BERITA TERKINI
UMKM Kuliner Hadirkan Sushi dengan Cita Rasa Indonesia dari Lapak Pinggir Pasar

UMKM Kuliner Hadirkan Sushi dengan Cita Rasa Indonesia dari Lapak Pinggir Pasar

Deretan sushi tertata rapi di atas meja kayu panjang di pinggir pasar. Warna-warninya mencolok: ada yang merah menyala karena balutan sambal, cokelat keemasan dari taburan abon, hingga varian dengan lapisan crispy yang menggantikan tekstur ikan mentah. Alih-alih aroma nori dan cuka beras yang kuat seperti sushi pada umumnya, lapak itu justru dipenuhi wangi sambal dan mayones—rasa yang lebih akrab bagi banyak orang Indonesia.

Di balik lapak sederhana tersebut, seorang perempuan berusia 30 tahun menjalankan usahanya yang diberi nama “Juragan Sushi”. Ia memandang sushi bukan semata makanan Jepang yang harus disajikan autentik, melainkan ruang untuk menyesuaikan selera dengan lidah lokal.

Gagasan itu berangkat dari pengamatan pemilik usaha terhadap tren kuliner Jepang yang populer di kalangan anak muda. Menurutnya, tidak semua orang menyukai sushi otentik. Bahan mentah, rasa cuka yang tajam, serta tampilan yang terasa asing membuat sebagian calon konsumen ragu untuk mencoba.

Dari situ, ia mulai bereksperimen untuk membuat sushi yang “berbicara” dengan bahasa rasa yang lebih dikenal: pedas, gurih, dan familiar. Muncullah sejumlah menu seperti sushi sambal, sushi abon, sushi ayam cincang pedas, hingga mentai pedas. Ikan mentah diganti dengan ayam crispy atau olahan matang seperti nugget, sosis, dan bakso, lalu dipadukan dengan saus pedas dan mayones agar lebih mudah diterima.

Proses pengembangan produk tidak berlangsung instan. Pemilik usaha menyebut ia melalui banyak percobaan, mulai dari memilih bahan, mengatur tingkat kepedasan, menentukan topping, hingga memikirkan tampilan agar tetap menarik secara visual. Media sosial juga dimanfaatkan untuk memperkenalkan produk mengikuti tren promosi digital yang umum di bisnis kuliner.

Di lapak pinggir pasar itu, konsep penjualan dibuat sederhana. Tanpa etalase atau tempat makan khusus, konsumen datang memilih sushi yang tersedia di meja, lalu pesanan dikemas menggunakan mika untuk dibawa pulang. Model ini membuat produk mudah dijangkau oleh berbagai kalangan.

Salah satu pelanggan adalah mahasiswa berusia 21 tahun yang mengaku rutin membeli dua hingga tiga kali dalam sebulan. Baginya, sushi lokal menjadi alternatif makanan kekinian dengan harga yang sesuai kantong mahasiswa, serta rasa yang tidak terasa asing. Ia juga menyukai kebebasan memilih varian yang diinginkan dan membawanya pulang untuk dinikmati kapan saja.

Pelanggan lainnya, seorang ibu rumah tangga berusia 50 tahun, menyampaikan alasan serupa. Ia mengaku lebih menyukai sushi yang disesuaikan dengan cita rasa Indonesia karena terasa lebih familiar dibanding sushi dengan rasa asli yang menurutnya asing. Kemudahan memilih langsung dari pilihan yang tersedia dan membawa pulang pesanan juga menjadi bagian dari kenyamanan saat membeli.

Dua cerita konsumen dari generasi berbeda itu menunjukkan bahwa sushi dengan sentuhan lokal tidak terbatas pada satu kelompok usia atau gaya hidup. Dengan lapak sederhana di pinggir pasar, mahasiswa dapat menemukan makanan yang terjangkau, sementara konsumen yang lebih tua mendapatkan rasa yang lebih akrab.

Faktor harga turut menjadi alasan produk ini mudah diterima. Dibanding sushi di restoran besar, sushi versi lokal tersebut diposisikan lebih terjangkau. Bagi mereka yang penasaran namun masih ragu dengan sushi otentik, pilihan ini menjadi pintu masuk yang dinilai lebih aman: rasa familiar, harga ramah, dan tampilan tetap menggugah selera. Respons konsumen pun cenderung positif, terutama karena rasa dianggap cocok dengan lidah lokal dan produk terasa lebih mudah dinikmati, termasuk bagi yang baru pertama kali mencoba sushi.