BERITA TERKINI
Ahli Gizi: Takjil Sekadar Pembatal Puasa, Bukan Ajang Makan Besar

Ahli Gizi: Takjil Sekadar Pembatal Puasa, Bukan Ajang Makan Besar

Bulan Ramadan identik dengan tradisi berbuka puasa yang kerap diawali dengan takjil. Jenisnya beragam, mudah ditemukan, dan banyak dijual di berbagai sudut jalanan dengan harga yang kompetitif.

Namun dokter sekaligus ahli gizi masyarakat Tan Shot Yen mengingatkan bahwa takjil bukanlah ajang untuk makan besar. Menurut dia, takjil berfungsi untuk membatalkan puasa dan membantu tubuh kembali terhidrasi setelah berjam-jam tanpa asupan makanan dan minuman.

Tan menegaskan konsumsi makanan ringan seperti gorengan, kolak, atau makanan tinggi gula dan lemak secara berlebihan saat berbuka justru dapat menambah asupan kalori yang tidak diperlukan tubuh. Jika dilakukan rutin setiap hari selama Ramadan, kebiasaan tersebut berpotensi meningkatkan berat badan.

Ia menyarankan agar berbuka diawali dengan air putih dan beberapa buah kurma untuk membantu menstabilkan kadar gula darah tanpa membebani saluran pencernaan. “Tujuan takjil hanya untuk membatalkan puasa dan rehidrasi. Rehidrasi itu air, bukan teh manis atau sirup,” ujarnya, dikutip dari Antaranews pada 21 Februari 2026.

Selain membatalkan puasa, fokus utama saat berbuka adalah memenuhi kebutuhan nutrisi tubuh setelah seharian berpuasa. Konsumsi takjil yang berlebihan dapat membuat seseorang cepat kenyang sehingga menurunkan selera makan ketika menu utama yang seharusnya lebih bergizi disajikan.

Kondisi itu berisiko menyebabkan kurangnya asupan zat gizi penting seperti protein, serat, vitamin, dan mineral. Karena itu, setelah berbuka dengan air putih dan kurma, Tan menganjurkan untuk menunaikan ibadah Maghrib terlebih dahulu, kemudian melanjutkan makan utama dengan prinsip gizi seimbang.

Pedoman “Isi Piringku” dari Kementerian Kesehatan dapat dijadikan acuan sederhana, yakni setengah piring diisi sayur dan buah, sementara sisanya terdiri dari makanan pokok dan sumber protein.