Dietisien Rumah Sakit Pelni, Maulina Juwita Ardiana, S.Gz., RD, menekankan pentingnya pemenuhan makanan padat gizi bagi anak untuk mendukung pertahanan sistem imun sekaligus perkembangan kognitif. Menurutnya, pola makan yang mencakup karbohidrat, sayur, protein, serta vitamin dan mineral secara seimbang perlu menjadi perhatian utama dalam asupan harian anak.
Maulina menjelaskan, kekurangan asupan zat gizi dalam jangka panjang telah terbukti secara ilmiah dapat meningkatkan risiko penyakit infeksi akibat lemahnya sistem imun. Dampak lainnya termasuk terhambatnya perkembangan motorik dan kognitif, penurunan performa di sekolah, hingga meningkatnya risiko berbagai penyakit tidak menular saat dewasa.
Ia menilai, salah satu masalah yang masih sering terjadi di masyarakat adalah pemberian makanan kepada anak tanpa mempertimbangkan kecukupan kandungan gizinya. Dalam praktiknya, makanan instan dan cepat saji yang tinggi kalori serta lemak, namun minim vitamin dan mineral, kerap dipilih sebagai jalan keluar agar anak tetap mau makan.
Dalam masa pertumbuhan, Maulina menyebut protein menjadi zat gizi yang sangat penting untuk menunjang proses perkembangan anak. Ia menambahkan, kebutuhan protein meningkat seiring bertambahnya usia, berat badan, dan aktivitas fisik anak, sehingga tidak dapat disamaratakan. Karena itu, ia menyarankan orang tua berkonsultasi dengan ahli gizi atau dokter anak untuk menyesuaikan kebutuhan masing-masing anak.
Meski kebutuhan protein anak belum sebesar orang dewasa, Maulina mengingatkan agar sumber protein hewani yang beragam tetap diupayakan hadir dalam setiap piring anak, seperti ayam, ikan, telur, daging, dan udang. Selain itu, sumber protein lainnya dapat berasal dari tahu, tempe, kacang-kacangan, serta produk susu.
Untuk konsumsi sayur dan buah, Maulina merujuk Pedoman Gizi Seimbang dari Kementerian Kesehatan. Pada anak usia sekolah, konsumsi sayur dianjurkan 200–250 gram per hari dan buah 100–150 gram per hari. Adapun pada balita, sayur dan buah tetap perlu diberikan dalam porsi yang lebih kecil namun bertahap guna membiasakan anak mengonsumsinya.
Ia juga mengingatkan pentingnya memanfaatkan ragam sumber karbohidrat, protein, sayur, dan buah yang tersedia agar kebutuhan zat gizi anak terpenuhi melalui pilihan bahan pangan yang beragam. Jika kebutuhan zat gizi sudah tercukupi melalui makanan padat, susu dapat diberikan sebagai tambahan sumber protein, kalsium, magnesium, serta vitamin D.
Maulina merekomendasikan konsumsi susu sebesar 400–480 mililiter untuk anak usia 1–2 tahun, 480–600 mililiter untuk anak usia 2–8 tahun, dan 720 mililiter untuk anak usia 9–18 tahun.
Dari sisi pengolahan, Maulina menyarankan metode memasak dikukus untuk meminimalkan hilangnya vitamin yang larut dalam air, seperti vitamin C dan vitamin B kompleks. Jika sayuran direbus, ia menyarankan air rebusannya tidak dibuang karena turut mengandung vitamin larut air. Menumis juga dapat menjadi pilihan karena umumnya waktu memasaknya tidak lama sehingga dapat meminimalkan kehilangan vitamin dan mineral yang sensitif terhadap suhu tinggi.
Sebaliknya, ia mengingatkan bahwa menggoreng dengan minyak banyak dan suhu tinggi dapat meningkatkan kehilangan beberapa zat gizi selama proses pemasakan.

