BERITA TERKINI
Yuli Wijayanty Kembangkan Usaha Pokat Kocok dari Stok Alpukat di Rumah

Yuli Wijayanty Kembangkan Usaha Pokat Kocok dari Stok Alpukat di Rumah

Berawal dari keinginan memanfaatkan stok buah alpukat yang melimpah, Yuli Wijayanty merintis usaha minuman Pokat Kocok Ama Uli. Usaha yang dimulai sejak akhir 2018 itu awalnya dijalankan sebagai kegiatan sampingan dengan menggunakan bahan yang tersedia di rumah, sebelum perlahan berkembang menjadi salah satu bisnis kuliner yang masih dijalaninya hingga kini.

Cerita tersebut disampaikan Yuli saat berbincang dalam program Santai Siang Pro 2 RRI Palembang edisi UMKM, Selasa, 22 September 2026. Ia menuturkan, langkah awal pengembangan produk dilakukan bersama suaminya melalui serangkaian percobaan untuk menemukan resep yang sesuai dengan selera konsumen.

Dari proses eksperimen tersebut, Pokat Kocok Ama Uli terus disempurnakan dengan menekankan konsistensi rasa serta kualitas bahan baku. Yuli menilai, menjalankan usaha tidak semata-mata berorientasi pada keuntungan, tetapi juga menuntut keberanian untuk mencoba hal baru dan konsisten dalam menjalankan prosesnya.

“Berdagang itu bukan hanya soal profit, tetapi bagaimana kita konsisten dan berani mencoba inovasi produk,” ujarnya.

Selain berbagi perjalanan usaha, Yuli juga menyampaikan tips memilih alpukat yang dinilai berkualitas. Menurutnya, warna kulit yang menghitam tidak selalu menandakan alpukat sudah matang atau memiliki kualitas terbaik. Ia menyarankan memilih alpukat dengan kulit yang mulus dan berwarna hijau gelap untuk mendapatkan buah dengan kualitas baik.

Yuli juga mengingatkan pelaku usaha pemula agar memahami jenis alpukat yang akan digunakan, termasuk varietas seperti Siger dan Pangeran, sebelum menentukan bahan baku. “Jangan hanya melihat alpukat dari warna kulitnya, karena kulit hitam belum tentu menunjukkan buah sudah matang dengan kualitas yang bagus,” katanya.

Dalam pengembangan bisnisnya, Yuli mengaku memperoleh dukungan melalui keterlibatannya sebagai mitra binaan Rumah BUMN PT Pusri Palembang. Ia menyebut pembinaan tersebut tidak hanya membantu dari sisi permodalan, tetapi juga memperluas jaringan dan menambah pengetahuan dalam menjalankan usaha.

Kesempatan mengikuti berbagai expo dan bazar kuliner menjadi salah satu manfaat yang dirasakannya untuk memperkenalkan produk ke pasar yang lebih luas. Menurut Yuli, kegiatan semacam itu juga memberi pengalaman bagi pelaku UMKM dalam membangun jejaring serta meningkatkan profesionalisme pengelolaan usaha.

“Manfaat menjadi mitra binaan bukan hanya bantuan modal, tetapi juga jaringan, ilmu bisnis, serta kesempatan mengikuti expo dan bazar,” ungkapnya.

Yuli berharap lebih banyak pelaku UMKM memanfaatkan ruang pembinaan dan jejaring yang tersedia untuk mengembangkan usaha. Ia menilai kolaborasi antara pelaku usaha dan berbagai pihak dapat membuka peluang baru sekaligus membantu UMKM menghadapi tantangan bisnis.