Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan penguatan program gizi di sekolah melalui pendekatan “Sekolah yang Mendorong Kesehatan”, dengan menekankan bahwa nutrisi yang tepat berperan penting bagi perkembangan fisik, mental, dan kemampuan belajar anak. Rekomendasi ini disampaikan dalam laporan WHO yang dipresentasikan pada sebuah konferensi pada Mei 2026.
Menurut WHO, sekolah merupakan platform penting untuk mempromosikan perubahan perilaku gizi serta membangun gaya hidup sehat pada anak-anak dan remaja, mengingat kelompok usia ini menghabiskan sebagian besar waktunya di lingkungan sekolah.
Di Vietnam, WHO menyoroti adanya beban gizi ganda, yakni kekurangan gizi yang masih terjadi bersamaan dengan meningkatnya kelebihan berat badan dan obesitas. Dr. Pham Quynh Nga (MSc) dari WHO di Vietnam menyatakan bahwa nutrisi yang tepat adalah fondasi kesehatan, penting untuk perkembangan fisik dan mental serta pencegahan penyakit pada anak-anak, dan merupakan hak asasi manusia yang fundamental. Ia juga menilai anak yang kekurangan gizi atau tidak sehat akan kesulitan menerima pendidikan yang memadai, sehingga gizi sekolah berperan langsung dalam merespons krisis pendidikan global.
WHO menekankan bahwa anak yang bergizi baik cenderung lebih fokus, terlibat dalam pembelajaran, lebih rajin, dan memiliki capaian akademik yang lebih baik. Dalam jangka panjang, populasi yang bergizi baik dan berpendidikan tinggi dipandang sebagai fondasi pertumbuhan ekonomi.
Data Survei Gizi Nasional dari Institut Gizi Nasional menunjukkan, pada 2010 angka kekurangan berat badan pada anak usia 5–10 tahun mencapai 24,2%, stunting pada usia 5–19 tahun sebesar 23,4%, sementara kelebihan berat badan dan obesitas pada usia 5–19 tahun berada di angka 8,5%. Pada 2020, kekurangan berat badan turun menjadi 12,2% dan stunting menjadi 14,8%, namun kelebihan berat badan dan obesitas meningkat menjadi 19%.
Tren peningkatan kelebihan berat badan dan obesitas juga terlihat pada anak di bawah usia 5 tahun. Angkanya naik dari 0,6% pada 2000 menjadi 7,4% pada 2019, dengan prevalensi di wilayah perkotaan lebih tinggi dibanding pedesaan.
WHO turut memaparkan sejumlah faktor risiko terkait gizi dan kesehatan sekolah di kalangan remaja Vietnam. Pada 2019, proporsi siswa yang kelebihan berat badan tercatat 10,62% dan obesitas 1,85%. Dari sisi konsumsi pangan, 33,96% siswa mengonsumsi minuman ringan manis lebih dari sekali sehari, sedangkan 17,09% mengonsumsi makanan cepat saji lebih dari tiga hari per minggu.
Terkait aktivitas fisik, hanya 24,1% remaja yang berolahraga sedikitnya 60 menit per hari selama lima hari atau lebih dalam sepekan. Sebanyak 40,72% tidak berjalan kaki atau bersepeda saat berangkat dan pulang sekolah, sementara 43,07% menghabiskan setidaknya tiga jam per hari untuk aktivitas sedentari. Dari aspek kebersihan pribadi, pada 2019 terdapat 8,35% remaja yang tidak pernah atau jarang mencuci tangan sebelum makan, dan 12,07% tidak pernah atau jarang menggunakan sabun saat mencuci tangan.
WHO menilai sekolah merupakan lingkungan yang sesuai untuk menjalankan program gizi karena jangkauannya luas dan terstruktur. Program gizi sekolah dapat mencakup penyediaan makanan sekolah, suplementasi mikronutrien, layanan pemberantasan cacing, serta pendidikan gizi yang terintegrasi ke dalam kurikulum.
Menurut WHO, pendekatan menyeluruh di sekolah dapat meningkatkan pengetahuan tentang nutrisi, mendorong gaya hidup sehat, serta meningkatkan konsumsi makanan dan minuman yang lebih sehat seperti buah, sayur, dan camilan sehat.
WHO juga menekankan peran sekolah dan masyarakat dalam mempromosikan pola makan berkelanjutan, termasuk mendorong konsumsi makanan tradisional yang ditanam secara lokal dan mendukung perekonomian setempat.
Dalam pedomannya, WHO merekomendasikan penciptaan lingkungan makanan sehat di sekolah. Makanan dan minuman yang disediakan, disajikan, dijual, atau dikonsumsi di sekolah disebut harus aman dan berkontribusi pada pola makan sehat. WHO juga mendorong penyediaan air minum yang aman dan gratis di sekolah.
Organisasi tersebut menilai penyediaan makanan sekolah dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan konsumsi makanan dan minuman yang mendukung pola makan sehat. Makanan dan minuman dalam program gizi sekolah juga disarankan mengikuti standar gizi dari lembaga ilmiah yang kompeten, dengan mempertimbangkan konteks lokal seperti ketersediaan, harga, serta faktor sosial budaya.
WHO merekomendasikan penetapan dan penerapan standar atau aturan gizi guna meningkatkan ketersediaan dan konsumsi makanan sehat, sekaligus mengurangi makanan tidak sehat di lingkungan sekolah. WHO menyebut pola makan sehat perlu memenuhi empat prinsip inti, yakni kelengkapan, keseimbangan, moderasi, dan variasi.
Selain itu, WHO menyinggung intervensi psikologis untuk menyesuaikan lingkungan makanan di sekolah agar mendorong pilihan yang lebih sehat. Langkah yang disebut meliputi perubahan cara penyajian dan penempatan makanan, penyesuaian ukuran porsi, serta pemberian informasi nutrisi.
Dr. Pham Quynh Nga juga memperkenalkan delapan standar global untuk Sekolah dan Sistem Pendidikan yang Mendorong Kesehatan, mencakup kebijakan dan sumber daya pemerintah; kebijakan dan sumber daya sekolah; tata kelola dan kepemimpinan sekolah; kemitraan sekolah-masyarakat; kurikulum; lingkungan sosial-emosional; lingkungan fisik; serta layanan kesehatan sekolah.
Laporan WHO menekankan pentingnya pengembangan kebijakan nasional tentang kesehatan dan gizi sekolah, penerbitan standar makanan sekolah, pelatihan staf, serta peningkatan kerja sama dengan masyarakat dan petani setempat. WHO juga menyoroti peran kurikulum nutrisi berbasis bukti, pembangunan lingkungan sekolah yang inklusif, pemenuhan fasilitas yang memadai, penyediaan air minum gratis, serta layanan pemantauan pertumbuhan dan suplementasi mikronutrien.
Secara khusus, WHO menilai Vietnam perlu menerapkan intervensi untuk meningkatkan gizi sekolah melalui pendekatan Sekolah yang Mendorong Kesehatan dan menjalankan rekomendasi “terbaik” untuk membangun lingkungan makanan yang sehat. Rekomendasi tersebut mencakup penetapan standar nasional nutrisi sekolah, integrasi pendidikan gizi ke dalam kurikulum, serta penyusunan dan penegakan aturan terkait penjualan makanan, kantin sekolah, mesin penjual otomatis, dan titik penjualan lain di sekitar sekolah.
WHO juga merekomendasikan pelarangan iklan dan pemasaran makanan serta minuman tidak sehat kepada anak-anak, promosi konsumsi makanan lokal yang aman, sehat, dan beragam, serta penerapan label nutrisi di bagian depan kemasan.
Untuk memastikan efektivitas kebijakan, laporan itu menekankan perlunya memperkuat komitmen kebijakan, koordinasi lintas sektor, serta membangun mekanisme koordinasi yang efektif antara Kementerian Pendidikan dan Pelatihan, Kementerian Kesehatan, dan mitra pembangunan, dengan Kementerian Pendidikan dan Pelatihan sebagai titik fokus. WHO juga merekomendasikan pembangunan sistem pemantauan dan akuntabilitas yang efektif, termasuk serangkaian indikator, penilaian berkala, serta penyesuaian kebijakan berbasis bukti.

