Pola makan tidak sehat disebut menjadi salah satu faktor risiko kanker yang sebenarnya dapat dicegah. Ahli gizi menegaskan, penerapan gizi seimbang sejak dini terbukti membantu menurunkan risiko berbagai jenis kanker, termasuk kanker usus, payudara, dan lambung.
Nutrisionis Ahli Pertama dari Instalasi Gizi RSMH Palembang, Gyzka Arte Tifa, menyampaikan hal tersebut dalam Dialog Indonesia Sehat di PRO 1 RRI, Kamis, 24 April 2026. Ia menekankan bahwa pola makan bergizi merupakan fondasi penting untuk menjaga kesehatan tubuh.
Menurutnya, asupan nutrisi seimbang tidak hanya berperan memenuhi kebutuhan energi, tetapi juga berkontribusi dalam pencegahan penyakit kronis, termasuk kanker. “Makan bergizi itu penting untuk kita, dan untuk generasi muda mencegah terbentuknya kanker didalam tubuh kita,” ujarnya.
Ia menjelaskan konsep gizi seimbang mencakup keberagaman makanan yang mengandung karbohidrat, protein, lemak sehat, vitamin, dan mineral. Pola makan yang teratur dan seimbang dinilai dapat meningkatkan daya tahan tubuh serta membantu proses regenerasi sel secara optimal.
Terkait pilihan makanan sehari-hari, ia menyebut konsumsi makanan seperti nasi uduk tetap diperbolehkan selama porsinya diperhatikan dan dilengkapi sumber protein. “Nasi uduk tidak apa-apa dikonsumsi di pagi hari, asalkan tercukupi dan kalau bisa ditambahkan telur,” katanya.
Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak mengombinasikan mi instan dengan nasi dalam satu porsi karena berisiko meningkatkan asupan karbohidrat secara berlebihan. Meski demikian, dalam kondisi tertentu hal itu masih bisa disiasati. “Tidak dianjurkan, tetapi kalau dadakan bisa dibagi dua porsinya, nasi setengah dan mie setengah,” tambahnya.
Dalam kesempatan itu, ia turut menyinggung data Riset Kesehatan Dasar yang menyebut 95,5% penduduk Indonesia kurang mengonsumsi sayur dan buah. Padahal, kebiasaan makan terbentuk sejak kecil. Ia menekankan, penerapan gizi seimbang menjadi kunci dengan prinsip bervariasi, cukup, tidak berlebih, dan rutin.

