Arus balik Lebaran 2026 mulai menunjukkan perubahan. Pemudik tidak lagi semata-mata mengejar waktu kembali ke kota, tetapi juga memanfaatkan perjalanan untuk singgah dan menikmati kuliner khas daerah.
Salah satu rute yang disebut mengalami peningkatan minat adalah Jalur Pantai Selatan (Pansela). Pemerintah mendorong penggunaan jalur ini sebagai alternatif untuk membantu mengurai kepadatan di Pantura dan tol Trans Jawa.
Membentang lebih dari 1.500 kilometer dari Banten hingga Jawa Timur, Pansela dinilai menawarkan jalur yang relatif lengang, sekaligus panorama wisata dan ragam kuliner lokal. Di sepanjang jalur ini, pemudik dapat menemukan berbagai makanan khas yang kerap menjadi tujuan singgah saat arus balik.
Sembilan kuliner yang kerap diburu di jalur Pansela
Berikut daftar kuliner yang disebut menjadi daya tarik di sejumlah titik Pansela:
1) Angeun Lada (Pandeglang), gulai daging kerbau dengan kuah.
2) Maranggi (Purwakarta), sate berbumbu manis-gurih tanpa saus kacang, dengan bumbu yang meresap ke dalam daging.
3) Mangut Beong (Magelang), olahan ikan sungai dengan kuah santan pedas yang kuat.
4) Orem-orem (Malang), perpaduan tempe, ayam, dan kuah santan, disajikan dengan ketupat.
5) Mie Kocok (Bandung), mie berkuah kaldu sapi kental dengan kikil dan tauge.
6) Nasi Cikur (Tasikmalaya), nasi berbumbu kencur dengan cita rasa gurih khas Sunda.
7) Yutuk (Kebumen), undur-undur laut yang digoreng menjadi rempeyek atau bakwan.
8) Ayam Lodho (Tulungagung), ayam bakar yang dimasak kembali dalam kuah santan pedas.
9) Pecel Gudeg (Jember), perpaduan pecel dan gudeg dalam satu sajian.
Pola arus balik berubah, Pansela makin diperhitungkan
Fenomena meningkatnya aktivitas kuliner di Pansela disebut berkaitan dengan perubahan pola mobilitas masyarakat selama arus balik Lebaran 2026.
Pertama, arus balik diperkirakan terjadi dalam beberapa gelombang, seperti 24–25 Maret dan 28–29 Maret 2026. Dengan kepulangan yang tidak terpusat pada satu waktu, pemudik dinilai memiliki ruang lebih untuk singgah di perjalanan.
Kedua, Pansela tidak hanya dipilih karena faktor menghindari kemacetan, tetapi juga karena menawarkan pengalaman perjalanan yang berbeda—mulai dari pemandangan pantai hingga kesempatan mencicipi kuliner lokal.
Ketiga, kuliner kini menjadi bagian dari strategi perjalanan. Jika sebelumnya makan lebih diposisikan sebagai kebutuhan, sebagian pemudik disebut mulai menyusun rute dengan titik singgah kuliner sebagai agenda.
Keempat, penyebaran arus balik yang lebih merata dinilai berpotensi memberi dampak ekonomi bagi pelaku UMKM kuliner di sepanjang Pansela, karena pergerakan pemudik tidak menumpuk dalam waktu singkat.
Dengan tren ini, arus balik Lebaran tidak lagi dipandang sekadar perjalanan kembali ke rutinitas. Di jalur Pansela, perjalanan pulang kian sering dipadukan dengan eksplorasi rasa, sekaligus menjadikan rute tersebut perlahan bertransformasi dari jalur alternatif menjadi bagian dari tujuan perjalanan.

