BERITA TERKINI
Ahli Gizi Ingatkan Risiko Gorengan Saat Berbuka Puasa, Ini Saran Konsumsinya

Ahli Gizi Ingatkan Risiko Gorengan Saat Berbuka Puasa, Ini Saran Konsumsinya

Gorengan kerap menjadi menu favorit saat berbuka puasa. Di banyak keluarga, hidangan ini sering hadir bersama makanan manis seperti es atau kolak, bahkan dianggap belum lengkap bila tidak tersedia di meja makan.

Namun, kebiasaan mengonsumsi gorengan setelah seharian berpuasa tidak dianjurkan dan sebaiknya dihindari. Ahli gizi IPB University, Dr dr Karina Rahmadia Ekawidyani, MGizi, menjelaskan bahwa gorengan mengandung lemak jenuh dan lemak trans yang tinggi akibat proses penggorengan.

Dalam program IPB Pedia di YouTube IPB TV yang tayang Jumat (20/2), dosen Departemen Gizi Masyarakat, Fakultas Kedokteran dan Gizi (FKGiz) IPB University itu menyampaikan bahwa makan gorengan saat perut kosong setelah berpuasa seharian berisiko mengganggu kesehatan pencernaan.

Karina menjelaskan, lemak merupakan zat gizi yang lebih sulit dicerna dibandingkan karbohidrat. Proses pencernaan lemak juga memerlukan waktu lebih lama.

Setelah berpuasa seharian, sistem pencernaan berada dalam kondisi beristirahat cukup lama. Karena itu, ketika tubuh langsung menerima makanan tinggi lemak, sistem pencernaan harus bekerja lebih berat.

Selain itu, konsumsi gorengan saat perut kosong dapat memicu peningkatan asam lambung, terutama pada orang yang memiliki riwayat gangguan lambung. Ia juga mengingatkan bahwa konsumsi lemak berlebih secara terus-menerus berisiko menumpuk dalam tubuh dan dapat memicu obesitas.

Meski begitu, Karina menegaskan gorengan tidak sepenuhnya dilarang saat berbuka puasa. “Boleh, tapi dengan catatan, diberi jeda waktu dan tidak berlebihan,” ujarnya.

Ia menyarankan agar gorengan dikonsumsi setelah perut diisi terlebih dahulu, baik dengan makanan ringan maupun makanan utama, serta tetap membatasi jumlahnya. Karina juga mengajak masyarakat mengontrol konsumsi gorengan tidak hanya saat Ramadan, tetapi juga dalam keseharian, karena kebiasaan makan yang lebih sehat dapat berdampak positif bagi kualitas kesehatan di masa mendatang.