Ramadan kerap menjadi momen yang diharapkan bisa membantu menurunkan berat badan. Namun, tidak sedikit orang justru mendapati bobot tubuh meningkat selama berpuasa. Kepala Instalasi Gizi Rumah Sakit Akademik Universitas Gadjah Mada (RSA UGM), Pratiwi Dinia Sari, menjelaskan bahwa puasa pada dasarnya berpotensi menurunkan berat badan, tetapi hasilnya sangat bergantung pada pola makan dan kebiasaan harian selama Ramadan.
Menurut Dini, terbatasnya waktu makan saat puasa seharusnya membuat volume dan kalori asupan ikut menurun. Jika dijalankan secara konsisten, kondisi ini dapat mendorong penurunan berat badan. Namun, ia menilai kenyataannya sering berbeda karena banyak orang tergoda menyantap hidangan berbuka yang tinggi gula dan lemak. Akibatnya, defisit kalori yang diharapkan justru berubah menjadi surplus energi.
Dini juga menyoroti bahwa puasa tidak hanya berkaitan dengan menahan lapar dan dahaga, tetapi turut memengaruhi sistem hormonal tubuh. Ia menyebut hormon leptin dan ghrelin—yang berperan dalam mengatur rasa kenyang dan lapar—mengalami perubahan selama Ramadan. Bila pola makan tetap sehat dan disertai aktivitas fisik ringan, perubahan ini dapat membantu mengontrol nafsu makan. Ia menekankan, pengendalian nafsu makan akan lebih mudah tercapai jika kebiasaan makan dijaga dan olahraga ringan tetap dilakukan.
Masalahnya, kontrol tersebut kerap runtuh ketika waktu berbuka tiba. Takjil manis, gorengan, hingga minuman bersirup menjadi pilihan yang umum. Dini memberi contoh, satu potong pisang goreng seberat 50 gram mengandung sekitar 130 kilokalori, setara dengan kalori dari 500 gram pepaya. Ia mengingatkan, tambahan gula pasir dan kental manis pada minuman segar juga dapat meningkatkan asupan kalori secara signifikan. Jika menu berbuka didominasi makanan tinggi gula dan lemak, kata Dini, pengurangan frekuensi makan tidak otomatis membuat kalori harian turun.
Selain asupan makanan, pola tidur turut dinilai berpengaruh besar. Ramadan sering membuat orang tidur lebih larut, bangun lebih awal, dan kehilangan jam istirahat berkualitas. Kondisi ini dapat memengaruhi produksi hormon lapar dan kenyang, serta kortisol yang berkaitan dengan metabolisme. Dampaknya, tubuh cenderung menyimpan energi lebih banyak.
Untuk membantu menjaga metabolisme tetap stabil, Dini menyarankan agar tidur malam tetap cukup. Ia juga merekomendasikan power nap singkat selama 20–30 menit pada siang hari sebagai upaya menjaga kualitas istirahat di tengah perubahan jadwal selama Ramadan.

