MATARAM—Universitas Mataram (Unram) menyiapkan langkah strategis untuk mentransformasi kawasan Sembalun, Lombok Timur, menjadi pusat rantai pasok pangan lokal berbasis peternakan sekaligus destinasi wisata kuliner unggulan di Nusa Tenggara Barat (NTB).
Upaya tersebut dijalankan melalui Program Profesor Berdampak. Para guru besar Unram tengah menyusun Roadmap 2026–2029 yang dirancang untuk membangun ekosistem peternakan berkelanjutan terintegrasi dari hulu ke hilir, memperkuat identitas kuliner lokal, serta menekan kebocoran ekonomi (economic leakage) agar manfaat pariwisata lebih banyak dirasakan masyarakat setempat.
Ketua Tim Profesor Berdampak, Prof. Mohammad Hasil Tamzil, mengatakan Desa Sembalun Bumbung, Kecamatan Sembalun, Kabupaten Lombok Timur, dipilih sebagai titik sentral pelaksanaan program. Sentra tersebut diharapkan mampu menyuplai kebutuhan bahan baku pangan secara mandiri untuk kawasan Sembalun dan sekitarnya.
Menurut Prof. Hasil, sektor peternakan—khususnya unggas—memiliki potensi besar untuk menjadi penopang pangan bagi aktivitas pariwisata di Sembalun. Ia menilai integrasi peternakan dan kuliner dapat memperkuat rantai nilai lokal sehingga belanja wisatawan dapat berputar di masyarakat, tidak keluar daerah karena ketergantungan bahan baku dari luar.
Meski demikian, ia mengakui masih terdapat sejumlah tantangan di lapangan. Di antaranya kapasitas produksi bahan pangan ternak yang masih rendah, terutama daging ayam kampung untuk memenuhi kebutuhan skala wisata, serta belum terbangunnya kemitraan rantai pasok yang solid antara peternak dan pelaku usaha kuliner.
Tantangan lain meliputi terbatasnya variasi produk olahan daging—baik ayam, sapi, kambing, maupun domba—serta kapasitas manajemen usaha dan pemasaran berbasis sumber daya lokal yang dinilai masih rendah.
Untuk menjawab persoalan tersebut, program difokuskan pada prinsip kolaboratif, partisipatif, ramah lingkungan, berbasis teknologi, dan inklusif. Prof. Hasil menyatakan optimistis pendampingan inovatif dapat mendorong lahirnya ikon kuliner baru yang memperkuat daya tarik pariwisata di kawasan kaki Gunung Rinjani.
Ia menambahkan, ke depan pelaku kuliner diharapkan dapat memperoleh bahan baku berkualitas dari sentra lokal dengan harga yang kompetitif. Program juga menargetkan lahirnya menu khas beridentitas kuat, seperti Ayam Bakar Sembalun, Pelecing Sembalun, hingga Pelalah Sembalun.
Sementara itu, anggota Tim Profesor Berdampak, Prof. Dr. Hailuddin, M.P., menegaskan kehadiran akademisi Unram tidak berfokus pada bantuan fisik atau dana hibah. Peran utama tim, menurutnya, adalah alih pengetahuan, asistensi, serta pendampingan teknologi.
Ia menyebut bantuan fisik dan bibit telah disiapkan pemerintah daerah melalui Program Desa Berdaya. Karena lokasi kegiatan merupakan Desa Berdaya Tematik dari Pemerintah Provinsi NTB, sinergi antara pendampingan akademisi dan intervensi kebijakan pemerintah dinilai menjadi kunci agar program berjalan efektif tanpa tumpang tindih.
Prof. Hailuddin juga menjelaskan konsep Desa Berdaya Tematik berbeda dengan Desa Berdaya Transformatif yang difokuskan pada pengentasan desa tertinggal. Ia meyakini kolaborasi antara kebijakan pemerintah daerah dan pendampingan ilmiah dari Unram dapat mempercepat kemandirian ekonomi warga Sembalun secara berkelanjutan.