Integrasi antara bisnis properti dan industri makanan dan minuman (Food & Beverage/F&B) dinilai kian menunjukkan prospek pasar yang berkembang. Kehadiran pusat kuliner, kafe, maupun area ritel makanan di kawasan hunian atau komersial disebut dapat menggerakkan aktivitas ruang publik dari pagi hingga malam.
Fasilitas F&B tidak hanya berperan sebagai pelengkap, tetapi juga dinilai mampu meningkatkan daya tarik investasi, mendorong tingkat okupansi, serta menjaga stabilitas nilai aset properti melalui arus kunjungan harian yang lebih terjaga.
Namun, model integrasi tersebut tetap menghadapi tantangan operasional. Pengembang dan pengelola aset perlu menyiapkan investasi awal yang relatif tinggi, antara lain untuk penyesuaian tata ruang, instalasi sistem sanitasi, hingga infrastruktur dapur khusus. Di sisi lain, pengelolaan perizinan kawasan, pengawasan standar kebersihan, dan ketersediaan lahan parkir di area padat juga menjadi kendala teknis yang perlu diantisipasi agar operasional kawasan berjalan optimal.
Salah satu contoh penerapan konsep ini terlihat pada proyek One Global Resorts Green Square di Sydney, Australia, yang memperkenalkan konsep hiburan dan kuliner terpadu bernama One Muse. Fasilitas ini memadukan kafe, bar, galeri seni, dan ruang kerja, dengan tujuan memperluas fungsi kawasan hospitality menjadi ruang interaksi publik.
Proyek tersebut diinisiasi Founder dan CEO One Global Resorts, Iwan Sunito, yang terinspirasi dari perjalanan putri keduanya, Hannah Sunito. Hannah, yang memiliki kebutuhan belajar khusus dan mengembangkan potensinya di bidang seni, kini memegang peran sebagai pimpinan operasional One Muse untuk mengarahkan misi sosial sekaligus pengembangan usaha.
“Visi utama Sunito Foundation sebenarnya sederhana: setiap orang berhak dilihat berdasarkan apa yang dapat mereka capai, bukan dari hal-hal yang menjadi tantangan bagi mereka,” ujar Iwan Sunito.
Iwan menambahkan, One Muse berangkat dari pengalaman Hannah, tetapi tidak dimaksudkan hanya berfokus pada satu sosok. “One Muse memang berawal dari Hannah, tetapi kami tidak ingin One Muse hanya tentang Hannah,” katanya. Menurut Iwan, perjalanan tersebut mendorong gagasan membangun platform yang dapat membuka peluang bagi lebih banyak anak, generasi muda, dan orang dewasa dengan kebutuhan belajar khusus.
Ke depan, Sunito Foundation juga merencanakan perluasan area publik melalui proyek One Muse Art Street di sekitar Green Square Library. Mengadaptasi konsep alun-alun dan kawasan seni terbuka di Eropa, ruang ini dirancang untuk pameran luar ruang, kegiatan lokakarya, serta area makan terbuka (outdoor dining).
Saat ini, pengelola disebut tengah berkoordinasi dengan Pemerintah Kota Sydney untuk menyelaraskan rencana pemanfaatan ruang publik tersebut dengan regulasi perkotaan yang berlaku.