Dubai selama ini identik dengan gedung pencakar langit, pusat perbelanjaan mewah, dan lanskap gurun. Namun dalam beberapa tahun terakhir, kota terbesar di Uni Emirat Arab (UEA) itu juga kian diperhitungkan sebagai destinasi gastronomi dunia.
Keberagaman kuliner Dubai tak lepas dari statusnya sebagai rumah bagi lebih dari 200 kewarganegaraan. Ragam pengaruh tersebut menghadirkan pilihan rasa dari berbagai belahan dunia, mulai dari kedai sederhana hingga restoran berbintang Michelin. Di tengah arus sajian internasional, Dubai tetap menjaga kuliner khas Emirat yang diwariskan lintas generasi—menjadikan wisata makan sebagai cara lain untuk memahami sejarah dan keragaman budayanya.
Al Satwa: titik awal berburu street food
Perjalanan kuliner dapat dimulai dari Al Satwa, kawasan yang dikenal dengan deretan kedai lokal dan restoran sederhana. Salah satu yang banyak dicari adalah Karak Chai, teh susu berbumbu rempah yang terinspirasi dari tradisi India. Perpaduan kapulaga, kayu manis, jahe, dan saffron menghadirkan rasa hangat yang populer dinikmati pagi maupun malam hari. Minuman ini disebut bisa didapat dengan harga terjangkau, tak sampai 10 AED atau sekitar Rp 50.000 per gelas.
Masih di Al Satwa, wisatawan juga dapat menemukan beragam pilihan makanan India, Pakistan, Lebanon, serta Timur Tengah dengan harga relatif ramah di kantong, sehingga kawasan ini kerap menjadi destinasi awal bagi pencinta street food.
Al Seef: nuansa Dubai lama bertemu modern
Dari Al Satwa, rute dapat berlanjut ke Al Seef di tepi Dubai Creek. Kawasan ini memadukan suasana Dubai lama dan sentuhan modern, sekaligus menjadi tempat yang tepat untuk mencicipi makanan khas Emirat.
Salah satu camilan yang mudah ditemukan adalah Luqaimat, bola-bola adonan goreng dengan tekstur renyah di luar dan lembut di dalam. Luqaimat biasanya disiram sirup kurma atau madu serta ditaburi wijen. Hidangan ini disebut tersedia di Al Fanar Restaurant & Café, Loqa Desserts, dan restoran tradisional lain dengan kisaran harga 12–30 AED atau sekitar Rp 50.000–Rp 150.000.
Untuk makan siang, Al Seef juga dikenal sebagai lokasi menikmati Machboos, hidangan utama khas Emirat yang sekilas menyerupai nasi biryani, namun memiliki karakter rasa berbeda karena penggunaan rempah khas Teluk Arab. Nasi dimasak bersama ayam, kambing, atau seafood sehingga menghasilkan aroma yang kaya. Machboos disebut dapat ditemukan di sejumlah restoran, misalnya Al Fanar Restaurant & Café, dengan harga sekitar 35–80 AED atau Rp 171.000–Rp 392.000.
Setelah makan, wisatawan dapat menyeberangi Dubai Creek menggunakan abra menuju Old Souk dan Spice Souk. Perjalanan singkat dengan perahu tradisional ini menjadi pengalaman ikonik untuk menikmati suasana Old Dubai dari sudut pandang berbeda.
Deira: hidangan tradisional Arab di kawasan tertua
Untuk suasana yang lebih tradisional, Deira kerap menjadi pilihan berikutnya. Selain dikenal lewat Gold Souk dan Spice Souk, kawasan tertua di Dubai ini juga menawarkan ragam hidangan khas Arab.
Salah satunya Harees, makanan berbahan gandum dan daging yang dimasak perlahan selama berjam-jam hingga bertekstur lembut menyerupai bubur gurih. Hidangan yang identik dengan Ramadhan dan perayaan besar ini disebut dapat dinikmati di restoran khas Emirat dengan harga sekitar 20–50 AED atau Rp 98.000–Rp 245.000.
Di Deira, wisatawan juga dapat mencoba Balaleet, menu sarapan khas Emirat berupa bihun manis berbumbu kapulaga, kayu manis, dan saffron, disajikan bersama telur dadar tipis. Perpaduan manis-gurih ini disebut dibanderol sekitar 20–40 AED atau Rp 98.000–Rp 196.000.
Karama: eksplorasi kuliner lintas negara
Bagi yang ingin merasakan sisi kota yang lebih dinamis, Karama menawarkan perpaduan kuliner lokal dan internasional, pusat belanja dengan harga terjangkau, serta suasana jalanan yang hidup. Berbagai restoran India, Pakistan, Filipina, Nepal, dan Timur Tengah berdiri berdampingan dengan kedai-kedai lokal, mencerminkan keberagaman budaya yang tumbuh di Dubai.
Beberapa restoran yang disebut layak dicoba di kawasan ini antara lain Zam Zam Mandi Restaurant, Student Biryani–Karama, Jaffer Bhai's Al Karama–The Biryani King of Mumbai, serta Damyati Restaurant. Selain berburu makanan, berjalan kaki di area Karama juga menjadi cara untuk menikmati atmosfer kawasan, termasuk deretan mural di sekitar 18B Street dan gang di belakang Karama Centre.
Pengalaman Michelin yang kian mudah diakses
Di luar kuliner tradisional, Dubai juga menjadi rumah bagi sejumlah restoran berbintang Michelin. Pengalaman bersantap di restoran kelas dunia disebut semakin mudah dijangkau karena banyak tempat menawarkan menu makan siang atau tasting menu dengan harga lebih terjangkau.
Di antaranya Trèsind Studio, restoran India pertama yang meraih tiga bintang Michelin. Pilihan lain adalah Orfali Bros Bistro yang menyajikan interpretasi modern cita rasa Timur Tengah, 11 Woodfire yang dikenal dengan teknik memasak menggunakan api terbuka, serta Row on 45 yang menghadirkan pengalaman bersantap lewat rangkaian menu degustation yang dirancang langsung oleh sang koki.
Opsi masakan Indonesia dan waktu berkunjung
Di tengah keberagaman tersebut, wisatawan Indonesia juga disebut dapat menemukan masakan Nusantara melalui House of Indonesia yang menyajikan menu seperti rendang hingga sate.
Bagi yang ingin pengalaman kuliner premium dengan nilai lebih menarik, musim panas disebut sebagai waktu yang tepat untuk berkunjung karena pada periode itu biasanya berlangsung berbagai program promosi restoran, sehingga peluang mencicipi restoran terbaik dengan harga lebih bersahabat menjadi lebih besar.
Pada akhirnya, menjelajahi kuliner menjadi salah satu cara untuk mengenal Dubai: dari secangkir Karak Chai di kedai sederhana, mencicipi Machboos di kawasan bersejarah, hingga fine dining di restoran berbintang Michelin. Setiap kawasan menawarkan pengalaman berbeda yang memperlihatkan bagaimana Dubai menyatukan beragam budaya lewat cita rasa.