69 Arak’s Day di Kuta: Saat Arak Bali, Kuliner Tradisional, dan Identitas Budaya Bertemu di Meja yang Sama

69 Arak’s Day di Kuta: Saat Arak Bali, Kuliner Tradisional, dan Identitas Budaya Bertemu di Meja yang Sama

Nama “69 Arak’s Day” mendadak ramai dibicarakan karena menyentuh simpul sensitif sekaligus memikat: arak Bali, kuliner tradisional, dan pariwisata Kuta dalam satu panggung.

Di ruang publik digital, arak bukan sekadar minuman. Ia membawa cerita tentang tradisi, ekonomi petani, regulasi, hingga cara Bali memaknai identitasnya di tengah arus industri wisata.

Acara di 69 Bar & Resto, Grand Istana Rama Hotel, Kuta, menjadi pemantik percakapan itu. Peringatan Hari Arak Bali pada 29 Januari 2026 memberi momentum yang tepat.

-000-

Mengapa Ini Menjadi Tren: Tiga Alasan yang Saling Mengunci

Pertama, isu ini menyatukan dua magnet perhatian publik: pariwisata Bali dan makanan-minuman tradisional. Ketika keduanya bertemu, percakapan publik biasanya meluas melampaui urusan rasa.

Arak Bali telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia. Label itu membuat publik memandangnya sebagai aset, bukan sekadar komoditas konsumsi.

Kedua, ada narasi “pemuliaan” arak yang disampaikan secara eksplisit. Pilihan kata itu memicu diskusi tentang batas antara pelestarian budaya dan promosi konsumsi alkohol.

Di Indonesia, tema alkohol sering memantik debat nilai. Karena itu, perayaan arak dalam format hotel dan resto mudah menarik perhatian.

Ketiga, bentuk acaranya adalah kolaborasi kuliner. Kolaborasi menghadirkan daya tarik konten, karena ada tokoh, ada menu spesial, dan ada klaim menjaga autentisitas.

Chef Yudhistira Hartanto tampil sebagai figur penghubung. Ia membawa reputasi dari dunia barbeque dan butchery, tetapi menegaskan tidak ingin “membaratkan” masakan Bali.

-000-

Apa yang Terjadi di Kuta: Kolaborasi, Pairing, dan Teknik Tradisional

69 Bar & Resto berkolaborasi dengan Chef Yudhistira menggelar “69 Arak’s Day”. Fokusnya memadukan kreasi minuman Darma Sensation dan kuliner khas Bali.

Darma Sensation disebut sebagai salah satu produk unggulan 69 Bar & Resto. Dalam acara ini, ia diposisikan sebagai pasangan yang “berdialog” dengan makanan.

Chef Yudhistira menjelaskan inspirasi datang dari kebiasaan para chef Bali saat menikmati arak. Arak kerap disandingkan dengan hidangan bercita rasa pedas.

Dari eksplorasi itu, lahirlah Beef Pelalah sebagai menu yang dinilai paling tepat disantap bersama arak. Penekanan ada pada kecocokan rasa, bukan sekadar sensasi.

Konsep barbeque juga diangkat, namun bukan grill modern biasa. Metode yang dipilih adalah grill bambu, sebuah penanda bahwa teknik lokal bisa menjadi pusat perhatian.

Salah satu menu unggulan adalah Timbungan. Masakan khas Bali ini dimasak di dalam bambu, memakai bumbu dan teknik tradisional.

Menu pelengkap menghadirkan Sate Lilit Bali, sayur plecing, dan kuah balung. Rangkaian itu membentuk pengalaman kuliner yang menonjolkan “rasa rumah” Bali.

Dalam penjelasannya, Chef Yudhistira menekankan perannya sebatas memberi inspirasi. Ia menyebut keahlian utama ada pada tim dapur hotel yang memahami filosofi masakan Bali.

Ia juga menyampaikan harapan agar perayaan Arak Day tahun depan lebih meriah. Kalimat “ini masih perjalanan” memberi kesan bahwa acara ini sebuah awal.

-000-

Arak sebagai Identitas: Dukungan Hotel dan Bahasa “Bertanggung Jawab”

General Manager Grand Istana Rama Hotel, I Ketut Darmayasa, menyatakan dukungan terhadap Hari Arak Bali. Ia menekankan aspek membudidayakan dan melestarikan secara bertanggung jawab.

Bagi Darmayasa, arak bukan sekadar minuman tradisional. Ia menyebut arak sebagai bagian dari identitas budaya Bali yang patut mendapat perhatian dan penghargaan.

Di titik ini, pembicaraan bergeser dari menu dan rasa, menuju makna. Identitas budaya menuntut perlakuan yang lebih hati-hati daripada sekadar strategi pemasaran.

Darmayasa juga menautkan konsep food pairing. Arak dipasangkan dengan masakan tradisional Bali untuk mempopulerkan kuliner lokal dan menumbuhkan kebanggaan terhadap produk sendiri.

Ia menyebut timbungan khas Bali sebagai salah satu contoh pairing. Pernyataan itu menegaskan arah acara: mempertemukan minuman tradisional dan masakan tradisional dalam satu narasi.

-000-

Regulasi dan Pengakuan: Mengapa Status Resmi Mengubah Cara Publik Melihat Arak

Arak Bali telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia melalui SK Nomor 414/P/2022. Pengakuan ini memberi legitimasi kultural yang kuat.

Selain itu, ada Peraturan Gubernur Bali Nomor 1 Tahun 2020 tentang minuman fermentasi dan atau destilasi khas Bali. Regulasi memperjelas bahwa arak ditempatkan dalam kerangka tata kelola.

Ketika sesuatu diakui sebagai warisan, publik cenderung bertanya: bagaimana melestarikannya tanpa mereduksi makna? Pertanyaan ini membuat isu jadi lebih luas.

Arak lalu hadir sebagai simbol: tentang hak komunitas atas tradisi, tentang standar kualitas, dan tentang peran negara dalam mengatur produk budaya.

-000-

Dimensi Ekonomi: Nira, Petani Lokal, dan Rantai Nilai yang Sering Tak Terlihat

Darmayasa menjelaskan Darma Sensation dikembangkan sejak 2018 melalui kerja sama dengan berbagai pihak. Ia menyebut ada kunjungan ke petani arak di seluruh Bali.

Ia juga menekankan bahan dasar arak Bali berkualitas seharusnya nira alami. Contohnya nira kelapa dan nira lontar yang melimpah di berbagai wilayah Bali.

Pernyataan ini penting karena menggeser fokus dari konsumsi ke hulu produksi. Arak dibingkai sebagai bagian dari keberlanjutan petani lokal dan penguatan ekonomi daerah.

Di balik satu gelas minuman tradisional, ada rantai nilai. Ada pengetahuan produksi, ada pasokan bahan, ada standar mutu, dan ada peluang pendapatan.

-000-

Kaitannya dengan Isu Besar Indonesia: Pariwisata, Budaya, dan Kedaulatan Produk Lokal

Kasus ini menempel pada isu besar Indonesia: bagaimana pariwisata memanfaatkan budaya tanpa mengurasnya. Bali sering menjadi laboratorium paling nyata untuk pertanyaan itu.

Ketika hotel dan resto mengangkat tradisi, taruhannya bukan hanya penjualan. Taruhannya adalah cara budaya direpresentasikan kepada tamu, termasuk wisatawan domestik dan mancanegara.

Isu lain adalah kedaulatan produk lokal. Dalam pernyataan Darmayasa, ada dorongan agar kebanggaan tumbuh tanpa bergantung pada produk luar negeri.

Di tengah ekonomi global, dorongan ini terasa relevan. Indonesia kerap menghadapi dilema antara menjadi pasar dan menjadi produsen nilai.

Selain itu, ada isu tata kelola minuman tradisional. Frasa “bertanggung jawab” menandakan kebutuhan keseimbangan antara pelestarian, kontrol, dan edukasi.

-000-

Kerangka Konseptual: Mengapa Food Pairing Bisa Menjadi Bahasa Baru Pelestarian

Food pairing dalam acara ini bukan sekadar tren gastronomi. Ia bisa dibaca sebagai strategi komunikasi budaya, yakni menerjemahkan tradisi ke pengalaman yang mudah dipahami tamu.

Namun, penerjemahan selalu berisiko menyederhanakan. Karena itu, penekanan Chef Yudhistira tentang tidak mengubah keaslian cita rasa menjadi penyangga moral narasi.

Dalam studi pariwisata budaya, pengalaman otentik sering menjadi komoditas. Ketika “otentik” dijual, definisinya rawan diperebutkan.

Di sini, acara “69 Arak’s Day” menunjukkan satu pendekatan: memusatkan teknik tradisional seperti grill bambu dan timbungan, bukan sekadar plating modern.

Riset tentang warisan budaya tak benda menekankan pentingnya transmisi pengetahuan antar generasi. Dalam konteks kuliner, transmisi terjadi lewat dapur, ritual, dan praktik harian.

Karena itu, kolaborasi yang mengakui peran chef lokal dan filosofi bumbu dapat dibaca sebagai upaya menjaga transmisi, bukan menggantinya.

-000-

Rujukan Luar Negeri: Ketika Minuman Tradisional Menjadi Identitas dan Komoditas

Di luar negeri, perdebatan serupa muncul saat minuman tradisional memasuki ruang komersial modern. Jepang, misalnya, memiliki budaya sake yang kuat dan terinstitusionalisasi.

Di Meksiko, mezcal dan tequila juga melewati fase dari minuman komunitas menjadi produk bernilai tinggi. Perubahan itu memunculkan diskusi tentang asal-usul dan manfaat bagi produsen kecil.

Di Korea Selatan, soju menjadi ikon budaya populer sekaligus industri besar. Popularitasnya memperlihatkan bagaimana minuman tradisional bisa menjadi identitas nasional.

Rujukan ini tidak berarti Bali harus meniru. Tetapi ia memberi cermin: ketika tradisi masuk pasar, tata kelola, narasi, dan perlindungan produsen menjadi isu utama.

-000-

Bagaimana Isu Ini Sebaiknya Ditanggapi: Rekomendasi yang Menjaga Keseimbangan

Pertama, perayaan arak sebagai warisan perlu disertai edukasi konteks budaya. Bukan hanya soal rasa, tetapi juga sejarah, bahan nira, dan etika konsumsi bertanggung jawab.

Kedua, kolaborasi kuliner sebaiknya memperjelas penghargaan pada rantai produksi. Mengaitkan menu dengan petani nira dan perajin arak membantu publik melihat siapa yang menopang tradisi.

Ketiga, jaga bahasa publik agar tidak memicu polarisasi. Menempatkan arak sebagai identitas budaya tidak harus berubah menjadi ajakan konsumsi tanpa batas.

Keempat, perkuat ruang dialog antara pelaku pariwisata, komunitas budaya, dan regulator. Pengakuan WBTB dan adanya pergub memberi fondasi, tetapi praktik di lapangan tetap menentukan.

Kelima, dorong inovasi yang menghormati teknik tradisional. Contoh grill bambu dan timbungan menunjukkan inovasi tidak selalu berarti modernisasi bentuk, melainkan pemuliaan metode.

-000-

Penutup: Tradisi yang Hidup adalah Tradisi yang Diperlakukan dengan Hormat

Tren tentang “69 Arak’s Day” memperlihatkan satu hal: publik masih peduli pada tanda-tanda identitas. Bali menjadi panggung, tetapi pertanyaannya milik Indonesia.

Apakah kita mampu merawat warisan tanpa menjadikannya sekadar tontonan. Apakah kita bisa menguatkan ekonomi lokal tanpa mengikis makna yang membuatnya bernilai.

Di meja makan, budaya sering tampak sederhana. Namun di baliknya, ada kerja panjang, pengetahuan, dan martabat komunitas yang perlu dijaga bersama.

Seperti pengingat yang kerap diulang dalam berbagai tradisi, hormat pada akar membuat pohon tetap berdiri. “Tradisi bukan untuk disimpan, melainkan untuk dihidupi dengan bijaksana.”