Linggasari, Kecamatan Ciamis, yang memulai usaha dari situasi ekonomi sulit pascapandemi Covid-19.

Sebelum menekuni usaha kuliner, Helmi menjalankan bisnis sebagai pemasok buah-buahan untuk sejumlah supermarket. Namun pandemi membuat usahanya merosot hingga berhenti beroperasi. Dalam kondisi mencari sumber penghasilan baru, ia mendapat dorongan dari saudaranya di Tasikmalaya yang bergerak di bidang katering. Saat itu, usaha seblak dinilai memiliki peluang karena digemari masyarakat dengan harga terjangkau.

Dengan modal Rp2 juta, Helmi dan Lastri mulai merintis Seblak Chacha pada 2021. Mereka memanfaatkan pekarangan rumah sebagai tempat berjualan. Pada masa awal, keduanya bergotong royong bersama ibu, adik, dan bibi untuk menjalankan usaha yang saat itu masih berskala rumahan.

Nama “Chacha” yang melekat pada usaha ini berasal dari panggilan unik anak mereka yang berkebutuhan khusus. Saat kecil, anak tersebut kesulitan mengucapkan nama tantenya yang biasa dipanggil Cica dan justru menyebutnya “Chacha”. Panggilan itu kemudian dipakai sebagai nama usaha keluarga.

Salah satu langkah yang mendorong perkembangan Seblak Chacha adalah penerapan konsep prasmanan dengan puluhan pilihan topping. Sejak awal, pelanggan bisa memilih isian sesuai selera. Konsep ini mendapat respons positif karena memberikan pengalaman berbeda dibanding penjual seblak pada umumnya.

Untuk menjaga konsistensi rasa di seluruh cabang, Helmi menerapkan sistem dapur terpusat. Bumbu dan bahan baku dipersiapkan di rumah utama sebelum didistribusikan ke masing-masing outlet. Dengan cara tersebut, cita rasa di setiap cabang diupayakan tetap sama meski jumlah outlet bertambah.

Dari usaha rumahan, Seblak Chacha kini berkembang menjadi enam outlet di sejumlah titik di Kabupaten Ciamis. Cabang pertama berada di Karanggedang sebagai pusat usaha, lalu menyusul Karacak Handapherang, kawasan Al-Ghani, Cikoneng, Baregbeg, hingga Bojong. Pertumbuhan ini juga membuka lapangan kerja. Jika pada awalnya dikerjakan keluarga tanpa karyawan, kini Seblak Chacha mempekerjakan sekitar 40 hingga 50 orang. Khusus di cabang Karacak, jumlah pekerja mencapai 13 orang.

Helmi juga menilai perkembangan teknologi ikut berperan dalam mempertahankan usaha. Menyesuaikan kebiasaan transaksi non tunai, Seblak Chacha menyediakan pembayaran menggunakan QRIS dari BRI. Ia menyebut pelanggan, terutama generasi muda, kerap memilih pembayaran digital meski untuk nominal kecil.

Bagi Helmi, bertahan dalam usaha tidak semata ditentukan modal besar, melainkan keberanian belajar dan berinovasi. Ia juga berpesan kepada generasi muda yang ingin memulai usaha agar tidak takut mengambil inspirasi dari bisnis yang sudah ada, selama mampu menghadirkan nilai tambah dan pembaruan.

Sementara itu, Siti Wulansari (25), ibu rumah tangga asal Desa Utama, Kecamatan Cijeungjing, mengaku sudah lama menjadi pelanggan Seblak Chacha. Ia menyebut salah satu alasan memilih Seblak Chacha adalah rasa yang konsisten di setiap outlet serta pilihan isian yang bisa disesuaikan dengan kebutuhan. Kemudahan pembayaran lewat QRIS juga menjadi pertimbangannya karena dinilai praktis tanpa harus membawa uang tunai.