Stres merupakan hal yang wajar dan bisa dialami siapa saja, baik dipicu faktor internal maupun eksternal. Meski begitu, stres perlu dikelola dengan baik karena bila dibiarkan dapat menghambat rutinitas sehari-hari.
Ahli gizi Elizabeth Shaw, MS, RDN, CPT, menyebut sejumlah kebiasaan pagi dapat memberi manfaat bagi kesehatan fisik dan mental, termasuk membantu menghadapi stres. Berikut tiga kebiasaan yang disarankan dilakukan sebelum pukul 09.00.
1. Mendapatkan sinar matahari
Tubuh memiliki jam internal 24 jam yang dikenal sebagai ritme sirkadian. Ritme ini sangat dipengaruhi isyarat lingkungan, terutama cahaya. Keluar rumah dalam satu jam pertama setelah bangun tidur disebut dapat mengirim sinyal ke otak untuk memicu hormon kortisol yang membantu tubuh terasa lebih segar.
Paparan sinar matahari juga membantu mengatur waktu pelepasan melatonin, hormon yang berkaitan dengan tidur, yang umumnya dilepaskan sekitar 14 jam kemudian. Ritme sirkadian yang teratur dapat mendukung tidur malam yang lebih nyenyak dan berkualitas, yang bermanfaat dalam menghadapi stres kronis.
2. Berolahraga
Olahraga di pagi hari juga disebut menjadi kebiasaan yang membantu mengelola stres. Aktivitas fisik memicu pelepasan endorfin yang dapat memperbaiki suasana hati sehingga hari terasa lebih positif.
Meski olahraga bisa dilakukan kapan saja, Shaw menilai olahraga pagi kerap dikaitkan dengan pembentukan rutinitas yang lebih konsisten. Ia juga menyebut memulai hari dengan bergerak dapat membantu merasa lebih tenang sekaligus meningkatkan kualitas tidur, sementara kurang tidur dapat memperburuk rasa cemas.
Untuk memulai, Shaw menyarankan langkah sederhana seperti jalan santai, yoga, atau lari selama 10–15 menit.
3. Sarapan sehat dan seimbang
Kebiasaan berikutnya adalah sarapan. Setelah tidak makan pada malam hari, kadar gula darah cenderung lebih rendah. Sarapan seimbang dapat membantu menstabilkan kadar gula darah.
Kadar gula darah yang stabil penting untuk menjaga energi tetap konsisten, mendukung fungsi kognitif, dan membantu pengaturan suasana hati—faktor yang berperan dalam pengelolaan stres. Melewatkan sarapan dapat memicu fluktuasi gula darah yang dikaitkan dengan iritabilitas, kelelahan, serta menurunnya kemampuan menghadapi stres.
Shaw menyarankan sarapan yang mencakup karbohidrat, protein, dan lemak sehat agar energi terjaga sepanjang hari. Ia menilai sarapan sehat dan seimbang dapat membantu mempersiapkan tubuh dan otak untuk menghadapi aktivitas yang akan datang.
Dengan membiasakan paparan sinar matahari, bergerak aktif, dan sarapan seimbang sebelum pukul 09.00, seseorang dapat membangun rutinitas pagi yang mendukung kesehatan sekaligus membantu mengelola stres.

