DENPASAR—Bagi Putu Mawar Sri Ayu (34), menjalankan usaha bukan semata mengejar keuntungan. Melalui brand lokal Sambal Wadon, ia ingin menghadirkan makanan rumahan yang praktis sekaligus membuka jalan rezeki bagi orang-orang di sekitarnya.
Perempuan yang akrab disapa Mawar ini mengaku tak menyangka racikan sambal dari dapur rumahnya kini dikenal luas. Sambal kemasan buatannya menjadi salah satu pilihan oleh-oleh dan lauk praktis di Bali, diminati mulai dari anak kos hingga wisatawan.
Ide membangun Sambal Wadon berangkat dari kebiasaan Mawar yang menyukai masakan rumahan. Di tengah aktivitas yang padat, ia ingin tetap bisa menikmati makanan sesuai selera tanpa harus memasak setiap saat. “Awalnya saya pengin makan tetap enak seperti masakan rumah, tapi praktis. Karena saya suka makanan sesuai selera sendiri, dari situ terpikir bikin sambal yang bisa dinikmati kapan saja,” ujarnya saat ditemui di kantornya di kawasan Padangsambian, Denpasar Barat, Minggu (16/5) siang.
Usaha ini dijalankan bersama suaminya, AA Made Yopianta, yang sejak awal membantu produksi dan pengembangan bisnis. Dari skala rumahan, mereka memanfaatkan media sosial sebagai sarana promosi. Sambal racikan Mawar pun mendapat sambutan pasar.
Sebelum menekuni bisnis kuliner, Mawar sempat menjalani berbagai usaha. Sebelum menikah, ia pernah bergerak di bidang pengadaan barang untuk pemerintahan. Setelah memiliki anak, ia memilih usaha yang lebih fleksibel dari rumah. “Setelah punya anak, waktu saya terbatas. Akhirnya mulai jualan online, lalu merintis usaha dari rumah. Sebelumnya saya juga punya usaha aksesoris sanggul,” tuturnya.
Dari usaha aksesoris bernama Wadon Bali, Mawar mengumpulkan modal untuk mengembangkan bisnis sambal. Ia menyebut peluang usaha sambal sebenarnya sudah terlihat sejak 2019, namun kala itu ia masih fokus pada bisnis sanggul karena perputaran uangnya lebih cepat.
Baru pada 2023, ia memutuskan memberi perhatian penuh pada Sambal Wadon. Keputusan tersebut juga dipengaruhi keinginannya membantu orang lain, setelah tergerak membuka peluang kerja bagi teman suaminya yang mengalami masalah keluarga dan kehilangan pekerjaan. “Suami saya punya teman yang sedang mengalami musibah. Saya berpikir, kalau usaha ini berkembang, bisa sekalian bantu orang bekerja. Dari sana kami makin serius,” katanya.
Nama “Wadon” dipilih dengan pertimbangan makna. Dalam bahasa Jawa, wadon berarti perempuan. Menurut Mawar, sambal identik dengan masakan rumahan yang sering diasosiasikan dengan sosok perempuan. Namun ia ingin memberi makna yang lebih luas: perempuan masa kini tidak hanya identik dengan dapur, tetapi juga mampu mandiri dan berkarya. “Perempuan sekarang tidak hanya di dapur. Banyak yang bekerja. Jadi dengan adanya Sambal Wadon, aktivitas memasak bisa dipermudah, tapi perempuan juga tetap bisa produktif,” ujarnya.
Dalam perjalanannya, Mawar menyebut tantangan terbesar justru berada pada upaya menjaga kualitas produk. Karena seluruh sambal diproduksi tanpa bahan pengawet kimia, masa simpan menjadi perhatian penting. “Kadang kalau ada varian baru atau proses masaknya kurang matang, produknya jadi tidak awet. Karena kami hanya pakai minyak, garam, dan gula sebagai pengawet alami,” ungkapnya.
Meski demikian, ia mengaku tidak pernah terpikir untuk berhenti. “Enggak pernah kepikiran berhenti. Karena saya sendiri butuh Sambal Wadon untuk makan,” katanya.
Modal awal yang digunakan untuk merintis usaha ini relatif sederhana. Mawar menyebut sekitar Rp5 juta dipakai untuk membeli mesin produksi, sementara perlengkapan lain berasal dari hasil usahanya sebelumnya.
Kini, Sambal Wadon berkembang menjadi bagian dari Wadon Bali Group yang menaungi sejumlah lini bisnis, mulai dari kuliner, aksesoris, hingga produk kecantikan. Sambal Wadon memiliki sekitar 12 hingga 13 varian, dengan sambal cumi dan tongkol sebagai produk terlaris.
Mawar menilai media sosial berperan besar dalam pertumbuhan bisnisnya. Ia menggandeng influencer dan konten kreator untuk memperluas jangkauan pasar. “Peran media sosial sangat besar. Kami kerja sama dengan banyak influencer. Mereka punya pengikut, kami punya produk. Jadi saling bantu,” jelasnya.
Di tengah kesibukan, Mawar berupaya menjaga keseimbangan antara keluarga dan pekerjaan. Sebagai ibu dua anak, ia memastikan pagi hari dihabiskan bersama keluarga. “Pagi pasti saya di rumah. Kalau jalan-jalan pun sekalian bikin konten. Jadi kerjaan jalan, keluarga juga jalan,” katanya.
Baginya, kesuksesan tidak hanya diukur dari omzet atau ekspansi. Ia memegang prinsip bahwa rezeki yang diperoleh harus bisa dirasakan bersama. Selain membuka lapangan pekerjaan, ia juga membantu beberapa anak yang kesulitan biaya pendidikan. “Kalau kita dapat rezeki, itu bukan hanya untuk diri sendiri. Pertama untuk Tuhan sebagai rasa syukur, kedua untuk keluarga, tim, dan orang-orang sekitar,” ujarnya.
Ke depan, Mawar berharap dapat membantu lebih banyak anak yang kesulitan mengakses pendidikan, meski belum dalam bentuk yayasan. Ia juga menyampaikan rencana pembukaan cabang Wadon Bali di Singaraja dalam waktu dekat.
Dari dapur sederhana, Mawar menilai kebutuhan sehari-hari bisa menjadi awal lahirnya usaha yang berkembang. Racikan sambal yang semula dibuat untuk keluarga, kini menjadi bisnis yang turut menghidupi dirinya dan memberi manfaat bagi orang-orang di sekitarnya.

