Miskinem (80), warga Dusun Ngandong, Desa Sidomulyo, Kecamatan Kebonagung, Pacitan, dikenal oleh warga sekitar dengan sapaan Simis. Selama 25 tahun terakhir, ia setia menjajakan aneka penganan tradisional di poskamling yang letaknya tak jauh dari rumahnya.
Simis bercerita, awalnya ia berjualan di dekat tempat penggilingan padi. Namun, setelah lokasi penggilingan pindah, ia memindahkan lapaknya ke poskamling. “Dulunya jualan di dekat tempat penggilingan padi. Lha sekarang penggilingannya pindah. Akhirnya saya jualan di sini,” tuturnya, Sabtu (12/12/2020).
Dagangan Berkurang Seiring Usia
Kegemarannya membuat jajanan sudah dimiliki sejak muda. Saat itu, selain jajanan pasar, Simis juga sempat menjual soto. Namun, seiring bertambahnya usia, ia mengurangi jumlah dagangan yang dibuat.
Kini, nenek yang telah memiliki empat cucu itu hanya menjual empat jenis jajanan tradisional. Saat ditemui, beberapa dagangannya tampak ditata di atas panggung poskamling yang difungsikan sebagai lapak, di antaranya lontong pecel, lapis, dan kue serabi.
Simis mengatakan, dahulu ada yang membantunya memasak. Namun kini, cucu-cucunya sudah beranjak besar dan bekerja, sehingga ia memasak sebisanya. “Dulu masih ada yang bantu masak. Tapi sekarang cucu sudah pada besar dan kerja. Jadi ya masak semampunya saja,” ujarnya.
Mulai Memasak Sejak Sore, Berangkat Jalan Kaki
Rutinitas berjualan dimulai sejak sore hari. Simis menyiapkan sebagian dagangan lebih awal, lalu tidur beberapa jam pada malam hari. Sekitar pukul 03.00 WIB, ia kembali bangun untuk melanjutkan memasak hingga siap dijual.
Setelah semuanya beres, Simis berjalan kaki menuju poskamling dengan jarak sekitar 150 meter dari rumahnya. Ia menyebut kebiasaan itu menjadi salah satu cara menjaga tubuh tetap bugar. “Dapat (uang) sedikit-sedikit ya disyukuri,” katanya, sambil mengaku tidak menghitung rata-rata pendapatan setiap kali berjualan.
Cuaca dan Pandemi Pengaruhi Pembeli
Lapak Simis biasanya mulai buka sekitar pukul 07.00 WIB. Pembeli datang silih berganti, dan jika cuaca cerah, dagangannya bisa habis dalam waktu kurang dari dua jam. Namun saat hujan, waktu yang dibutuhkan untuk menghabiskan dagangan cenderung lebih lama.
Selain faktor cuaca, pandemi COVID-19 turut berdampak pada jumlah pembeli yang menurun. Simis juga membatasi waktu berjualan atas pesan putranya dan tetap mengenakan masker saat melayani pembeli. “Baru mau berangkat sudah diwanti-wanti. Jangan lama-lama di poskamling, cepat pulang,” ucapnya menirukan pesan sang anak.

