BERITA TERKINI
Anak 9 Tahun Alami Luka Bakar Usai Ikuti Tren Viral, Pengawasan Bermedia Sosial Kembali Disorot

Anak 9 Tahun Alami Luka Bakar Usai Ikuti Tren Viral, Pengawasan Bermedia Sosial Kembali Disorot

Perubahan gaya hidup di era digital tidak selalu berdampak positif. Kemudahan akses informasi melalui media sosial ikut mengubah cara orang berinteraksi, berkembang, dan membentuk jati diri. Di sisi lain, penggunaan ponsel pintar sejak usia dini membuat anak-anak terpapar arus informasi global tanpa batasan yang memadai.

Berbagai platform video singkat turut mendorong lahirnya tren viral. Sebagian tren memuat konten kreatif dan edukatif, namun sebagian lainnya berisiko membahayakan keselamatan, terutama ketika ditiru tanpa pemahaman risiko.

Salah satu kasus yang menjadi sorotan adalah seorang anak berusia 9 tahun yang mengalami luka bakar serius setelah mencoba meniru tantangan viral di media sosial. Anak tersebut memanaskan mainan berisi gel “NeeDoh Nice Cube” dengan tujuan membuatnya lebih lembut. Namun, karena mainan itu berisi gel, benda tersebut meledak dan menyebabkan luka bakar tingkat dua pada wajah dan tangan.

Peristiwa ini kembali mengingatkan bahwa perubahan gaya hidup digital perlu diimbangi literasi risiko serta pengawasan yang memadai, khususnya pada anak.

Dampak negatif perubahan gaya hidup bermedia sosial

Perubahan kebiasaan akibat media sosial tidak hanya memengaruhi proses tumbuh kembang, tetapi juga cara anak dan remaja mengambil keputusan. Kelompok usia ini dinilai paling rentan karena beberapa faktor.

Pertama, dorongan mencari validasi. Respons seperti tanda suka, komentar, dan umpan balik dapat memotivasi anak mengikuti tren yang sedang ramai. Selain itu, sistem algoritma cenderung memperkuat perilaku tersebut dengan meningkatkan paparan konten yang sedang naik, tanpa mempertimbangkan risikonya. Dalam konteks ini, desain platform disebut dapat memperburuk kecemasan, gangguan perhatian, serta meningkatkan kerentanan remaja terhadap tekanan sosial digital.

Kedua, Fear of Missing Out (FOMO). Tekanan psikologis dapat mendorong anak atau remaja ikut membuat konten agar tidak dianggap tertinggal atau tidak “gaul”.

Ketiga, normalisasi risiko. Dari sisi perkembangan, bagian otak yang berperan dalam kontrol impuls dan penilaian risiko belum sepenuhnya terbentuk hingga usia dewasa. Ketika adegan berbahaya dilakukan banyak orang tanpa menampilkan konsekuensi, anak dapat menganggap aksi tersebut aman untuk ditiru, padahal potensi cederanya tinggi.

Bahaya mengikuti tren tanpa pengawasan

Mengikuti tren tanpa memahami risiko dapat memicu berbagai dampak, mulai dari cedera fisik hingga gangguan psikologis.

Pertama, luka bakar. Sejumlah tren melibatkan panas, api, atau benda yang dipanaskan. Jika dilakukan tanpa pengamanan, hal ini dapat berujung cedera serius. Luka bakar tingkat dua atau tiga dapat menyebabkan kerusakan jaringan, meningkatkan risiko infeksi, menimbulkan bekas luka permanen, serta memicu trauma psikologis.

Kedua, cedera fisik. Tren yang melibatkan aksi ekstrem dapat menyebabkan patah tulang, cedera kepala, hingga gangguan saraf.

Ketiga, paparan zat berbahaya. Ada tantangan viral yang mendorong penggunaan atau konsumsi zat tidak aman dan berpotensi menimbulkan keracunan.

Keempat, dampak psikologis. Tekanan untuk tampil dan diakui dapat memicu kecemasan, gangguan harga diri, serta ketergantungan pada validasi digital.

Dalam banyak kasus, masalahnya bukan semata pada tren yang muncul, melainkan minimnya filter kritis sebelum meniru tindakan.

Peran orang tua untuk mencegah kejadian serupa

Upaya pencegahan dinilai perlu dilakukan secara proaktif. Ada beberapa langkah yang dapat ditempuh orang tua saat anak mulai aktif bermedia sosial.

Pertama, pengawasan aktif, bukan sekadar larangan. Larangan tanpa penjelasan sering kali tidak efektif. Orang tua perlu mengetahui platform yang digunakan anak, memahami tren yang sedang viral, berdiskusi terbuka mengenai bahaya, serta memberikan edukasi literasi digital. Anak perlu memahami bahwa tidak semua konten aman ditiru, video viral tidak selalu memperlihatkan konsekuensi, dan popularitas tidak sebanding dengan risiko.

Kedua, membatasi akses sesuai usia. Orang tua dapat memanfaatkan fitur parental control dan menetapkan durasi penggunaan ponsel yang wajar.

Ketiga, membangun kepercayaan. Relasi yang terbuka diharapkan membuat anak merasa aman untuk bercerita mengenai hal-hal yang ingin dicoba.

Kasus anak yang mengalami luka bakar setelah meniru tren viral menjadi pengingat bahwa anak dan remaja sangat mudah terpengaruh oleh arus media sosial. Karena itu, pendampingan orang tua menjadi kunci agar aktivitas digital anak lebih aman dan terkendali.