BERITA TERKINI
Belajar Kuliner di Tomohon, Siswa SMK Ini Menemukan Dapur sebagai Arena Identitas di Tengah Globalisasi

Belajar Kuliner di Tomohon, Siswa SMK Ini Menemukan Dapur sebagai Arena Identitas di Tengah Globalisasi

Seorang siswa SMK di Kota Tomohon, Sulawesi Utara, yang memilih program keahlian kuliner, memaknai dapur sekolah bukan hanya sebagai tempat belajar memasak, melainkan ruang untuk memahami jati diri. Bagi dia, makanan tidak sekadar kebutuhan konsumsi, tetapi juga “bahasa” yang memuat cerita, nilai, dan identitas pembuatnya.

Pemahaman itu menguat ketika ia menjalani praktik kerja lapangan (PKL) di sebuah hotel besar di Manado. Di dapur hotel, ia menyaksikan pertemuan berbagai budaya melalui menu internasional yang disajikan dengan standar global. Namun, di balik kerapihan dan konsistensi tersebut, ia merasakan ciri khas lokal kerap tersisih. Dari pengalaman itu, ia melihat dapur sebagai arena pertarungan budaya di tengah arus globalisasi.

Dalam perspektif antropologi kuliner, ia menilai makanan merupakan representasi budaya yang terus berkembang, tetapi tetap perlu berakar. Selama PKL, ia banyak mengolah menu internasional dengan standar tertentu, namun merasa ruang untuk mengekspresikan identitas diri menjadi terbatas. Sebaliknya, ketika berinteraksi dengan makanan lokal, ia merasakan kedekatan dan kebebasan yang berbeda.

Pengalaman tersebut membawanya pada kesimpulan bahwa apa yang diciptakan di dapur mencerminkan diri pembuatnya. Ia menilai kreativitas yang dipadukan dengan ciri khas budaya lokal dapat menjadi kekuatan untuk membedakan sekaligus menjaga identitas. Menurutnya, ketika cita rasa tradisional dipadukan dengan sentuhan internasional, dapat tercipta harmoni yang mampu bersaing secara global tanpa kehilangan akar. Ia menekankan bahwa hal-hal kecil seperti rasa, teknik, dan penyajian dapat berkembang menjadi peluang besar.

Ia juga merujuk sejumlah pemikiran akademik untuk memperkuat pandangannya. Sidney Mintz, dalam kajian tentang makanan dan budaya, menyebut apa yang dimakan tidak pernah netral karena berkaitan dengan sejarah, kekuasaan, dan identitas. Pemikiran itu sejalan dengan Claude Lévi-Strauss yang melihat makanan sebagai bagian dari struktur budaya manusia. Sementara Massimo Montanari menegaskan kuliner sebagai hasil konstruksi budaya yang terus berubah, namun tetap berakar pada tradisi.

Bagi siswa tersebut, pemahaman tentang ciri khas dan kreativitas membantu membentuk identitas diri yang kuat. Ia merasa terdorong menghadirkan keunikan sebagai jati diri dalam berkarya di bidang kuliner, sekaligus berharap gagasan itu dapat menjadi inspirasi bagi orang lain untuk membangun identitas dan menjaga budaya di tengah globalisasi.

Ia menutup refleksinya dengan menekankan tantangan era keberagaman budaya global: tidak sekadar menjadi peniru, melainkan pencipta yang sadar akan jati dirinya. Arus budaya luar, menurutnya, tidak bisa dihindari dan kerap membawa kemajuan. Namun, ada satu hal yang ia anggap tidak boleh diabaikan, yakni identitas tidak akan bertahan jika tidak dihidupi.