Perdebatan soal asal-usul ketoprak kembali mencuat di ruang publik. Di tengah popularitasnya sebagai makanan kaki lima, muncul klaim yang menyebut ketoprak sebagai kuliner asli Cirebon. Namun, sejumlah catatan dalam literatur kuliner lokal justru menempatkan ketoprak sebagai makanan rakyat yang lahir dan berkembang di Jakarta, lekat dengan identitas kuliner Betawi.
Ketoprak dikenal sebagai perpaduan bihun, tahu, tauge, dan siraman bumbu kacang kental. Dalam berbagai narasi kuliner Jakarta, hidangan ini disebut sebagai santapan yang sejak lama akrab di kalangan warga Betawi. Karena itu, klaim yang memindahkan asal-usulnya ke daerah lain dinilai berpotensi mengaburkan jejak sejarah kuliner lokal yang berakar di ibu kota.
Salah satu sumber kekeliruan yang kerap muncul adalah penyamaan latar belakang penjual dengan identitas makanan. Banyak pedagang ketoprak memang berasal dari Jawa Barat dan menggunakan bahasa Sunda saat berjualan. Situasi itu kemudian memunculkan anggapan bahwa ketoprak otomatis berasal dari daerah asal para penjualnya. Padahal, asal-usul sebuah makanan tidak selalu ditentukan oleh tempat asal pedagang yang menjajakannya.
Secara historis, ketoprak disebut mulai dikenal luas sebagai makanan khas Jakarta dan populer sejak sekitar tahun 1970-an. Sejumlah literatur kuliner lokal mencatat kemunculannya sebagai hasil kreativitas warga Jakarta yang memadukan bahan-bahan sederhana agar mudah dijajakan berkeliling menggunakan pikulan.
Soal penamaan, “ketoprak” diyakini berasal dari singkatan bahan-bahannya, yakni ketupat dan toge, dengan rujukan pada proses “digeprak” atau dihaluskan saat meracik bumbu. Dalam narasi ini, tidak disebutkan keterkaitan historis yang kuat antara ketoprak dengan tradisi kuliner Cirebon, yang dalam beberapa hidangan pesisirnya lebih menonjolkan penggunaan kaldu atau rempah khas daerah setempat.
Di balik perdebatan tersebut, isu yang disorot adalah pentingnya menjaga apresiasi terhadap sejarah kuliner Betawi. Ketika ketoprak dianggap sebagai makanan dari luar Jakarta, ada kekhawatiran bahwa hal itu dapat mengikis pengakuan terhadap warisan budaya yang semestinya dilindungi.
Karena itu, publik diimbau lebih cermat memverifikasi informasi yang beredar, termasuk soal asal-usul makanan. Memahami sejarah di balik sepiring ketoprak dipandang sebagai bagian dari penghargaan terhadap kebudayaan lokal, tanpa perlu menggantungkan kelezatan makanan pada mitos yang tidak teruji.

