Ketua Umum Asosiasi Agribisnis Indonesia Bayu Krisnamurthi menilai strategi pemerintah yang berfokus pada substitusi produk impor dengan produk lokal tidak lagi sepenuhnya relevan dengan tantangan pasar global. Menurutnya, Indonesia perlu menyeimbangkan langkah tersebut dengan kampanye promosi ekspor untuk memacu kinerja perdagangan.
“Indonesia tidak bisa kalau hanya menerapkan substitusi impor. Kita harus seimbangkan dengan promosi ekspor,” kata Bayu dalam Jakarta Food Security Summit yang digelar Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Kamis (19/11).
Peluang ekspor dan pentingnya daya saing
Bayu mencontohkan, kesepakatan perjanjian dagang Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) antara 10 negara ASEAN dan lima negara mitra membuka peluang perluasan ekspor. Ia mengingatkan, jika pemerintah hanya fokus pada substitusi impor, Indonesia dalam jangka panjang cenderung terjebak pada strategi bertahan.
“Kita jadinya hanya defensif, seharusnya diseimbangkan juga dengan ofensif,” ujarnya.
Ia menambahkan, ketika promosi ekspor digencarkan, langkah berikutnya adalah memperkuat daya saing produk nasional. Daya saing dinilai menjadi faktor kritis agar Indonesia dapat memanfaatkan perjanjian perdagangan.
Peran swasta dan petani
Bayu menekankan penguatan daya saing tidak dapat hanya dibebankan kepada pemerintah. Ia menyebut dukungan sektor swasta, baik perusahaan besar maupun kecil, serta keterlibatan petani sebagai produsen pangan juga diperlukan. Kerja sama yang dibangun, menurutnya, harus saling menguntungkan.
Kadin dorong orientasi ekspor di tengah pandemi
Kadin Indonesia menilai perlambatan pertumbuhan ekonomi global akibat pandemi Covid-19 menjadi tantangan bagi perekonomian Indonesia. Kondisi tersebut mendorong pelaku usaha menyusun berbagai strategi, termasuk mencari peluang pasar baru.
Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Hubungan Internasional Shinta Widjaja Kamdani mengatakan, diperlukan dorongan agar pelaku usaha Indonesia lebih berorientasi ekspor dan tidak hanya berfokus pada pemenuhan kebutuhan domestik.
Ia juga menyatakan peluang ekspor ke berbagai negara mitra dagang Indonesia tetap terbuka meski pandemi masih menekan banyak negara. Namun, hambatan dagang berupa tarif dan nontarif dinilai masih menjadi tekanan bagi komoditas ekspor utama Indonesia, terutama minyak kelapa sawit, karet, dan produk perikanan.
Proyeksi WTO
Sebelumnya, Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) memproyeksikan volume perdagangan dunia turun 9,2 persen pada 2020. Perdagangan global diperkirakan baru dapat pulih pada akhir 2021 dengan pertumbuhan sekitar 7,2 persen.
Seiring penurunan transaksi perdagangan, WTO memperkirakan pertumbuhan ekonomi global pada 2020 minus 4,8 persen dan kembali tumbuh 4,9 persen pada 2021.
Usulan Kadin kepada pemerintah
Shinta menyampaikan Kadin telah mengusulkan sejumlah langkah untuk mendorong orientasi ekspor, antara lain:
- meningkatkan produktivitas dan stabilisasi produksi dalam negeri;
- melakukan reformasi sektor agrikultur dan perikanan melalui perbaikan iklim usaha;
- membenahi ketidaksesuaian antara produksi pangan hulu dengan kebutuhan industri makanan dan minuman serta pasar ekspor;
- memperkuat diplomasi, termasuk reformasi institusi publik dan swasta yang bertanggung jawab atas promosi, perdagangan, dan investasi, melalui kajian serta penguatan riset pasar.

