Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) memegang peran penting dalam perekonomian Indonesia, termasuk di sektor kuliner yang kerap melahirkan inovasi produk. Di tengah modernisasi dan persaingan bisnis makanan yang semakin ketat, banyak pelaku UMKM dituntut terus beradaptasi agar tetap bertahan.
Di Padang, termasuk kawasan Lubuk Begalung, sejumlah UMKM kuliner terus tumbuh. Salah satunya “Risol Nagih”, usaha risol yang dirintis mahasiswi bernama Cici Kirani. Usaha ini bermula pada 2025 dari keinginan Cici untuk memiliki penghasilan tambahan agar tidak sepenuhnya bergantung pada orang tua, sekaligus membantu kebutuhan biaya kuliah.
Dengan modal terbatas Rp300.000, Cici memulai produksi dari rumah menggunakan peralatan seadanya. Pada tahap awal, ia menitipkan risol ke warung-warung terdekat serta memasarkan ke lingkungan sekitar, mulai dari tetangga hingga teman kampus.
“Awalnya saya hanya ingin mencoba untuk menambah penghasilan sendiri dan bisa bantu biaya kuliah, modalnya juga kecil, dan risol ini hanya saya titipkan di warung-warung terdekat, jadi benar-benar mulai dari yang sederhana,” kata Cici.
Perjalanan usaha tersebut tidak langsung mulus. Penjualan pada masa awal disebut belum tinggi, bahkan Cici mengaku pernah merugi karena produk tidak habis terjual. Selain itu, ia juga menghadapi persaingan ketat karena di sekitar tempat tinggalnya sudah ada pelaku usaha kuliner serupa yang lebih dulu dikenal masyarakat.
Meski sempat ragu, Cici memilih bertahan dengan mencari pembeda pada produknya. Salah satu langkah yang ia lakukan adalah menghadirkan variasi rasa. “Risol Nagih” tidak hanya menawarkan rasa klasik, tetapi juga varian yang lebih modern sesuai selera pasar, seperti coklat lumer, ayam sayur, beef mayo, serta bakso pedas.
Di sisi lain, Cici juga berupaya menjaga kualitas bahan baku agar rasa tetap konsisten dan produk higienis. Seiring waktu, usahanya disebut telah memiliki stan sendiri dan mulai memiliki pelanggan tetap.
“Alhamdulillah sekarang sudah ada pelanggan tetap, itu yang bikin saya semakin semangat untuk terus jalanin usaha ini,” ujarnya.
Meski demikian, tantangan masih ada. Persaingan kuliner yang terus meningkat, perubahan tren makanan, serta fluktuasi harga bahan baku menjadi hal yang harus dihadapi. Cici menyebut dirinya terus melakukan evaluasi dan berupaya meningkatkan kualitas usaha dari berbagai aspek.
Kisah “Risol Nagih” menggambarkan bagaimana usaha kecil yang dimulai dengan keterbatasan tetap berpeluang berkembang melalui ketekunan, kreativitas, dan kemauan belajar. Berangkat dari modal Rp300.000, usaha tersebut kini terus berjalan dan perlahan bertumbuh.
Ke depan, Cici berharap dapat memperbesar usahanya dan menambah variasi produk. Ia juga berharap pengalamannya dapat memotivasi anak muda lain untuk berani memulai usaha dari langkah kecil.
“Mulai saja dulu dari langkah kecil, semuanya tidak harus langsung besar, yang terpenting adalah konsisten dan mau terus belajar dan berusaha,” tutupnya.

