Bepergian tidak hanya soal mendatangi tempat wisata populer atau mengabadikan momen di depan bangunan ikonik. Bagi banyak orang, makanan justru menjadi salah satu cara paling cepat untuk mengenal budaya setempat.
Namun, tidak semua pelancong antusias mencicipi kuliner lokal. Sebagian memilih makanan yang sudah akrab, seperti menu cepat saji internasional, ketimbang makanan tradisional daerah yang sedang dikunjungi. Pilihan ini kerap dianggap sekadar soal selera atau kekhawatiran sakit perut, padahal ada faktor psikologis yang turut memengaruhi.
Menurut ulasan yang dimuat Geediting.com pada Senin, 28 April 2025, terdapat sejumlah perilaku umum yang dapat menjelaskan mengapa seseorang enggan mencoba makanan lokal saat traveling. Dari daftar tersebut, dua alasan berikut kerap muncul.
1. Takut pada hal yang tidak dikenal
Bagi sebagian orang, mencoba makanan baru dapat memicu kecemasan, terutama karena makanan tersebut akan dikonsumsi dan masuk ke dalam tubuh. Respons ini disebut sebagai refleks alami: otak, khususnya bagian yang berkaitan dengan naluri bertahan hidup, cenderung bersikap waspada terhadap sesuatu yang asing.
Makanan yang familiar biasanya menghadirkan rasa aman. Sebaliknya, makanan yang belum pernah dicoba dapat memunculkan berbagai kekhawatiran, mulai dari potensi alergi, rasa yang tidak cocok, hingga rasa tidak nyaman bila ternyata tidak menyukainya.
Karena itu, pilihan untuk tetap memesan makanan yang sudah dikenal saat berada di tempat baru tidak selalu berarti menolak budaya lokal. Dalam beberapa kasus, keputusan tersebut lebih mencerminkan upaya seseorang untuk merasa aman di situasi yang tidak sepenuhnya ia kenal.
2. Kebutuhan akan kendali
Alasan lain yang disebutkan adalah kebutuhan untuk tetap memegang kendali. Ada orang-orang yang merasa lebih nyaman ketika segala sesuatu berjalan sesuai rencana, termasuk urusan makanan.
Saat bepergian, banyak hal sudah terasa tidak pasti—mulai dari bahasa, lingkungan, hingga pola aktivitas harian. Dalam kondisi seperti itu, mencoba makanan baru bisa menambah unsur ketidakpastian. Dengan memilih menu yang sudah familiar, sebagian pelancong merasa bisa mengambil kembali kendali atas setidaknya satu hal di tengah situasi yang asing.

